Berita

Cendekiawan Muslim Syed Muhammad Naquib Al-Attas Wafat

×

Cendekiawan Muslim Syed Muhammad Naquib Al-Attas Wafat

Sebarkan artikel ini

Urupedia.id- Dunia intelektual Islam berduka atas wafatnya cendekiawan Muslim terkemuka, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pada Senin (9/3).

Kabar duka tersebut segera menyebar di kalangan akademisi, ulama, dan pemerhati pemikiran Islam di berbagai negara.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas dikenal sebagai salah satu pemikir Muslim paling berpengaruh di era modern, khususnya dalam bidang filsafat pendidikan dan peradaban Islam.

Ia lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Indonesia, dari keluarga yang memiliki tradisi intelektual dan spiritual yang kuat.

Al-Attas menempuh pendidikan di sejumlah lembaga bergengsi, termasuk di Inggris dan Kanada.

Latar belakang pendidikan tersebut membentuk perspektif intelektualnya yang kritis terhadap dominasi paradigma Barat dalam sistem ilmu pengetahuan modern.

Salah satu gagasan paling terkenal dari Al-Attas adalah konsep “Islamisasi ilmu pengetahuan” (Islamization of Knowledge). Ia mengkritik sistem pendidikan modern yang dinilai telah memisahkan ilmu dari nilai-nilai spiritual dan moral.

Menurutnya, ilmu pengetahuan seharusnya dibangun di atas pandangan dunia Islam yang menempatkan wahyu, akal, dan adab sebagai fondasi utama.

Pemikiran tersebut dituangkan dalam berbagai karya yang menjadi rujukan penting dalam studi Islam kontemporer.

Di antara karyanya yang paling dikenal adalah Islam and Secularism (1978), The Concept of Education in Islam (1980), dan Prolegomena to the Metaphysics of Islam (1995).

Buku-buku tersebut membahas berbagai isu mulai dari epistemologi Islam, pendidikan, hingga kritik terhadap sekularisme modern.

Selain aktif menulis, Al-Attas juga dikenal sebagai pendiri International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur pada tahun 1987.

Lembaga ini menjadi pusat kajian peradaban Islam yang mempertemukan para sarjana dari berbagai negara untuk mengembangkan studi Islam yang lebih komprehensif dan berakar pada tradisi intelektual Islam.

Dalam gagasannya tentang pendidikan, Al-Attas menekankan pentingnya konsep adab sebagai inti dari proses pembelajaran.

Ia berpendapat bahwa krisis utama umat Islam bukan sekadar kekurangan ilmu, melainkan hilangnya adab dalam memahami dan menggunakan ilmu pengetahuan.

Pengaruh pemikiran Al-Attas meluas di berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Banyak akademisi dan lembaga pendidikan Islam menjadikan karya-karyanya sebagai rujukan dalam pengembangan filsafat pendidikan Islam dan studi peradaban.

Kabar wafatnya Al-Attas memunculkan berbagai ungkapan duka dari kalangan cendekiawan dan institusi pendidikan. Kepergiannya dinilai sebagai kehilangan besar bagi dunia intelektual Islam.

Meski demikian, warisan pemikirannya diyakini akan terus hidup melalui karya-karya yang ditinggalkannya.

Gagasan tentang adab, kritik terhadap sekularisme, serta konsep Islamisasi ilmu pengetahuan tetap menjadi kontribusi penting dalam diskursus pemikiran Islam modern.

Editor: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements