Berita

Komunitas Literasi UIN SATU (KOMET) Bedah Pemikiran Sufisme Madura dalam Acara “Ngabuburead”

×

Komunitas Literasi UIN SATU (KOMET) Bedah Pemikiran Sufisme Madura dalam Acara “Ngabuburead”

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi: Komet

TULUNGAGUNGUrupedia.id- Komunitas Literasi Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung menggelar diskusi literasi bertajuk “Ngabuburead” pada Kamis (5/3/2026).

Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara KOMET dan GPAN ini membedah buku karya Rusdi Mathari berjudul “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura”.

Acara yang berlangsung di Warunk Salman, Lesehan Timur tersebut dimulai pukul 15.30 WIB dan diikuti oleh mahasiswa serta pegiat literasi.

Diskusi ini menghadirkan Bella Nurjannah sebagai pembedah buku dan dipandu oleh N. Febri Ardiansyah selaku moderator.

Dalam pemaparannya, Bella Nurjannah menyoroti esensi pemikiran Rusdi Mathari yang mengangkat nilai-nilai sufisme melalui kisah-kisah sederhana masyarakat Madura.

Ia menjelaskan bahwa buku tersebut tidak hanya menawarkan cerita, tetapi juga refleksi tentang hubungan manusia dengan Tuhan serta hubungan antarsesama manusia yang dikenal dalam konsep hablum minallah dan hablum minannas.

Menurut Bella, tokoh Cak Dlahom yang menjadi figur utama dalam buku tersebut menghadirkan gambaran sosok sufi yang tidak selalu tampil dalam bentuk formal keagamaan, tetapi justru melalui laku hidup yang sederhana, jujur, dan penuh welas asih.

“Melalui karakter Cak Dlahom, buku ini mengajak pembaca untuk menanggalkan kesombongan intelektual dan spiritual. Kita sering merasa paling benar, padahal di mata Tuhan, ketulusan dan kemanusiaan justru menjadi ukuran utama,” ujarnya dalam sesi diskusi.

Ia juga menambahkan bahwa narasi-narasi dalam buku tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kesederhanaan bahasa yang digunakan oleh penulis membuat pesan sufistik dapat dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa.

Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif dari para peserta.

Sejumlah mahasiswa mengajukan pertanyaan seputar relevansi nilai-nilai sufisme dalam kehidupan generasi muda saat ini, terutama di tengah dinamika kehidupan digital dan budaya serba cepat.

Beberapa peserta juga menyoroti bagaimana tokoh Cak Dlahom dalam buku tersebut sering kali menunjukkan kebijaksanaan melalui sikap yang tampak sederhana namun sarat makna.

Hal ini, menurut mereka, menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan tidak selalu lahir dari gelar akademik atau kepintaran intelektual semata.

Moderator acara, N. Febri Ardiansyah, menyampaikan bahwa kegiatan literasi seperti ini diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa, khususnya di bulan Ramadan.

Menurutnya, ngabuburit tidak selalu harus diisi dengan kegiatan hiburan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkaya wawasan dan memperdalam pemahaman spiritual.

“Melalui forum diskusi buku seperti ini, mahasiswa tidak hanya membaca, tetapi juga belajar menafsirkan gagasan, berdialog, dan mengaitkan nilai-nilai yang ada dalam buku dengan realitas kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa kegiatan literasi memiliki peran penting dalam membangun tradisi berpikir kritis di lingkungan kampus.

Diskusi buku dinilai mampu menjadi sarana untuk mempertemukan gagasan, memperluas perspektif, serta membangun budaya akademik yang lebih hidup.

Kegiatan “Ngabuburead” tersebut ditutup dengan sesi ramah tamah yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama antara anggota komunitas dan para peserta diskusi.

Suasana kebersamaan terlihat hangat, sekaligus menjadi momentum mempererat jaringan antar pegiat literasi di lingkungan kampus.

Melalui agenda ini, Komunitas Literasi UIN SATU berharap tradisi membaca dan berdiskusi dapat terus berkembang, tidak hanya sebagai kegiatan akademik, tetapi juga sebagai ruang bertumbuhnya kesadaran intelektual dan spiritual mahasiswa.

Oleh: David Yogi Prastiawan

Editor: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements