Berita

Membaca Luka Tanah Air: Ekologi Sastra dalam Kepungan Krisis Iklim Kontemporer

×

Membaca Luka Tanah Air: Ekologi Sastra dalam Kepungan Krisis Iklim Kontemporer

Sebarkan artikel ini

SAMARINDA, Kamis (7/5/2026) — Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia semakin akrab dengan berbagai kabar tentang krisis lingkungan.

Mulai dari suhu ekstrem yang melanda kota-kota besar, kabut asap yang kembali muncul di Sumatera, hingga wilayah pesisir yang perlahan tenggelam akibat naiknya permukaan laut.

Fenomena ini tidak hanya menjadi perhatian para ilmuwan, tetapi juga memantik refleksi dari kalangan akademisi, termasuk dosen sastra.

Agra Liz Tantri, dosen Sastra Inggris Universitas Mulawarman, saat diwawancarai pada Kamis (7/5/2026), menilai bahwa kondisi ini seharusnya menggugah kesadaran kolektif, termasuk dalam dunia sastra.

“Sebagai pengajar sastra, saya sering bertanya, di mana posisi imajinasi kita ketika realitas alam sedang mengalami krisis yang begitu nyata,” ujarnya.

Menurut Agra, sastra Indonesia saat ini mulai menunjukkan perubahan arah. Jika sebelumnya karya bertema alam cenderung menonjolkan keindahan, kini banyak penulis yang menghadirkan realitas yang lebih keras.

Alam tidak lagi digambarkan sebagai latar romantis, tetapi sebagai entitas yang terluka.

Ia mencontohkan karya-karya penulis kontemporer yang mulai mengangkat isu lingkungan secara kritis. Dalam karya tersebut, terlihat hubungan antara kekuasaan ekonomi, perubahan budaya, dan kerusakan ekosistem.

“Sastra hari ini lebih berani. Ia tidak hanya bercerita, tetapi juga menggugat,” kata Agra dalam keterangan yang disampaikan pada Kamis siang.

Dalam perkembangan ini, alam menjadi tokoh utama yang mengalami penderitaan. Cerita-cerita modern sering menggambarkan dampak eksploitasi, seperti pertambangan atau proyek pembangunan yang mengorbankan lingkungan. Hal ini, menurut Agra, mencerminkan kondisi nyata di Indonesia.

“Kerusakan lingkungan bukan sekadar kesalahan teknis. Ini adalah hasil dari cara pandang manusia terhadap alam yang keliru,” jelasnya.

Lebih jauh, Agra menilai bahwa ekokritik atau kajian sastra berbasis lingkungan memberikan perspektif baru dalam memahami krisis ini.

Melalui sastra, pembaca diajak melihat dampak kerusakan secara lebih manusiawi. Tidak hanya angka atau data, tetapi juga pengalaman hidup.

“Berita memberi kita fakta, tapi sastra memberi kita rasa. Kita bisa memahami bagaimana rasanya kehilangan rumah, kehilangan udara bersih, atau kehilangan masa depan,” tuturnya saat diwawancarai, Kamis (7/5/2026).

Ia juga menyoroti bahwa kelompok paling terdampak dari krisis lingkungan adalah masyarakat rentan, seperti masyarakat adat, petani kecil, dan nelayan tradisional.

Dalam banyak karya sastra, kelompok ini mulai mendapat ruang untuk bersuara.

Menurut Agra, sastra kini menjadi bentuk perlawanan yang halus namun kuat. Penulis tidak hanya menggambarkan keindahan alam, tetapi juga ketidakadilan yang terjadi di dalamnya.

“Ini bukan hanya soal lingkungan. Ini soal kemanusiaan,” tegasnya.

Sebagai pendidik, Agra melihat pentingnya peran sastra dalam membentuk kesadaran generasi muda. Ia menilai bahwa literasi ekologi perlu diperkuat, terutama bagi generasi Z dan Alpha.

“Kita tidak bisa berharap perubahan jika cara berpikir kita masih melihat alam sebagai sumber yang tak terbatas,” ujarnya dalam wawancara tersebut.

Melalui karya sastra, generasi muda diajak untuk lebih peka terhadap lingkungan. Mereka tidak hanya belajar memahami teks, tetapi juga memahami hubungan manusia dengan alam.

Agra juga mengajak masyarakat untuk mulai melakukan refleksi. Ia menilai bahwa sastra bisa menjadi jalan untuk membangun kembali hubungan yang lebih sehat dengan lingkungan.

“Sastra memberi kita kesempatan untuk berhenti sejenak, mendengar, dan memahami kembali apa yang sedang terjadi pada bumi kita,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Agra menegaskan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini juga merupakan krisis cara berpikir.

Narasi tentang eksploitasi masih mendominasi, sementara narasi pelestarian belum cukup kuat.

“Jika kita terus membiarkan itu, masa depan kita bisa menjadi sangat suram. Tapi perubahan bisa dimulai dari cara kita melihat dan memahami dunia,” pungkasnya pada akhir wawancara, Kamis (7/5/2026).

Oleh: Agra Liz Tantri, Dosen Sastra Inggris Universitas Mulawarman

Editor: David Yogi Prastiawan

Advertisements