Berita

Bahasa adalah Senjata, Strategi adalah Kuncinya

×

Bahasa adalah Senjata, Strategi adalah Kuncinya

Sebarkan artikel ini
Foto Kader PMII Rayon Avicenna Tulungagung

Urupedia-Sore itu, Kamis, 12 Maret 2026, di sebuah ruang sederhana Rayon Bahasa Avicenna, para kader PMII berkumpul dalam sebuah majelis kecil bernama bedah buku. Buku yang dibicarakan bukan buku sembarangan, melainkan The Art of War karya seorang jenderal tua dari Tiongkok, Sun Tzu. Sebuah buku tentang perang yang anehnya sering dibaca oleh orang-orang yang ingin menghindari perang.

Para kader datang dengan wajah yang tidak sepenuhnya segar karena bulan Ramadan sedang berjalan. Perut sebagian dari mereka mungkin sedang berdialog dengan waktu berbuka. Namun anehnya, diskusi tetap hidup. Sesekali terdengar tawa kecil dan senda gurau ringan seolah ingin mengatakan bahwa puasa tidak pernah benar-benar menghalangi orang untuk berpikir. Sinar matahari sore memang agak terik, tetapi semangat diskusi para sahabat rupanya lebih panas daripada cuaca hari itu.

Pemateri dalam kegiatan ini adalah M. Ahsanur Rizqi, Ketua Cabang PMII Tulungagung. Beliau membicarakan buku itu tidak seperti seorang jenderal memeriksa pasukan, melainkan seperti seorang sahabat lama yang sedang bercerita. Ia mengurai gagasan Sun Tzu tentang strategi, tentang bagaimana kemenangan sering kali dimulai jauh sebelum pertempuran dimulai. Menurutnya, perang bukan hanya soal kekuatan, melainkan kecerdikan membaca keadaan. Kapan maju, kapan menunggu, dan kapan lebih baik tidak bertempur sama sekali.

Lebih jauh lagi, beliau menyinggung bahwa gagasan dalam The Art of War tidak harus selalu dibawa ke medan perang yang sesungguhnya. Dalam kehidupan sehari-hari manusia juga memiliki pertempuran masing-masing. Ada pertempuran dalam organisasi, dalam politik, bahkan dalam dirinya sendiri. Di situlah manusia belajar memerangi ego, menundukkan emosi, serta menyusun strategi hidup agar tidak kalah oleh kelemahannya sendiri.

Dalam sesi kesan dan pesan, Erika menyampaikan bahwa kajian ini terasa sangat menarik dan bermanfaat. Ia terutama menyoroti pembahasan tentang strategi dan rencana seorang pemimpin dalam memahami kondisi lapangan, kondisi sosial, serta moral anggota. Baginya, seorang pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi juga harus mampu membaca keadaan. Pesannya kepada para sahabat sederhana saja, perkuat literasi. Sebab dari literasilah logika dan analisis seseorang ditempa.

Hal yang hampir senada disampaikan oleh Alkursani. Ia merasa kegiatan ini memberikan tambahan wawasan bagi para pemimpin organisasi, terutama dalam melihat kekurangan diri sendiri dalam menyusun strategi bagi kader-kadernya. Menurutnya, dalam setiap rencana selalu ada kemungkinan gagal. Trial and error adalah bagian dari perjalanan. Namun justru dari situlah manusia belajar mengevaluasi diri dan bertumbuh menjadi lebih baik.

Sementara itu, pemateri sendiri, M. Ahsanur Rizqi, menyampaikan kesan yang cukup hangat. Ia mengatakan bahwa kajian seperti ini membuatnya bernostalgia dengan masa-masa ketika masih aktif di rayon. Dulu, katanya, ia juga pernah mengkaji buku The Art of War bersama sahabat-sahabatnya. Bagi beliau, forum diskusi seperti ini penting untuk membangun habitat intelektual kader. Pesannya pun sederhana namun tajam. Jangan malas membaca buku. Kalau masih malas membaca buku, dekatilah orang yang rajin membaca buku.

Ketua Rayon Bahasa Avicenna, Aan, juga menyampaikan rasa bangganya terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia melihat sendiri bagaimana para sahabat tetap hadir dan berdiskusi dengan antusias, meskipun matahari sore hari itu cukup menyengat. Baginya, Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan menuntut ilmu. Ia berharap kajian ini tidak berhenti pada forum diskusi semata, tetapi mampu menumbuhkan minat baca kader serta meneruskan nilai-nilai pergerakan agar gagasan yang dibahas dapat terus hidup dalam kegiatan-kegiatan berikutnya.

Sebagai penutup, Anna, yang bertugas sebagai moderator dalam kegiatan ini, menyampaikan kesannya dengan gaya ringan. Menurutnya, diskusi tersebut berlangsung seru, menarik, dan sangat menambah pengetahuan. Ia berharap ilmu yang diperoleh, meskipun mungkin tidak banyak, tetap dapat memberikan manfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari para sahabat.

Begitulah sebuah sore Ramadan di Rayon Bahasa Avicenna berlalu. Dengan buku tua tentang perang, dengan para kader yang sedang belajar tentang strategi hidup, dan dengan keyakinan bahwa bahasa dapat menjadi senjata, sementara strategi adalah kunci untuk mengarahkannya. 

Oleh: Asa Rizky

Editor: Al Fatih

Advertisements