
Urupedia.id- Ada kegelisahan yang semakin sering muncul di kalangan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kegelisahan itu bukan karena kader semakin sedikit atau organisasi semakin kecil.
Justru sebaliknya. PMII tumbuh besar hampir di seluruh penjuru negeri. Bendera organisasi masih berkibar di kampus-kampus. Forum kaderisasi masih berlangsung. Kepengurusan terus berganti.
Namun ada pertanyaan yang terasa semakin relevan untuk diajukan: apakah PMII masih bergerak dengan semangat yang sama seperti ketika pertama kali didirikan?
Banyak kader mengenal para pendiri PMII dari materi kaderisasi. Nama mereka disebut berulang-ulang.
Kisah kelahiran organisasi diceritakan dari generasi ke generasi.
Akan tetapi, semakin sedikit yang benar-benar memahami bagaimana para pendiri itu hidup, berpikir, bergerak, dan memperjuangkan gagasannya.
Akibatnya, sejarah perlahan berubah menjadi hafalan. Padahal sejarah seharusnya menjadi sumber inspirasi.
PMII lahir dari tangan-tangan anak muda yang tidak puas hanya menjadi penonton keadaan.
Mereka hidup dalam zaman yang penuh keterbatasan, tetapi memiliki keberanian untuk berpikir besar.
Mereka membaca, berdiskusi, menulis, berdebat, mengorganisir mahasiswa, sekaligus terlibat dalam pergulatan sosial dan kebangsaan.
Mereka tidak membangun PMII sebagai organisasi yang sibuk mengurus dirinya sendiri.
Mereka membangunnya sebagai alat perjuangan.
Karena itu, ada baiknya PMII hari ini berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri.
Masihkah kader PMII memiliki kegelisahan intelektual?
Masihkah diskusi menjadi kebutuhan, bukan sekadar agenda?
Masihkah membaca buku menjadi tradisi, bukan pengecualian?
Masihkah keberpihakan kepada rakyat menjadi orientasi gerakan?
Ataukah organisasi perlahan lebih sibuk mengurus posisi, jabatan, dan dinamika internalnya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terasa tajam. Namun organisasi yang sehat adalah organisasi yang berani bercermin.
Di banyak tempat, PMII masih terlihat ramai. Kegiatan berlangsung hampir setiap waktu.
Tetapi keramaian organisasi tidak selalu berarti hidupnya tradisi intelektual.
Banyak forum berjalan tanpa melahirkan gagasan. Banyak rapat berlangsung tanpa menghasilkan arah gerakan yang jelas.
Kita semakin mudah menemukan kader yang aktif dalam kepanitiaan, tetapi semakin sulit menemukan kader yang tekun membaca buku hingga larut malam. Kita semakin sering melihat dokumentasi kegiatan, tetapi semakin jarang menemukan tulisan-tulisan yang mampu mengguncang kesadaran publik.
Padahal dahulu PMII dikenal karena keberanian berpikir dan keberanian bersuara.
Di tengah berbagai persoalan bangsa—mulai dari kemiskinan, mahalnya pendidikan, pengangguran, kerusakan lingkungan, hingga ketimpangan sosial—kehadiran mahasiswa selalu dinanti. Bukan karena jumlahnya, melainkan karena gagasannya.
Sayangnya, di banyak kesempatan, PMII tampak lebih sibuk mengelola rutinitas dibandingkan membangun tradisi berpikir.
Karena itulah sudah waktunya PMII mulai memikirkan satu langkah penting yakni menyusun Kurikulum Ghiroh dan Gerakan Pendahulu PMII. Untuk membuat akselerasi baru dalam pergerakan dulu, kini, nanti.
Bukan untuk bernostalgia. Bukan pula untuk memuja masa lalu.
Kurikulum ini dibutuhkan agar kader mengenal para pendiri bukan hanya melalui nama dan foto, melainkan melalui jalan perjuangan yang mereka tempuh. Dan spesialisasi gerakan dan keorganisasian yang mereka tempuh.
Kader perlu mengetahui siapa yang membangun tradisi menulis dalam PMII.
Siapa yang mengembangkan gerakan intelektual.
Siapa yang menguatkan hubungan PMII dengan masyarakat.
Siapa yang berjuang di dunia pendidikan, jurnalistik, dakwah, organisasi, maupun kebangsaan.
Selama ini banyak kader mengenal tokoh-tokoh pendiri secara sangat singkat.
Padahal setiap pendiri memiliki jejak perjuangan yang kaya akan pelajaran.
Dari mereka, kader dapat belajar bahwa organisasi tidak dibangun oleh orang-orang yang mengejar popularitas.
Organisasi dibangun oleh orang-orang yang memiliki kegelisahan terhadap zamannya.
Mungkin inilah yang mulai hilang.
Kita sering membicarakan sejarah PMII, tetapi jarang meneladani semangat orang-orang yang membuat sejarah itu terjadi.
Kita sering bangga pada kebesaran organisasi, tetapi lupa merawat alasan mengapa organisasi ini didirikan.
Padahal yang diwariskan para pendiri bukan hanya nama PMII.
Mereka mewariskan keberanian untuk berpikir. Keberanian untuk berbeda.
Keberanian untuk membela yang lemah. Keberanian untuk tetap idealis di tengah berbagai godaan pragmatisme.
PMII tidak kekurangan kader.
PMII tidak kekurangan struktur.
PMII tidak kekurangan kegiatan.
Yang sering terasa kurang adalah ghiroh untuk belajar, keberanian untuk berpikir, dan kesungguhan untuk menjadikan organisasi sebagai ruang pengabdian.
Karena itu, mungkin pertanyaan paling penting bagi PMII hari ini bukanlah bagaimana menjadi organisasi yang lebih besar.
Melainkan bagaimana menjadi organisasi yang kembali memiliki jiwa.
Sebab organisasi tidak kehilangan arah ketika menghadapi tantangan dari luar. Organisasi kehilangan arah ketika ia lupa mengapa dirinya didirikan.
Dan mungkin, jalan pulang itu masih sama seperti dahulu yakni kembali belajar kepada para pendahulu, bukan sekadar mengingat nama mereka, tetapi melanjutkan semangat yang mereka tinggalkan.
Penulis: Krisna Wahyu Yanuar






