Esai

Kelakar Prabowo Trio Kancil, Seni Politik Membaca Momentum

×

Kelakar Prabowo Trio Kancil, Seni Politik Membaca Momentum

Sebarkan artikel ini
Gemini- Ai

Urupedia.id- Dalam dunia politik, tidak semua pemain yang paling keras bersuara akan menjadi penentu arah kekuasaan.

Sering kali, justru mereka yang piawai membaca momentum, membangun komunikasi, dan mengelola kepentinganlah yang bertahan paling lama.

Barangkali karena itulah istilah “Trio Kancil” menarik disematkan kepada Muhaimin Iskandar, Bahlil Lahadalia, dan Sufmi Dasco Ahmad.

Sebutan tersebut bukan semata-mata tentang kelicikan politik, melainkan metafora mengenai kecerdikan politik dalam membaca perubahan sosial.

Kancil dalam khazanah Nusantara bukanlah simbol kekuatan.

Ia menghadirkan sebagai representasi akal, strategi, dan kemampuan bertahan di tengah situasi yang tidak selalu menguntungkan.

Dalam politik modern, kecakapan semacam itu justru menjadi salah satu modal terpenting.

Politik bukan arena yang hanya dimenangkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan terbesar, melainkan juga oleh mereka yang mampu memahami kapan harus melangkah, berkompromi, atau menahan diri.

Pemahaman tersebut sejalan dengan pandangan Niccolò Machiavelli dalam The Prince. Ia menulis, “A prince ought to have no other aim or thought… than war and its organization and discipline.”

Gagasan ini tidak semata berbicara mengenai perang dalam arti militer, melainkan kesiapan seorang pemimpin menghadapi setiap perubahan keadaan.

Dalam konteks politik demokratis, kesiapan itu dapat dimaknai sebagai kemampuan mengantisipasi dinamika kekuasaan tanpa kehilangan orientasi terhadap tujuan negara.

Muhaimin Iskandar memperlihatkan karakter politik yang lentur.

Selama bertahun-tahun, ia berhasil menjaga Partai Kebangkitan Bangsa tetap menjadi salah satu kekuatan penting dalam pemerintahan maupun parlemen.

Fleksibilitas tersebut menunjukkan bahwa dalam sistem multipartai, keberlangsungan sebuah partai sering kali bergantung pada kemampuan pemimpinnya membangun jembatan komunikasi dengan berbagai kelompok politik.

Di sisi lain, Bahlil Lahadalia tampil sebagai representasi elite politik generasi baru yang bertumbuh dari pengalaman organisasi dan dunia usaha.

Modal sosial tersebut membuatnya relatif mudah diterima oleh berbagai kalangan.

Kemampuan membaca arah kebijakan ekonomi sekaligus membangun hubungan dengan aktor-aktor strategis menunjukkan bahwa politik kontemporer tidak lagi hanya ditentukan oleh garis ideologi, tetapi juga oleh kapasitas membangun jejaring.

Sementara itu, Sufmi Dasco Ahmad memperlihatkan watak politik yang berbeda. Ia lebih sering bekerja di ruang-ruang negosiasi dibandingkan panggung retorika.

Dalam sistem presidensial multipartai seperti Indonesia ini, figur semacam ini memegang peranan penting sebagai penghubung antar kekuatan politik.

Tidak semua pengaruh lahir dari sorotan kamera atau sekedar viral, sebagian justru dibangun melalui kemampuan menciptakan kesepahaman di balik meja perundingan politik.

Namun, kecerdikan politik selalu menghadirkan pertanyaan etis yang subtansial. Di titik inilah pemikiran Max Weber tetap relevan untuk kita kaji.

Dalam kuliahnya yang kemudian diterbitkan sebagai Politics as a Vocation, Weber menegaskan, Politics is a strong and slow boring of hard boards.”

Politik, menurut Weber, bukan pekerjaan yang selesai dalam satu manuver atau satu pidato atau pertemuan (negoisasi), melainkan ikhtiar panjang yang menuntut kesabaran, tanggung jawab, dan ketekunan.

Pandangan Weber mengingatkan bahwa kecerdikan politik seharusnya tidak berhenti pada kemampuan bertahan dalam lingkaran kekuasaan.

Kecakapan tersebut memperoleh legitimasi ketika mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang memperbaiki kehidupan masyarakat.

Tanpa orientasi itu, strategi hanya akan menjadi permainan elite yang semakin menjauh dari kepentingan publik.

Lebih jauh lagi, ilmuwan politik Harold D. Lasswell pernah merumuskan politik secara sederhana tetapi sangat terkenal, yaitu “Who gets what, when, how.”

Rumusan singkat tersebut menjelaskan bahwa politik pada akhirnya berkaitan dengan distribusi sumber daya, kekuasaan, dan keputusan.

Oleh sebab itu, publik tidak cukup hanya mengamati siapa yang paling cerdik memainkan strategi.

Yang lebih penting adalah menilai siapa yang memperoleh manfaat dari setiap keputusan politik yang dihasilkan.

Julukan “Trio Kancil” pada akhirnya dapat dibaca sebagai simbol kecakapan membaca perubahan politik Indonesia yang semakin cair.

Namun, sejarah demokrasi menunjukkan bahwa kecerdikan bukanlah ukuran utama keberhasilan seorang negarawan.

Yang akan dikenang bukan semata kemampuan bermanuver, melainkan keberanian menggunakan kecerdasan politik untuk memperkuat institusi, menjaga kepercayaan publik, dan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat.

Sebab dalam demokrasi, kecerdasan politik tidak diukur dari seberapa lihai seseorang mengamankan posisi, melainkan dari seberapa besar ia mampu mengubah kekuasaan menjadi kemaslahatan bersama.

Penulis: Krisna Wahyu Yanuar, S.Sos.

Editor: Tim Editing Urupedia.id

Advertisements