
Tulungagung —Urupedia.id- Sekolah menengah kejuruan (SMK) dari Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek mengikuti workshop painting bodi motor sekaligus lomba modifikasi yang digelar di SMK NU Tulungagung pada, Senin–Rabu (7–9/9/2026).
Kegiatan tahunan tersebut melibatkan sedikitnya 10 SMK dan menjadi ruang bagi para siswa untuk mengembangkan keterampilan di bidang pengecatan serta modifikasi Sepeda Motor.
Kegiatan ini diikuti oleh SMK Islam 1 Blitar, SMK PGRI 1 Blitar, SMKN 3 Boyolangu Tulungagung, SMK NU Tulungagung, SMK Islam 2 Durenan Trenggalek, SMK Islam Boyolangu Tulungagung, SMK Darul Huda Blitar, SMK 1 Ngunut, SMK Veteran 1 Tulungagung, dan SMKN 1 Pagerwojo.
Perwakilan Samurai Painting Surabaya, Akhsan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan calon tenaga terampil di bidang painting otomotif sejak masih duduk di bangku sekolah.
“Setiap tahun kita selalu mencari bibit-bibit baru. Jadi, setiap ada penerimaan siswa baru, kita selalu mengadakan pelatihan pengecatan bodi motor di sekolah masing-masing,” kata Akhsan.
Menurutnya, workshop tersebut tidak hanya berorientasi pada kompetisi antarsekolah. Para siswa menjadi sasaran utama karena keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha setelah lulus.
“Tujuannya memberikan mereka pengalaman lebih. Karena SMK yang mengikuti kegiatan ini rata-rata jurusan otomotif semua, masih menyambung dengan jurusan painting juga,” ujarnya.
Samurai Painting Surabaya dalam kegiatan tersebut bertindak sebagai salah satu pelaksana utama, sedangkan SMK NU Tulungagung menjadi tuan rumah. Penunjukan tuan rumah dilakukan secara bergiliran setiap tahun.
Akhsan menjelaskan, kegiatan serupa telah berlangsung sejak 2019. Pada awalnya, agenda tersebut dirancang sebagai pelatihan bersama dengan regulasi yang mengacu pada standar kompetisi tingkat nasional.
Bahkan, sebelum pandemi Covid-19, penyelenggara sempat merencanakan agar siswa berprestasi dapat dibawa mengikuti kompetisi hingga tingkat internasional di Vietnam.
Rencana tersebut kemudian tertunda akibat pandemi. Meski demikian, pembinaan melalui pelatihan dan kompetisi tetap dilanjutkan dengan evaluasi setiap tahun.
Bertambahnya jumlah sekolah yang mengikuti kegiatan juga membuat penyelenggara menerapkan sistem pembagian berdasarkan wilayah keresidenan.
“Setiap tahun SMK-nya bertambah. Apalagi data SMK yang saya terima kurang lebih ada 60 lembaga. Kita juga kekurangan tim untuk memberikan pelatihan ke anak-anak SMK,” jelasnya.
“Untuk tahun ini kita pecah keresidenan karena terlalu banyak lembaga yang ikut dan setiap tahun kita selalu evaluasi event-eventnya. Jadi, kita berikan yang terbaik buat SMK-SMK ini. Tujuannya bukan ke SMK-nya, tetapi langsung menyasar ke anak-anak,”terangnya.
Bagi peserta, kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman baru untuk menguji kemampuan secara langsung. Yoga, siswa SMK Islam 1 Blitar, mengatakan timnya melakukan persiapan selama dua hari sebelum mengikuti lomba.
“Persiapan kami dua hari lembur, mulai mengamplas bodi dan poxing, serta belanja kebutuhan cat yang diperlukan. Kebetulan kami beserta teman-teman juga baru pertama kali mengikuti kegiatan seperti demikian,” ujar Yoga.
Peserta lainnya, Ataya, mengaku memperoleh tambahan pengetahuan mengenai teknik pengecatan setelah mengikuti workshop.
“Kesan kami setelah mengikuti kegiatan ini menambah wawasan dan kelancaran saat mengecat serta skill-nya bertambah banyak,” kata Ataya.
Melalui perpaduan antara pelatihan dan kompetisi, kegiatan tersebut diharapkan dapat semakin memperkenalkan painting sebagai salah satu bagian dari industri modifikasi otomotif kepada pelajar SMK.
Selain meningkatkan kemampuan teknis, pengalaman tersebut juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertukar pengetahuan dengan peserta dari sekolah lain serta mengenal lebih jauh perkembangan industri dan peluang pasar di bidang modifikasi kendaraan.






