
Urupedia-Drama Korea selalu punya cara unik untuk membungkus persoalan sosial menjadi cerita yang intens dan emosional. Namun, ada kalanya sebuah drama tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga menjadi cermin yang memantulkan kenyataan sosial dengan jujur. Itulah kesan pertama yang muncul setelah menonton episode perdana Teach You A Lesson.
Episode perdana serial ini seolah ingin mengatakan bahwa perundungan bukan lagi persoalan sederhana yang dapat diselesaikan dengan nasihat atau teguran saja, melainkan perundungan tersebut telah menjelma menjadi masalah yang lebih besar, lebih rumit, dan lebih sistematis.
Episode pertama Teach You A Lesson tidak membutuhkan durasi waktu yang banyak untuk memperkenalkan dunia sekolah yang kejam di dalam kelas. Sejak menit-menit awal, penonton langsung dihadapkan pada kisah tragis Park Dae Seok, seorang siswa yang dipaksa menjalani kehidupan sebagai “jongos” bagi para murid yang memiliki kuasa lebih besar. Status itu bukan sekadar ejekan, melainkan sebuah tradisi perundungan yang diwariskan secara turun-temurun. Tongkat jongos diserahkan dari korban sebelumnya, Kim Gyeong Min, kepada Dae Seok, yang menandai bahwa penderitaan kini berpindah tangan.
Bagi Dae Seok, penyerahan tongkat itu bukan awal dari perjuangan, melainkan akhir dari harapan. Hari demi hari ia hidup di bawah tekanan, dipermalukan, diperintah, dan diperlakukan seakan kehilangan martabat sebagai manusia. Ketika tidak lagi menemukan jalan keluar dari siksaan yang terus menghimpit, ia lebih memilih mengambil keputusan yang paling tragis yakni, mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai atas gedung sekolah. Kematian Dae Seok menjadi titik awal cerita sekaligus tamparan keras bahwa perundungan bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan kekerasan yang mampu merenggut nyawa.
Ironis, setelah kematian Dae Seok, pembullyan justru tidak berhenti. Melainkan berpindah tangan. Sasaran para pelaku kembali beralih kepada Kim Gyeong Min, mantan korban yang sebelumnya sempat terbebas dari status jongos. Ia kembali menjadi bulan-bulanan, dipukuli berulang kali hingga tubuhnya penuh luka dan darah. Yang lebih menyakitkan bukan hanya tindakan para pelaku, melainkan keheningan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada yang berani menghentikan, tidak ada yang memilih membela. Semua hanya menjadi penonton yang membiarkan kekerasan terus berlangsung, seolah penderitaan korban adalah hal yang biasa terjadi di lingkungan sekolah.
Bullying yang Tumbuh dari Pembiaran
Maka tak mengherankan bilamana perundungan dalam episode tersebut adalah paling menonjol dan digambarkan bukan hanya sebagai tindakan tunggal, melainkan sebagai budaya yang terbentuk dari pembiaran. Nah, dalam hal ini Korban tidak hanya mengalami kekerasan fisik dan verbal, tetapi juga kehilangan ruang untuk mencari perlindungan. Teman-temannya memilih diam daripada kena imbasnya. Dan menariknya lagi adalah guru di sekolah tersebut terlihat ragu bertindak, dan sekolah seperti lebih sibuk menjaga citra dibanding menyelesaikan masalah.
Dalam banyak kasus di dunia nyata, bullying memang jarang berdiri sendiri. Ia tumbuh karena lingkungan membiarkannya hidup. Ketika seseorang dihina di depan umum dan tidak ada yang membela, hal semacam itu akan menjadi sesuatu hal yang biasa.
Seperti yang diteliti oleh Darmawan (2017) dalam Jurnal Pendidikan yang berjudul, “Fenomena Bullying (Perisakan) di Lingkungan Sekolah yang sangat relevan dengan film Teach You A Lesson tersebut. Di dalam kelas, korban dipermalukan secara terbuka melalui ejekan, hinaan, dan tindakan yang bagi sebagian orang mungkin tampak sebagai candaan biasa. Namun, justru di situlah letak persoalannya.
Seperti yang ditemukan Darmawan, bentuk perundungan verbal sering kali dianggap sebagai bagian dari interaksi keseharian dan tidak dipandang sebagai sesuatu yang serius. Dalam drama ini, situasi itu terlihat jelas ketika siswa lain hanya menonton, sebagian tertawa, bahkan ada yang merekam tanpa merasa ada yang salah.
Gambaran ini menunjukkan bahwa bullying tidak selalu melulu karena kekerasan fisik yang nyata, tetapi juga karena adanya normalisasi sosial yang membuat tindakan itu dianggap wajar. Ketika ejekan terus-menerus diterima sebagai candaan, luka yang ditinggalkan sering kali luput dari perhatian. Dan justru dari hal-hal yang dianggap sepele itulah, kekerasan perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar dan lebih sulit dihentikan. Itulah yang membuat episode ini terasa begitu penting untuk direnungkan.
Ketika Privilege Mengalahkan Keadilan
Selanjutnya, ada beberapa hal yang perlu dibahas lagi, yakni peranan para Guru. Saat Gyeong Min tanpa sengaja mendengar percakapan para guru yang justru memperlihatkan sisi lain dari sekolah tersebut. Alih-alih menyusun langkah untuk melindungi para korban, mereka memilih pasrah terhadap situasi yang telah lama dikuasai oleh rasa takut. Terutama atas peristiwa seorang guru yang pernah ditusuk oleh murid membuat keberanian mereka perlahan menghilang, berganti dengan sikap diam yang dianggap sebagai jalan paling aman.
Apalagi di sekolah tersebut ada tokoh bernama Ryu Jun Heong, anak dari kandidat presiden terkuat di Korea Selatan, yang selama ini juga menjadi sumber ketakutan sekolah, sehingga tidak ada yang berani menyentuh dan menghukumnya daripada kena masalah yang berlarut.
Tokoh anak politikus dalam episode ini bukan sekadar antagonis biasa. Ia adalah representasi dari satu realitas sosial yang sering terjadi yakni, kekuasaan dapat menciptakan rasa kebal hukum. Ia bertindak sesuka hati karena tahu ada posisi, uang, dan nama besar yang bisa melindunginya. Makanya ia merasa superior dan berkuasa atas kelasnya dan bertindak semaunya sendiri, berkat pengaruh Ayahnya yang merupakan kandidat terkuat.
Hal semacam ini membuat konflik dalam Teach You A Lesson terasa lebih kompleks. Bukan lagi soal cerita tentang anak nakal, melainkan tentang bagaimana sistem sering kali tunduk pada privilese.
Di dunia pendidikan, kondisi seperti ini bukan sesuatu yang asing. Ada banyak kasus ketika pelaku perundungan lolos dari konsekuensi karena faktor keluarga, relasi sosial, atau status ekonomi. Akibatnya, korban semakin kehilangan kepercayaan terhadap institusi yang seharusnya melindungi mereka.
Seperti yang dijelaskan oleh Arief Efianingrum (2018), dalam penelitian yang terbit di Dimensia dengan judul “Membaca Realitas Bullying di Sekolah: Tinjauan Multiperspektif Sosiologi, bahwa bullying di sekolah tidak dapat dipahami hanya dari perspektif individu. Ada struktur sosial yang memengaruhi, termasuk relasi kuasa, dominasi kelompok, dan legitimasi sosial yang diberikan lingkungan. Sedangkan di dalam sekolah, bullying sering kali menjadi alat untuk mempertahankan hierarki sosial.
Hal ini sangat terlihat dalam episode pertama. Anak politikus itu tidak hanya melakukan kekerasan, tetapi juga mengendalikan teman-temannya melalui rasa takut. Ia menjadi pusat kekuasaan kecil di sekolah. Yang menarik, drama ini menunjukkan bahwa kekuasaan semacam itu tidak muncul begitu saja, tetapi ia tumbuh karena sistem membiarkannya.
Sekolah dalam drama ini terlihat lebih sibuk menjaga stabilitas dibanding menegakkan keadilan. Ini adalah kritik yang tajam terhadap banyak institusi pendidikan yang mana terlalu sering ketertiban itu dijaga di permukaannya saja, sementara luka-luka di dalamnya diabaikan. Padahal, ketertiban tanpa keadilan hanyalah ilusi.
Wajah Keadilan dengan Kekerasan
Selanjutnya, dalam episode tersebut juga dikenalkan salah satu karakter yang dapat mengatasi para perundungan tersebut, ia adalah Na Hwa-Jin, dari Biro Perlindungan Hak Pendidikan Korea Selatan. Nah, tugas Biro Perlindungan tersebut sangatlah berbeda dengan apa yang pembaca angan-angan tentunnya. Biro ini memiliki kewenangan khusus, mereka diperbolehkan menggunakan metode pengajaran yang tidak biasa demi menghentikan para pelaku perundung dan meberikan efek jera.
Namun, di sinilah Teach You A Lesson menjadi lebih menarik sebagai sebuah drama yang mengangkat persoalan moral. Kehadiran Na Hwa-jin memunculkan sebuah pertanyaan, apakah keadilan memang harus selalu datang melalui cara yang keras?
Karena Na Hwa-jin tidak digambarkan sebagai sosok pahlawan yang ideal. Ia bertindak tegas, tidak ragu menggunakan tekanan kepada pelaku, bahkan beberapa tindakannya terasa berada di luar pendekatan pendidikan yang lazim. Akan tetapi, justru melalui karakter seperti inilah drama ini mengajak penonton merenungkan satu kenyataan.
Refleksi tersebut juga sejalan dengan temuan penelitian Irvan Usman (2013) yang dimuat dalam Humanitas: Indonesian Psychological Journal dengan judul “Kepribadian, Komunikasi, Kelompok Teman Sebaya, Iklim Sekolah, dan Perilaku Bullying,” bahwa pencegahan perundungan tidak cukup dilakukan dengan menghukum pelaku semata, tetapi juga harus dibarengi dengan upaya membangun budaya sekolah yang aman, saling menghormati, dan berpihak kepada korban.
Dalam konteks itulah, kehadiran Na Hwa-jin seharusnya tidak dipahami sebagai solusi utama atas persoalan bullying. Ia justru merupakan konsekuensi dari sistem yang telah terlalu lama gagal menjalankan fungsinya. Ketika guru memilih diam, sekolah lebih mengutamakan citra daripada perlindungan terhadap peserta didik, dan kekuasaan mampu membungkam keadilan, maka muncul figur seperti Na Hwa-jin yang mengambil alih peran tersebut dengan caranya sendiri. Dengan kata lain, ia bukan penyebab perubahan, melainkan cermin dari kegagalan sebuah sistem yang seharusnya mampu melindungi setiap anak.
Pada akhirnya, luka terdalam akibat bullying bukan hanya berasal dari pukulan atau hinaan yang diterima korban, melainkan dari perasaan ditinggalkan ketika tidak ada seorang pun yang berani berdiri di sisinya. Mungkin, itulah pelajaran pertama yang ingin disampaikan Teach You A Lesson bahwa ketidakadilan tidak selalu lahir karena kuatnya pelaku, tetapi sering kali karena terlalu banyak orang memilih diam ketika melihatnya terjadi.
Penulis: Al Fatih Rijal, Pedagang Es Nyoklat Kita Tulungagung.










