Berita

Napas Tradisi Jawa Kembali Berdenyut di Tangan Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN SATU Tulungagung

×

Napas Tradisi Jawa Kembali Berdenyut di Tangan Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN SATU Tulungagung

Sebarkan artikel ini

Urupedia – Denting gamelan memecah keheningan Aula Gedung KH. Saifuddin Zuhri, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, pada siang itu. Tabuhan kendang yang berpadu dengan bunyi kenong dan gong menghadirkan suasana berbeda dari hari-hari biasanya.

Ruang yang lazim digunakan untuk kegiatan akademik seketika berubah menjadi panggung tempat tradisi Jawa menemukan napasnya kembali di tengah lingkungan kampus.

Puluhan mahasiswa mulai memasuki ruangan dengan langkah tenang. Tidak ada kaus, hoodie, atau sepatu sneakers yang biasa menjadi penanda keseharian mahasiswa.

Seluruh peserta tampil anggun mengenakan jarik, kebaya, beskap, blangkon, hingga tata rias pengantin Jawa. Penampilan mereka bukan sekadar memenuhi tuntutan sebuah pertunjukan, melainkan menjadi penegasan bahwa kebudayaan masih memiliki tempat di hati generasi muda.

Pemandangan itu terasa semakin bermakna ketika arus globalisasi dan budaya digital terus mengubah wajah kehidupan anak muda.

Bahasa asing semakin akrab digunakan, budaya populer semakin mudah dikonsumsi, sedangkan tradisi lokal perlahan kehilangan ruang dalam kehidupan sehari-hari.

Kekhawatiran itulah yang mendorong mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, menghadirkan sebuah panggung yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas budaya.

Melalui Parade Pewara dan Peragaan Busana Jawa, mahasiswa menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari ruang kuliah. Mata kuliah Manajemen Pewara yang semula menjadi bagian dari proses pembelajaran berubah menjadi ruang ekspresi sekaligus ruang pelestarian budaya.

Ali Fuad Muzakki, selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam membawakan acara sekaligus melestarikan budaya Jawa yang mulai tergerus perkembangan zaman.

Pernyataan itu terasa nyata ketika seluruh rangkaian acara memperlihatkan bagaimana mahasiswa tidak hanya mempelajari budaya sebagai teori, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung di hadapan publik.

Penampilan mahasiswa semester enam membuka parade melalui seni pambiwara. Dalam tradisi Jawa, seorang pambiwara tidak hanya bertugas menjadi pembawa acara, tetapi juga menjaga wibawa sebuah prosesi adat.

Pilihan bahasa, intonasi, sikap tubuh, hingga ketepatan menyampaikan tahapan acara menjadi bagian penting dari profesi tersebut. Suara para mahasiswa terdengar mantap ketika membuka simulasi prosesi pernikahan adat Jawa menggunakan bahasa krama inggil.

Diksi yang halus, ritme bicara yang tenang, dan gestur yang berwibawa memperlihatkan bahwa bahasa Jawa sastra yang selama ini dianggap semakin asing ternyata masih dapat dikuasai oleh generasi muda ketika diberi ruang untuk belajar dan berlatih.

Prosesi demi prosesi diperagakan secara runtut, mulai dari pambagya harja, pasrah, hingga tampi pengantin. Setiap tahapan tidak hanya dipentaskan sebagai rangkaian seremoni, tetapi juga dijelaskan makna yang terkandung di baliknya.

Penonton diajak memahami bahwa prosesi pernikahan Jawa merupakan kumpulan nilai kehidupan yang mengajarkan penghormatan, tanggung jawab, kesopanan, dan keharmonisan antarkeluarga.

Kemampuan mahasiswa membawakan simulasi tersebut berkali-kali mengundang tepuk tangan penonton. Apresiasi itu lahir bukan semata karena mereka mampu berbicara menggunakan bahasa Jawa, melainkan karena keberanian mereka menghidupkan kembali warisan budaya yang mulai jarang dijumpai dalam kehidupan generasi seusianya.

Perhatian penonton kemudian beralih ketika panggung berubah menjadi lintasan peragaan busana. Mahasiswa semester empat tampil berpasangan mengenakan beragam busana adat Jawa dengan langkah anggun dan penuh percaya diri.

Peragaan itu tidak berhenti pada persoalan estetika karena setiap peserta turut menjelaskan filosofi yang terkandung di balik busana yang dikenakan.

Busana pengantin bergaya Surakarta diperkenalkan sebagai simbol kelembutan dan keanggunan, sedangkan busana bergaya Yogyakarta menghadirkan kesan yang lebih tegas dengan dominasi warna putih yang melambangkan kesucian dan keteguhan.

Penonton juga diajak memahami filosofi pakaian Surjan yang menyimpan pesan religius melalui susunan kancing yang melambangkan rukun iman, rukun Islam, serta pengendalian hawa nafsu.

Sarasehan yang menghadirkan Januar Pratama, alumni TBIN angkatan 2020 yang kini berkarier sebagai master of ceremony adat di wilayah Blitar, menjadi penutup seluruh rangkaian kegiatan.

Pengalamannya memberikan perspektif baru mengenai tantangan menjadi master of ceremony adat yang tidak hanya memerlukan kemampuan berbicara, tetapi juga penguasaan tata prosesi, filosofi busana, kesiapan mental, dan profesionalitas. Pesan yang paling ditekankan adalah pentingnya memantaskan diri sebelum mementaskan.

Seorang pambiwara harus terlebih dahulu menghormati budaya yang dibawakannya sehingga setiap ucapan, sikap, penampilan, bahkan hal-hal kecil seperti cara mengenakan jarik dan memegang mikrofon benar-benar mencerminkan penghormatan terhadap tradisi.

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dari langkah besar.

Kesediaan mahasiswa mempelajari bahasa Jawa, mengenakan busana adat, memahami filosofi setiap simbol, hingga berlatih menjadi pambiwara telah menjadi bentuk nyata kecintaan terhadap identitas budayanya sendiri.

Selama masih ada generasi muda yang bersedia mempelajari bahasa ibunya, menghidupkan kembali tata adat, serta merawat nilai-nilai warisan leluhur, budaya Jawa tidak sedang menuju kepunahan.

Napas tradisi itu tetap berdenyut di tangan mahasiswa yang memilih menjaga warisan masa lalu agar tetap hidup dan relevan di tengah dunia yang terus bergerak maju.

Advertisements