
SIGI – Kelahiran seorang bayi laki-laki di tenda pengungsian Desa Kamarora B, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, membawa kebahagiaan tersendiri bagi para penyintas gempa bumi Sulawesi Tengah.
Tangis pertamanya terdengar di tengah situasi yang masih dibayangi trauma dan keterbatasan pascabencana.
Bayi tersebut merupakan putra ketiga Arciana yang harus menjalani persalinan di tenda pengungsian setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Palu dan sekitarnya pada Selasa malam (16/6).
Kondisi akses jalan yang sulit dilalui serta situasi yang belum sepenuhnya aman akibat potensi gempa susulan membuat keluarga tidak dapat membawanya ke fasilitas kesehatan.
Semangat gotong royong warga pengungsian menjadi kekuatan utama dalam proses persalinan. Orang tua, keluarga besar, warga sekitar, hingga seorang dukun beranak tradisional turut membantu dan mendampingi Arciana.
Berkat kerja sama serta dukungan warga, proses persalinan berlangsung lancar hingga bayi lahir dalam keadaan selamat.
Kelahiran tersebut menjadi penyemangat bagi para penyintas yang masih bertahan di lokasi pengungsian. Kehadiran kehidupan baru di tengah kondisi yang serba terbatas menghadirkan optimisme bagi keluarga maupun masyarakat sekitar.
Bayi laki-laki itu kemudian diberi nama Efger. Nama tersebut terinspirasi dari peristiwa gempa yang mengiringi kelahirannya sekaligus menjadi simbol perjuangan sang ibu dan solidaritas warga yang saling membantu pada masa sulit.
Rasa syukur atas keselamatan ibu dan bayi disampaikan oleh Muis, mertua Arciana. Menurutnya, kebersamaan warga di pengungsian menjadi faktor penting yang membantu proses persalinan hingga berjalan dengan baik.

Apresiasi juga diberikan kepada Lembaga Manajemen Infaq (LMI) yang turut mendampingi para penyintas melalui penyaluran bantuan sembako, selimut, perlengkapan bayi, serta kegiatan pembersihan material sisa bangunan di sekitar kawasan pengungsian.
Berbagai tantangan masih dihadapi para korban gempa. Namun, kelahiran Efger menjadi pengingat bahwa kehidupan terus berjalan di tengah bencana.
Dari sebuah tenda sederhana di pengungsian, harapan baru lahir dan memberi semangat bagi warga untuk bangkit menata masa depan.






