BukuFeature

Benturan Idealisme dan Kekuasaan dalam Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari

×

Benturan Idealisme dan Kekuasaan dalam Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari

Sebarkan artikel ini
Gambar Buku Orang-orang Proyek-Ahmad Tohari

Apa dengan mempertahankan idealismemu, orang-orang miskin di sekeliling kita menjadi baik? Apa kejujuranmu cukup berarti untuk mengurangi korupsi di negeri ini? (Hlm. 61).

Urupedia-Indonesia akhir-akhir ini dihadapkan dengan berbagai masalah dalam negeri yang itu-itu saja. Saban hari, kita mendengar berita yang memekakkan telinga. Misalnya, korupsi, masalah gaji guru, dan kesenjangan sosial. 

Korupsi di kalangan pejabat terus terjadi, sementara kesejahteraan guru masih sebatas mimpi dan kesenjangan sosial terus menghantui. Berita-berita kurang enak itu seakan-akan menjadi sarapan wajib masyarakat.

Kegelisahan atas kondisi tersebut tergambar dalam novel berjudul Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari. Novel yang berlatar tahun 1991 atau era Orde Baru itu pertama kali terbit pada tahun 2002 oleh Gramedia Pustaka Utama.

Ahmad Tohari yang juga penulis masterpiece Ronggeng Dukuh Paruk itu menceritakan tentang seorang insinyur bernama Kabul. Ia adalah tokoh utama dalam novel ini, seorang insinyur muda yang baru lulus (fresh graduate). Ketika menjadi mahasiswa ia dikenal sebagai aktivis-idealis yang rajin berdiskusi. Ia berasal dari keluarga yang serba pas-pasan dan sederhana serta memiliki jiwa kerja keras.

Didikan orang tua dan pengalamannya sebagai aktivis kampus menjadi modal penting dalam menjalankan pekerjaannya yang penuh godaan bahkan berpotensi membuat idealismenya ambruk. Bagaimana tidak? Di tempat kerjanya, ia secara gamblang melihat praktik suap-menyuap dan manipulasi anggaran yang dilakukan baik oleh orang-orang yang terlibat dalam proyek maupun masyarakat sekitar. Di sinilah idealisme Kabul berbenturan dengan realitas.

Hal ini diperparah karena proyek itu bukan semata-mata untuk kepentingan masyarakat, melainkan diadakan oleh pemerintah dalam rangka mengambil hati masyarakat saat masa kampanye sudah di depan mata. Oleh karena itu, pemerintah, dalam hal ini partai GLM (Golongan Lestari Menang) selaku partai penguasa, menginginkan agar pembangunan jembatan tersebut segera selesai. Rencananya, jembatan itu akan diresmikan langsung oleh petinggi partai sekaligus dalam rangka peringatan HUT GLM di daerah tersebut.

Di proyek pertamanya ini, Kabul bertemu dengan berbagai macam orang, baik yang terlibat dalam proyek tersebut maupun masyarakat sekitar. Misalnya, Pak Tarya, Wati, Basar, dan Dalkijo. Pak Tarya adalah warga desa pensiunan pegawai negeri yang dulu bekerja di kantor departemen penerangan di Jakarta. Setelah pensiun ia menghabiskan hari-harinya sebagai tukang mancing.

Kemudian Wati, sekretaris yang merupakan putri dari seorang anggota DPR yang diam-diam menaruh hati pada Kabul. Selanjutnya ada Basar, teman Kabul pada masa kuliah yang menjabat sebagai Kades di lokasi Kabul bekerja. Dan yang terakhir yang tak kalah penting adalah Dalkijo, bos proyek yang hobi berpenampilan menyerupai koboi.

Tokoh yang disebutkan terakhir ini menarik. Sebab jika dilihat dari latar belakang keluarga dan kehidupan masa lalunya, Dalkijo mirip dengan kondisi Kabul dulu. Namun, karena pengalaman hidup susahnya di masa lalu tersebut membuat Dalkijo dihinggapi perilaku serakah dan dendam masa lalu, sehingga Ia bertekad untuk tobat melarat. 

Namun, akibat tobat melaratnya itu, Ia melakukan apa saja yang penting mendapat keuntungan besar agar cepat kaya. Toh yang dilakukan Dalkijo sah-sah saja dan “dilindungi” selama ia menuruti kemauan dan bisa berbagi keuntungan dengan orang partai.

Ya, bagi Dalkijo kemiskinan pada dirinya harus segera dihilangkan bagaimana pun caranya termasuk berbuat zalim di tempat kerjanya. Berbeda dengan Dalkijo, di sisi lain Kabul setuju bahwa kemiskinan harus dihilangkan, tetapi ada unsur penting lain yang menurut Kabul tidak boleh disingkirkan untuk menghapus status sosial tersebut.

“Bagi Kabul, kemiskinan memang harus dihilangkan. Namun tidak harus dengan dendam pribadi. Dan karena kemiskinan terkait erat dengan struktur maupun kultur masyarakat, menghilangkannya harus melibatkan semua orang dalam semangat setia kawan yang tinggi.” (hlm. 36).

Sementara itu, perilaku bosnya telah membuat Kabul geram dan beberapa kali bersih tegang dengannya. Misalnya, alih-alih mendatangkan besi baru untuk pembuatan lantai jembatan, Dalkijo memilih besi bekas yang diambil dari jalan Pantura.

Menurut Kabul, menggunakan bahan seperti itu akan mengurangi kualitas yang berdampak pada umur jembatan tidak lama. Kabul yakin bahwa tingkah korup bosnya  bukan hanya dapat merugikan masyarakat, tetapi juga merusak reputasi Kabul sebagai insinyur yang berintegritas.

Jelas, rencana tersebut ditolak oleh Kabul. Walakin, ia mendapat ancaman dari Dalkijo yang berimbas pada karir dan kehidupan sosialnya jika tidak menuruti bosnya itu. Misalnya, konsekuensi dari sikap “membangkang” demi mempertahankan idealisme, Kabul bisa saja  dilabeli sebagai orang yang tidak bersih lingkungan. Sebuah labelisasi politis yang diberikan oleh pemerintah Orde Baru dalam rangka membersihkan sisa-sisa pengaruh PKI di masyarakat.

Menyimak novel ini membuat kita sadar bahwa permasalahan di negeri ini bukan hanya timbul di lingkungan pihak-pihak yang memiliki kuasa dan kebijakan. Namun, juga bisa ditemui di lingkungan sekitar kita. Proyek-proyek pemerintah yang seharusnya mampu memperbaiki kondisi masyarakat justru dijadikan “proyek” oleh mereka yang serakah dan dikuasai dendam pribadi masa lalu untuk mengeruk keuntungan pribadi. Oleh karena itu, meskipun sudah berumur lebih dari dua dekade, novel ini masih relevan.

Kisah sederhana khas pedesaan yang diangkat Tohari ini kiranya cukup untuk menggambarkan kondisi Indonesia pada masa lalu bahkan hingga masa sekarang. Penggunaan bahasa yang sederhana, kocak, detail, dan mampu menggambarkan kondisi masyarakat kecil dengan baik, menjadikan kelebihan dari novel ini. Unsur-unsur itu juga dapat ditemukan dalam karya sastra Tohari lainnya yang konsisten menceritakan kehidupan masyarakat kecil pedesaan yang menyimpan kisah unik yang belum tentu dapat ditemukan di masyarakat perkotaan.

Identitas Buku

Judul : Orang-Orang Proyek

Penulis : Ahmad Tohari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 256 halaman

ISBN : 9786020320595

Tahun Terbit : 2019

Peresensi : Mohamad Irfan, lulusan magister Studi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Editor: Al Fatih Rijal

Advertisements