
Urupedia.id- Pada era sebelum kemerdekaan, terdapat salah satu tokoh legendaris yang berperan besar hingga menjadi bagian dari roda pemerintahan pada era Soekarno, yakni Haji Agus Salim.
Ia terlibat aktif dalam dunia politik dan bertemu dengan salah satu pimpinan Sarekat Islam bernama H.O.S. Tjokroaminoto.
Sejak saat itu, Agus Salim menjadi tangan kanan Tjokroaminoto hingga akhirnya Sarekat Islam mengalami perpecahan menjadi dua kubu, yaitu Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah.
Sarekat Islam Putih berpegang teguh pada prinsip keislaman dengan mengedepankan nilai rahmatan lil ‘alamin serta menjalankan syariat Islam sebagaimana mestinya.
Sementara itu, Sarekat Islam Merah dipimpin oleh Semaun, yang sebelumnya juga merupakan tangan kanan Tjokroaminoto.
Pada masa tersebut, Agus Salim menolak keras keberadaan Gerakan Komunis.
Ia beranggapan bahwa komunisme merupakan gerakan ateis yang tidak sejalan dengan prinsip ajaran Islam.
Oleh karena itu, Agus Salim secara konsisten menentang ajaran komunisme yang dinilainya dapat merusak citra Islam.
Namun, dalam film Moonrise Over Egypt (2018), Agus Salim digambarkan berperan sebagai Menteri Luar Negeri yang berupaya mencari jalan kerja sama internasional agar perjuangan kemerdekaan Indonesia dapat berjalan dengan lancar.
Tantangan besar pun terus dihadapinya, terutama dari pihak Belanda yang perlahan-lahan menyusun strategi untuk menggagalkan rencana Indonesia.
Dalam berbagai negosiasi, Belanda kerap mengungkit faktor sejarah, yang menunjukkan bahwa mereka masih belum puas dan tetap mewaspadai langkah-langkah strategis yang dirancang Agus Salim.
Hal yang cukup mengejutkan adalah adanya seorang mahasiswa Mesir (yang namanya saya lupa) yang memata-matai pergerakan Agus Salim beserta rekan-rekannya.
Sebenarnya, mahasiswa tersebut tidak ingin melakukan tindakan itu.
Namun, kondisi ekonomi memaksanya untuk bertahan hidup, bahkan ia sempat membantu perekonomian Agus Salim dan rekan-rekannya yang hampir putus asa.
Salah satu rekan Agus Salim berkata, “Kalau terus begini, keuangan kita tidak cukup, Pak Haji.”
Dengan keteguhan hati, Agus Salim menjawab, “Sabar dulu, tenangkan pikiran kita.”
Salah seorang rekannya kembali resah dan berkata, “Sampai kapan kita harus terus bersabar, Pak Haji?” Namun Agus Salim tetap menjawab dengan tenang, “Sabar dulu.”
Dari situ dapat dibayangkan betapa berat dan penuh risiko misi yang mereka jalani.
Tentunya, tidak semua orang mampu memiliki keteguhan seperti Agus Salim.
Kemampuannya dalam berkomunikasi, disertai dengan doa dan kesabaran, menjadi kunci keberhasilannya dalam menapaki jalan perjuangan yang terjal.
Jika kita berada di posisi rekan-rekannya saat itu, belum tentu kita mampu mencapai tingkat kesabaran yang sama. Pengalaman Agus Salim dalam berbagai konflik, termasuk di Sarekat Islam, menjadi pelajaran berharga bagi generasi selanjutnya.
Sebagai penonton film tersebut, saya sendiri merasakan frustrasi atas beratnya perjuangan Agus Salim dan rekan-rekannya.
Perjuangannya juga menyentuh sisi kemanusiaan, terutama saat mahasiswa Mesir yang sempat berkhianat akhirnya harus mengorbankan nyawanya karena melawan majikannya.
Sebelum meninggal, ia meninggalkan pesan mendalam kepada Agus Salim yang diselipkan di pakaian anak almarhum Agus Salim.
Surat tersebut berisi permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas tindakannya memata-matai Agus Salim demi memperbaiki kondisi ekonominya.
Film ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia bahwa perjuangan menuntut pengorbanan besar dan ketulusan dalam membela bangsa yang pernah dijajah.
Pada akhir film, saya sangat terkesan dengan pernyataan Agus Salim yang kurang lebih berbunyi, “Bangsa ini akan terus dijajah jika setiap generasinya mudah menyerah.”
Sejalan dengan pemikiran Muhammad Natsir, sebagaimana yang juga disampaikan Agus Salim, kita tidak boleh diam apabila bangsa ini kembali mudah dijajah, baik oleh negara lain, sistem ekonomi, maupun manusia-manusia yang merusak dari dalam.
Selama kita masih dapat menikmati kemerdekaan Indonesia, kita tidak boleh cepat merasa puas.
Ujian bangsa ini akan selalu ada: apakah kita hanya mengikuti arus, atau berani berubah untuk memperbaiki arus tersebut?
Oleh: Ahmad Zuhdy Alkhariri, Editor Penerbit Semut Api






