
Urupedia.id- Di tengah arus besar anime isekai yang gemar mengangkat tokoh utama sebagai figur maha kuat, justru hadir dengan nada yang lebih rendah dan manusiawi.
Anime ini tidak memulai kisahnya dengan nubuat agung atau takdir kosmis.
Ia membuka cerita melalui sosok yang nyaris tidak heroik yakni seorang tukang reparasi bernama Saitou.
Pilihan naratif ini terasa sederhana, tetapi di situlah letak kekuatan reflektifnya.
Dalam dunia fiksi yang biasanya memuja kekuatan spektakuler, anime ini memilih mengamati kerja kecil, fungsi praktis, dan kebutuhan untuk diakui.
Dari titik inilah kita dapat membaca karya ini bukan sekadar komedi fantasi, melainkan sebagai meditasi halus tentang makna keberadaan manusia modern.
Eksistensi Orang Biasa dalam Dunia yang Mengagungkan Keistimewaan
Saitou datang dari dunia asal yang sangat familiar bagi penonton masa kini yakni dunia kerja yang efisien tetapi dingin secara harmoni sosial.
Ia bekerja keras, tetapi keberadaannya mudah digantikan.
Ia berguna, tetapi tidak benar-benar dilihat.
Kondisi ini mencerminkan pengalaman eksistensial banyak orang modern yang hidup di tengah sistem yang menilai manusia berdasarkan produktivitas yang terlihat, bukan kontribusi yang dirasakan.
Ketika Saitou terlempar ke dunia lain, yang berubah bukanlah kemampuannya.
Ia tetap tidak memiliki kekuatan tempur yang mencolok.
Namun konteks sosial di sekitarnya berubah secara radikal.
Keahlian membuka kunci, memperbaiki peralatan, dan menangani detail kecil tiba-tiba menjadi vital bagi tim petualang.
Di sinilah anime ini menyampaikan tesis filosofis yang lembut tetapi tajam dan menyentuh makna manusia tidak melekat pada kehebatan intrinsik, melainkan pada relasi kegunaan yang diakui oleh komunitas.
Perubahan nasib Saitou bukan transformasi kekuatan, melainkan transformasi pengakuan.
Ia tidak menjadi luar biasa; ia akhirnya menjadi terlihat.
Di titik ini, kisahnya bersinggungan dengan kegelisahan eksistensial yang sangat kontemporer—kerinduan manusia untuk merasa dibutuhkan.
Etika Kerja Kecil dan Kritik atas Heroisme Tunggal
Struktur kelompok petualang dalam anime ini menolak mitos pahlawan tunggal yang dominan dalam banyak narasi populer.
Setiap anggota party membawa kekuatan sekaligus kelemahan.
Ksatria kuat membutuhkan dukungan teknis.
Penyihir jenius memiliki keterbatasan ingatan.
Bahkan momen-momen kritis sering bergantung pada intervensi kecil Saitou yang sebelumnya dianggap remeh.
Melalui dinamika ini, anime tersebut secara implisit membangun etika interdependensi.
Tidak ada figur yang benar-benar otonom.
Keberhasilan selalu merupakan hasil kerja kolektif.
Dalam pembacaan yang lebih luas, ini merupakan kritik halus terhadap budaya individualisme ekstrem yang kerap mengagungkan figur “self-made hero”.
Yang menarik, anime ini tidak menyampaikan kritik tersebut dengan nada keras.
Ia memilih jalur komedi hangat yang selalu relevan kepada siapapun yang menontonya.
Namun justru melalui kelucuan-kelucuan kecil—pintu yang macet, alat yang rusak, mantra yang lupa—penonton diajak menyadari bahwa dunia tidak dijaga oleh kekuatan besar saja, melainkan oleh orang-orang yang setia mengurus hal-hal kecil yang dianggap tidak berguna.
Absurd yang Tidak Putus Asa
Secara naratif, Benriya Saitou-san, Isekai ni Iku memiliki ritme episodik yang kadang terasa acak dan absurd.
Beberapa peristiwa muncul tanpa dramatisasi berlebihan, bahkan kadang berakhir dengan punchline komedi yang ringan.
Namun absurditas ini bukan nihilistik. Justru, Ia menghadirkan kehangatan yang khas dari corak anime yang khas.
Dunia yang ditampilkan memang tidak sepenuhnya rasional, tetapi karakter-karakternya terus merawat satu sama lain melalui tindakan sederhana.
Dalam kerangka filsafat eksistensial, sikap ini dapat dibaca sebagai bentuk penerimaan aktif terhadap absurditas hidup.
Alih-alih menuntut dunia menjadi logis, para tokohnya memilih untuk tetap berguna di dalam ketidakpastian.
Saitou, dalam hal ini, menjadi figur yang sangat menarik.
Ia tidak melawan absurditas dengan heroisme besar, melainkan dengan ketekunan praktis.
Ia memperbaiki, membuka, merapikan, dan membantu.
Tindakan-tindakan kecil ini membentuk semacam spiritualitas kerja yang rendah hati—sebuah sikap yang terasa sangat relevan di tengah kelelahan eksistensial masyarakat modern.
Resonansi dengan Manusia Kontemporer
Tidak mengherankan jika anime ini menemukan tempat tersendiri di hati penonton, meskipun tidak meledak secara bombastis.
Kisah Saitou berbicara langsung kepada generasi yang akrab dengan perasaan “biasa saja”, yakni pekerja kontrak, pekerja gig, lulusan yang merasa tidak istimewa, dan siapa pun yang pernah merasa keberadaannya nyaris transparan.
Anime ini seperti menawarkan penghiburan yang jarang diberikan oleh budaya populer yakni hidup yang bermakna tidak selalu harus spektakuler.
Ada martabat dalam kerja kecil.
Ada kepahlawanan dalam kegunaan sehari-hari.
Ada kehangatan dalam relasi yang saling membutuhkan.
Dalam dunia yang terus mendorong individu untuk tampil luar biasa, pesan ini terasa hampir subversif.
Kepahlawanan yang Tenang
Pada akhirnya, mengajukan pertanyaan reflektif yang sunyi tetapi menggugah.
Jika dunia modern begitu terobsesi pada yang spektakuler, mungkinkah yang sebenarnya menjaga kehidupan tetap berjalan justru adalah orang-orang biasa yang bekerja tanpa sorotan?
Melalui perjalanan Saitou, kita diajak mempertimbangkan kembali ukuran keberhasilan hidup.
Barangkali makna tidak selalu hadir dalam kemenangan besar.
Barangkali ia justru lahir dalam momen ketika seseorang—siapa pun dia—akhirnya merasa dibutuhkan.
Dan dalam kesadaran itu, kepahlawanan menemukan bentuknya yang paling jujurnya yakni tidak berisik, tidak megah, tetapi diam-diam dan tekun.
Oleh: Krisna Wahyu Yanuar







