Feature

Menuju 2026 dengan Hati yang Lebih Tenang

×

Menuju 2026 dengan Hati yang Lebih Tenang

Sebarkan artikel ini
Sumber: https://almuhtada.org/2024/04/30/kiat-kiat-menjadi-orang-yang-selalu-tenang-menurut-ajaran-islam/

Urupedia.id- Jelang akhir tahun, kota-kota mulai dipenuhi cahaya. Jalanan kian ramai, media sosial sesak oleh senyum dan potret kebahagiaan, sementara kalender perlahan menipis.

Namun tidak semua orang menyambutnya dengan suka cita. Ada yang justru merasa semakin letih. Ada yang tiba-tiba diliputi sunyi.

Ada pula yang, tanpa banyak suara, sedang berjuang menjaga kewarasannya sendiri.

Di malam-malam terakhir Desember, sebagian orang terjaga lebih lama dari biasanya. Bukan karena sibuk merancang perayaan, melainkan karena pikirannya tak mau diam.

Tentang target yang tak kunjung tercapai, hubungan yang menggantung tanpa kepastian, juga doa-doa yang terasa belum menemukan jawabannya.

Akhir tahun, bagi banyak jiwa, menjelma cermin besar—memantulkan ulang perjalanan hidup apa adanya, tanpa filter dan tanpa jeda.

Kita hidup di zaman yang mengajarkan satu hal secara halus namun memaksa: terlihat bahagia. Media sosial berubah menjadi panggung, tempat kebahagiaan seolah wajib dipertontonkan. Namun di balik layar, kesehatan mental sering kali tercecer.

Kita sibuk menenangkan dunia, berusaha tampak baik-baik saja, tetapi lupa menenangkan diri sendiri. Barangkali itulah sebabnya akhir tahun terasa begitu berat—karena semua yang kita tunda akhirnya mengetuk pintu, meminta didengarkan.

Filsafat pernah mengingatkan bahwa hidup tidak lahir dari keteraturan yang rapi, melainkan dari kekacauan.

Slavoj Žižek menyebut hidup bermula dari katastrofi. Alam semesta sendiri tercipta dari ledakan besar.

Dalam bahasa iman, ini memberi makna lain yakni luka bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari cara Tuhan membentuk manusia.

Tidak semua rasa sakit harus dicurigai; sebagian cukup diterima dan dimaknai.

Ketakutan adalah bahasa paling jujur dari batin manusia. Takut gagal, takut tertinggal, takut tidak cukup baik.

Ketakutan semacam ini bukan dosa, melainkan tanda bahwa kita masih hidup sebagai manusia.

Seperti kisah Naruto yang dijauhi karena jinchuriki, kita pun kerap menjauh dari luka kita sendiri. Padahal, ketika luka itu diakui dan diterima, ia justru dapat menjelma sumber kekuatan.

Di ujung tahun ini, mungkin pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi apa yang telah kita capai, melainkan apa yang telah kita lewati.

Berapa banyak air mata yang kita sembunyikan agar tetap tampak kuat? Berapa banyak kecemasan yang kita pendam dalam doa-doa yang tak pernah selesai diucapkan?

Manusia pada dasarnya adalah pencari makna. Ketika hidup terasa kosong, sering kali bukan karena kita gagal, melainkan karena kita lupa menafsirkan perjalanan kita sendiri.

Dalam iman, kehampaan batin adalah panggilan yang lembut—ajakan untuk kembali. Maka kesehatan mental tidak hanya menyangkut pikiran, tetapi juga hati yang rindu disentuh oleh kehadiran Tuhan.

Taubat, Pulang ke Dalam Diri

Hidup modern bergerak cepat dan melelahkan. Kita dikejar pencapaian, perbandingan, dan tuntutan untuk selalu tampak kuat. Banyak orang kehabisan tenaga, tetapi tidak tahu ke mana harus pulang.

Di titik inilah agama menawarkan sesuatu yang sederhana, namun dalam: taubat.

Taubat bukan sekadar tangis di hadapan Tuhan. Ia adalah keberanian untuk kembali.

Kembali kepada diri yang jujur, kepada hati yang mengakui batas, dan kepada Tuhan yang tidak pernah lelah menunggu.

Dalam bahasa Arab, taubah berarti rujū‘—kembali dari yang menjauh menuju yang mendekat.

Dalam filsafat, manusia disebut al-insān ḥayawān nāṭiq—makhluk yang berpikir. Maka bertaubat secara filosofis adalah kembali menggunakan akal dan hati secara seimbang.

Bertanya dengan jujur: apakah aku masih menjalani hidup sebagai manusia, atau sekadar bertahan sebagai mesin rutinitas?

Immanuel Kant pernah mengatakan bahwa nilai moral suatu tindakan tidak terletak pada hasilnya, melainkan pada kehendak baik di baliknya.

Dalam iman, kehendak baik itu adalah niat yang lurus di hadapan Tuhan. Kadang, bertahan hidup di tengah kelelahan batin pun sudah menjadi amal yang sunyi, tetapi sangat bermakna.

Akhir tahun mengajarkan satu hal penting, yakni tidak semua luka harus segera disembuhkan. Sebagian cukup diakui.

Taubat adalah pengakuan paling jujur—bahwa kita lelah, bahwa kita pernah salah, dan bahwa kita membutuhkan Tuhan.

Ada sebuah maqolah Arab yang mengatakan:

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu
“Barang siapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Di akhir tahun ini, maknanya terasa lebih sederhana: barang siapa berani duduk diam bersama lukanya, ia sedang belajar mengenal dirinya—dan perlahan, mengenal Tuhannya.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, teknologi yang kian canggih, dan tuntutan untuk selalu tampak sempurna, kewarasan menjadi bentuk ibadah yang baru.

Akhir tahun bukan tentang pesta paling meriah, melainkan tentang hati yang paling tenang.

Belajar Diam, Belajar Menerima

Di antara riuh resolusi dan target baru, ada satu hal yang jarang kita latih: diam. Bukan diam karena kalah, melainkan diam untuk mendengar.

Mendengar suara hati yang selama ini tertutup kesibukan, mendengar tubuh yang kelelahan, dan mendengar doa-doa yang tak sempat kita rangkai menjadi kata.

Banyak gangguan kesehatan mental berakar dari satu kebiasaan sederhana, kita terlalu keras pada diri sendiri. Kita memaksa hati untuk terus kuat, padahal ia butuh istirahat.

Kita menuntut diri untuk segera pulih, padahal luka memiliki waktunya sendiri. Dalam iman, Tuhan tidak pernah meminta manusia melampaui batasnya.

Yang Dia minta hanyalah kejujuran dan kesediaan untuk kembali.

Akhir tahun memberi kita kesempatan langka untuk menerima hidup apa adanya. Menerima bahwa tidak semua rencana berjalan mulus.

Menerima bahwa ada doa yang belum dikabulkan—bukan karena Tuhan lalai, melainkan karena waktu-Nya berbeda.

Dalam penerimaan itu, batin perlahan menjadi tenang. Kesehatan mental bukan tentang menghapus semua masalah, melainkan berdamai dengan kenyataan tanpa kehilangan harapan.

Ada masa ketika satu-satunya bentuk ibadah yang sanggup kita lakukan hanyalah bertahan. Bertahan untuk tidak menyerah. Bertahan untuk tetap bangun setiap pagi.

Bertahan untuk tidak membenci diri sendiri. Dalam pandangan iman, bertahan hidup dengan niat yang lurus adalah bentuk syukur yang paling sunyi.

Di titik ini, taubat menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan ledakan emosi atau penyesalan yang bising, melainkan gerak kecil hati yang ingin pulang—pulang ke kesederhanaan, ke keheningan, dan ke Tuhan yang Maha Mengetahui isi batin manusia, bahkan sebelum ia mampu mengucapkannya.

Mungkin akhir tahun tidak perlu ditutup dengan janji-janji besar.

Cukup dengan satu niat sederhana: belajar lebih ramah pada diri sendiri.

Sebab sering kali, jalan menuju Tuhan justru dimulai dari cara kita memperlakukan hati kita sendiri.

Oleh: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements
Index