
Urupedia.id- Tiba-tiba di beranda YouTube saya muncul sebuah film yang cukup menarik perhatian. Judul film tersebut adalah Mencari Hilal.
Sebelum membukanya, saya sempat bertanya dalam hati, “Ini serius film tentang mencari hilal? Maksudnya, apakah mencari hilal harus berlari-lari atau menggunakan alat tertentu?” Saya benar-benar penasaran dengan alur ceritanya.
Yang saya tahu, hilal biasanya dicari oleh para ulama ahli falak yang memang berkompeten di bidangnya.
Saya sempat berpikir, jangan-jangan ini adalah kisah perjalanan ulama dalam mencari hilal. Namun, setelah saya menontonnya, ternyata perkiraan saya salah besar.
Dalam film Mencari Hilal (2019) diceritakan seorang tokoh bernama Pak Agung, sosok yang sangat teguh dalam berprinsip.
Ia digambarkan sebagai orang tua yang cenderung kolot dan kukuh pada pendapatnya.
Suatu ketika, ia mengunjungi temannya (saya lupa namanya) untuk membahas hilal.
Pada saat itu, tahun 2019, terjadi perdebatan mengenai biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk penentuan hilal.
Sementara itu, harga bahan makanan pokok dalam film tersebut digambarkan sangat mahal.
Namun, hal itu tidak menjadi persoalan bagi Pak Agung. Ia justru tetap ingin membahas hilal bersama temannya.
Akhirnya, keduanya sepakat untuk mencari hilal, meskipun berangkat secara terpisah. Setibanya di rumah, Pak Agung menyampaikan bahwa ia akan pergi ke Bukit Muara.
Sayangnya, anak perempuannya tidak mengizinkan karena khawatir terhadap kondisi kesehatan ayahnya.
Tiba-tiba Heli pulang ke rumah dan meminta bantuan kakaknya untuk mengurus paspor demi keberangkatannya ke luar negeri, mengingat ia merupakan seorang aktivis kemanusiaan.
Kakaknya (yang tidak dijelaskan namanya dalam film) bersedia membantu dengan syarat Heli harus menemani ayahnya, Pak Agung, dalam perjalanan mencari hilal.
Meskipun awalnya Heli menolak, ia akhirnya menyetujui permintaan tersebut demi paspornya.
Keduanya pun berangkat keesokan paginya dengan menaiki bus.
Di dalam bus, terjadi percakapan antara Pak Agung dan sopir.
Pak Agung bertanya, “Loh, Bapak tidak puasa? Nanti akan disiksa Allah dengan siksaan pedih.” Sopir tersebut menjawab, “Tidak, Pak, saya tidak puasa.” Seiring perjalanan, Pak Agung kembali memperingatkan dengan nada keras.
Adegan ini terasa menggelitik sekaligus memancing emosi, terutama jika membayangkan ada orang seperti Pak Agung di kehidupan nyata yang begitu keras dalam menyampaikan keyakinannya.
Dalam perjalanan, mereka beberapa kali berpindah tempat, tetapi belum juga menemukan lokasi yang tepat.
Mereka bahkan sempat melerai konflik antar umat beragama antara kelompok Kristen dan Islam yang akhirnya berujung damai.
Setelah itu, mereka berteduh di sebuah masjid.
Ada hal menarik di masjid tersebut, yakni adanya acara syukuran yang mirip dengan kenduri.
Pak Agung dan Heli ikut menikmati hidangan.
Di penghujung acara, Pak Agung terlibat perdebatan dengan warga setempat mengenai hisab dan hilal.
Pak Agung tetap kukuh dengan pendapatnya bahwa hilal harus dilihat secara langsung.
Mendengar perdebatan tersebut, Heli mencoba menengahi dengan mengatakan bahwa perbedaan adalah sesuatu yang wajar.
Akhirnya, perdebatan itu memanas hingga Heli memilih pergi setelah diusir oleh Pak Agung.
Dalam kelanjutan perjalanan, keduanya akhirnya bertemu kembali di Bukit Muara, tempat yang memungkinkan mereka melihat hilal secara langsung.
Kisah ini tidak hanya tentang mencari hilal, tetapi juga tentang pencarian makna yang lebih dalam.
Berbagai konflik tidak membuat Pak Agung gentar untuk tetap berpegang pada prinsipnya.
Sementara itu, Heli yang kritis perlahan mulai memahami keinginan ayahnya.
Pak Agung mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh ragu terhadap prinsip yang diyakininya.
Dengan latar belakang pendidikan pesantren, ia tetap teguh menghadapi berbagai persoalan dalam upayanya mencari makna sejati dari hilal.
Oleh: Ahmad Zuhdy Alkhariri, Editor Penerbit Semut Api
Editor: Krisna Wahyu Yanuar






