
Kabupaten Tulungagung tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil marmer dan wilayah pesisir selatan di Jawa Timur, tetapi juga memiliki kekayaan tradisi budaya yang masih hidup hingga sekarang.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, berbagai ritual adat, kesenian rakyat, hingga tradisi pertanian tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas sosial dan warisan leluhur yang diwariskan lintas generasi.
Tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan juga mencerminkan hubungan masyarakat dengan alam, spiritualitas, pertanian, serta penghormatan terhadap sejarah daerah.
Beberapa di antaranya bahkan masih rutin digelar setiap tahun dan mampu menarik perhatian wisatawan maupun peneliti budaya.
Salah satu tradisi paling terkenal di Tulungagung ialah Ulur-Ulur yang digelar setiap bulan Selo dalam penanggalan Jawa di kawasan Telaga Buret, Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat.

Upacara Adat Ulur-ulur
Ritual ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat terhadap keberadaan sumber mata air yang selama ratusan tahun menjadi penopang kehidupan warga dan irigasi pertanian di sekitar kawasan tersebut.
Dalam prosesi adat, masyarakat biasanya membawa hasil bumi, tumpeng, serta sesaji yang kemudian diarak menuju telaga.
Acara Ulur-Ulur juga dimeriahkan dengan kirab budaya, pertunjukan kesenian tradisional, doa bersama, hingga pagelaran wayang dan jaranan.
Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi simbol konservasi lingkungan karena masyarakat setempat percaya bahwa menjaga sumber air sama pentingnya dengan menjaga kehidupan mereka sendiri.
Tradisi Ulur-Ulur bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda karena dinilai memiliki nilai historis, ekologis, dan budaya yang kuat. (detik.com)
Selain Ulur-Ulur, terdapat pula ritual unik bernama Manten Kucing yang berasal dari Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat. Tradisi ini dilakukan saat musim kemarau panjang sebagai bentuk permohonan hujan kepada Tuhan.
Dalam ritual tersebut, sepasang kucing diarak layaknya pengantin lengkap dengan berbagai atribut adat dan iringan musik tradisional.

Ritual Adat Manten Kucing
Setelah diarak keliling desa, kedua kucing kemudian dimandikan di sumber air atau sungai yang dianggap sakral. Prosesi tersebut biasanya diikuti doa bersama dan pertunjukan kesenian rakyat seperti Reog Kendang, campursari, hingga jaranan.
Bagi masyarakat setempat, ritual ini bukan tindakan mistis semata, melainkan simbol harapan agar keseimbangan alam kembali terjaga dan hujan segera turun untuk menyelamatkan lahan pertanian warga.
Tradisi Manten Kucing menjadi salah satu budaya paling unik di Jawa Timur karena memadukan unsur spiritual, hiburan rakyat, dan solidaritas sosial masyarakat desa. (Kompas.com)
Tulungagung juga memiliki kesenian khas yang sangat identik dengan daerahnya, yakni Reog Kendang. Berbeda dengan reog dari Ponorogo yang identik dengan topeng dadak merak, Reog Kendang Tulungagung menampilkan penari yang memainkan kendang sambil menari dengan gerakan enerjik dan dinamis.
Para penari biasanya tampil berkelompok dengan koreografi kompak yang memadukan unsur tari perang, ketangkasan, dan ritme musik tradisional.

Kesenian Reog Kendang Tulungagung
Kesenian ini dipercaya terinspirasi dari kisah prajurit pengiring Dewi Kilisuci menuju Gunung Kelud. Saat ini Reog Kendang kerap ditampilkan dalam festival budaya, kirab daerah, penyambutan tamu penting, hingga acara pemerintahan.
Bahkan, Reog Kendang telah menjadi salah satu ikon budaya Tulungagung yang cukup dikenal di tingkat nasional.
Tradisi lain yang tak kalah menarik ialah Tiban atau tradisi cambuk Tiban. Ritual ini biasanya digelar masyarakat saat musim kemarau panjang sebagai bentuk permohonan hujan.
Dalam pertunjukannya, dua orang saling mencambuk tubuh menggunakan lidi aren atau cambuk khusus, sementara warga lain menyaksikan dan mengiringi dengan musik tradisional.

Tradisi Cambuk Tiban
Meski terlihat ekstrem dan menyakitkan, masyarakat meyakini ritual tersebut mengandung makna spiritual dan simbol pengorbanan demi datangnya hujan.
Darah atau luka yang muncul dalam tradisi Tiban dipercaya sebagai bentuk ketulusan permohonan manusia kepada Sang Pencipta agar musim kemarau segera berakhir dan lahan pertanian kembali subur.
Dalam aspek sejarah dan simbol pemerintahan daerah, Tulungagung juga memiliki tradisi Jamasan Kyai Upas. Ritual ini merupakan prosesi penyucian pusaka tombak Kyai Upas yang dianggap sebagai pusaka agung Kabupaten Tulungagung. Prosesi jamasan biasanya dilakukan pada bulan Suro dan dihadiri tokoh adat maupun pejabat daerah.

Ritual Adat Jamasan Kyai Upas
Bagi masyarakat Tulungagung, Kyai Upas bukan sekadar benda pusaka, melainkan simbol sejarah, kewibawaan, dan identitas daerah. Air bekas jamasan bahkan kerap diperebutkan warga karena dipercaya membawa berkah dan keselamatan.
Sementara itu, masyarakat agraris di Tulungagung juga masih melestarikan tradisi Methik atau methik pari, yakni upacara syukur menjelang panen padi.
Tradisi ini dilakukan di area persawahan dengan membawa tumpeng, hasil bumi, dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas hasil pertanian yang diberikan Tuhan.
Tradisi Methik menjadi simbol eratnya hubungan masyarakat desa dengan alam dan sektor pertanian. Di tengah modernisasi alat pertanian dan perubahan pola hidup masyarakat, ritual tersebut masih dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah, air, dan proses panjang kehidupan petani.
Keberadaan berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal masyarakat Tulungagung masih memiliki ruang hidup yang kuat di tengah perkembangan zaman.
Modernisasi memang membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, tetapi nilai-nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta warisan leluhur tetap dijaga melalui ritual dan kesenian yang terus dipentaskan hingga sekarang.






