Kebudayaan

Di Antara Weton dan Zodiak, Kita Sedang Mencari Apa?

×

Di Antara Weton dan Zodiak, Kita Sedang Mencari Apa?

Sebarkan artikel ini

Urupedia.id- Di tengah dunia yang semakin percaya pada data, grafik, dan algoritma, kepercayaan pada weton Jawa atau ramalan zodiak sering dianggap sebagai sisa-sisa masa lalu.

Ia ditempatkan di pinggir nalar modern, dilabeli irasional, bahkan kadang dipermalukan sebagai bentuk kemunduran berpikir.

Namun kenyataannya jauh lebih rumit. Praktik-praktik ini tidak pernah benar-benar hilang.

Ia tetap hadir diam-diam, lentur, dan menyesuaikan diri dengan zaman.

Di banyak keluarga Jawa, weton masih diperhitungkan ketika membicarakan pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha.

Sementara itu, di layar ponsel generasi muda, ramalan zodiak justru semakin mudah diakses, dibagikan, dan dibicarakan.

Dua sistem yang lahir dari konteks budaya berbeda ini kini hidup berdampingan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya bukan lagi apakah weton atau zodiak itu benar, melainkan mengapa kita manusia modern masih merasa perlu membacanya.

Mencari Pola di Tengah Ketidakpastian

Hidup modern menjanjikan kepastian lewat ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun di saat yang sama, ia juga menghadirkan ketidakpastian baru: perubahan cepat, persaingan ekonomi, relasi yang rapuh, dan masa depan yang sulit ditebak.

Dalam situasi seperti ini, manusia cenderung mencari pola.

Apa pun yang memberi rasa keteraturan, walau bersifat simbolik, sering kali terasa menenangkan.

Weton dan zodiak bekerja di ruang inilah. Ia tidak selalu dipercaya secara harfiah, tetapi cukup kuat untuk menjadi rujukan batin.

Ketika seseorang membaca zodiaknya lalu berkata, “Oh, pantas aku begini,” atau ketika keluarga meminta menghitung weton demi menghindari konflik di masa depan, yang sedang berlangsung bukan sekadar praktik ramalan, melainkan upaya memahami hidup dengan bahasa yang akrab.

Di titik ini, pemikiran Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjadi relevan.

Keduanya menjelaskan bahwa realitas sosial tidak hadir begitu saja. Ia dibangun, dipelihara, dan diwariskan melalui kebiasaan yang terus diulang.

Apa yang dipercaya bersama, lama-kelamaan terasa nyata.

Ketika weton terus dihitung dari generasi ke generasi, ia tidak lagi sekadar tradisi, melainkan bagian dari “kenyataan” yang diakui. Hal yang sama berlaku pada zodiak, meski bentuknya lebih cair dan personal.

Kita percaya bukan semata karena isinya, tetapi karena praktiknya hidup di sekitar kita.

Weton sebagai Etika Kehati-hatian

Dalam kebudayaan Jawa, weton sering kali dipahami bukan sebagai alat menentukan nasib secara mutlak, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian.

Menghitung weton sebelum pernikahan, misalnya, kerap dimaknai sebagai usaha menghindari penyesalan, menjaga harmoni keluarga, dan menghormati tatanan yang lebih besar dari diri sendiri.

Di sini, weton bekerja sebagai bahasa etika, bukan sekadar kalkulasi. Ia memberi ruang jeda sebelum mengambil keputusan besar.

Ia mengajak orang untuk mempertimbangkan, berdiskusi, dan melibatkan keluarga.

Bahkan ketika hasil perhitungan tidak sepenuhnya diikuti, prosesnya tetap dianggap penting.

Sebaliknya, astrologi Barat yang hadir lewat zodiak lebih sering digunakan sebagai alat refleksi personal. Ia menawarkan deskripsi watak, emosi, dan relasi dengan bahasa yang ringkas dan mudah dipahami.

Di media sosial, zodiak kerap dibaca sambil lalu, tetapi justru karena sifatnya yang ringan itulah ia terasa dekat.

Dua sistem ini berbeda cara kerja, tetapi bertemu dalam satu fungsi: membantu manusia membaca dirinya di tengah dunia yang rumit.

Simbol yang Memberi Arah

Antropolog Clifford Geertz menyebut kebudayaan sebagai jaringan makna yang dianyam manusia untuk memberi arah pada hidupnya.

Dalam kerangka ini, weton dan zodiak adalah simbol. Ia bukan sekadar angka, hari, atau rasi bintang, melainkan penanda makna.

Simbol tidak memaksa. Ia bekerja halus. Ia tidak mengatakan apa yang harus dilakukan, tetapi memberi kerangka untuk menafsirkan pengalaman.

Ketika seseorang merasa hubungannya tidak harmonis lalu mengaitkannya dengan weton atau zodiak, yang terjadi bukanlah penyerahan nalar, melainkan pencarian penjelasan yang bisa diterima secara emosional dan sosial.

Simbol-simbol ini juga memungkinkan percakapan. Ia menjadi bahasa bersama antara orang tua dan anak, antara tradisi dan modernitas.

Tanpa simbol semacam ini, banyak pengalaman hidup akan terasa terlalu mentah dan sulit diceritakan.

Kepercayaan yang Tidak Lagi Hitam-Putih

Menariknya, generasi muda hari ini tidak mempraktikkan kepercayaan secara kaku. Mereka tidak sepenuhnya menolak weton, tetapi juga tidak selalu tunduk padanya.

Banyak yang tetap menghormati weton dalam konteks keluarga, namun memilih menggunakan zodiak sebagai sarana refleksi diri yang lebih personal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan kini bersifat negosiatif. Ia tidak lagi dipahami sebagai dogma, melainkan sebagai sumber makna yang bisa dipilih, ditafsirkan, bahkan dinegosiasikan.

Orang tidak merasa perlu memilih antara tradisi atau modernitas. Mereka memadukan keduanya sesuai kebutuhan.

Pendekatan James P. Spradley membantu membaca situasi ini. Ia membedakan sudut pandang emic yaitu makna menurut pelaku budaya dan etic yaitu analisis dari luar.

Dari sudut emic, weton adalah warisan dan kehati-hatian hidup. Dari sudut etic, ia adalah sistem simbol dan konstruksi sosial.

Kedua sudut pandang ini tidak perlu dipertentangkan. Justru dengan memahaminya bersamaan, kita bisa melihat bahwa kepercayaan tidak selalu bertahan karena isinya, tetapi karena maknanya bagi pelaku.

Waktu yang Tidak Pernah Sepenuhnya Netral

Opsionalnya, pemikiran Mircea Eliade memperkaya pembacaan ini. Ia menjelaskan bahwa dalam banyak kebudayaan, waktu tidak pernah sepenuhnya netral.

Ada hari yang dianggap lebih bermakna, ada momen yang dirasa lebih “tepat”.

Weton lahir dari cara pandang semacam ini.

Hari kelahiran dipahami sebagai peristiwa kosmis yang meninggalkan jejak. Astrologi Barat pun bekerja dalam logika serupa, meski dengan simbol yang berbeda.

Manusia, di mana pun, selalu berusaha memberi kualitas pada waktu agar hidup terasa teratur dan bermakna.

Dalam dunia modern yang serba cepat, penandaan waktu semacam ini justru menjadi penting. Ia memberi ritme, jeda, dan rasa kendali di tengah arus perubahan.

Bukan Soal Percaya atau Tidak

Perdebatan tentang weton dan zodiak sering terjebak pada dikotomi percaya atau tidak percaya. Padahal, yang lebih penting adalah memahami fungsinya dalam kehidupan sosial.

Selama manusia masih berhadapan dengan ketidakpastian tentang cinta, masa depan, dan pilihan hidup praktik-praktik semacam ini akan terus menemukan tempatnya.

Ia mungkin berubah bentuk. Ia mungkin kehilangan sebagian kesakralannya. Tetapi ia tidak akan benar-benar hilang, karena ia menjawab kebutuhan yang sangat manusiawi: kebutuhan akan makna.

Mungkin, alih-alih mengejek atau memutlakkan, kita perlu membaca weton dan zodiak sebagai cermin. Ia memantulkan kegelisahan, harapan, dan cara kita bertahan di dunia yang tak selalu bisa dijelaskan oleh angka dan rumus.

Dan selama manusia masih bertanya tentang dirinya sendiri, cara-cara lama membaca hidup akan selalu menemukan jalannya diam-diam, lentur, dan terus beradaptasi.

Oleh : Nikomastiar

Advertisements
Index