
Urupedia.id- Di tengah cepatnya arus media sosial yang bergerak tanpa jeda, sebuah prosesi berlangsung dalam tempo yang sama sekali berbeda.
Pelan, khidmat, dan nyaris hening. Di sebuah pendapa sederhana warangan menyatu dengan udara pagi.
Sebilah keris diangkat dengan penuh kehati-hatian bukan sekadar logam berlekuk, melainkan pusaka yang diperlakukan layaknya makhluk hidup, dengan riwayat dan martabatnya sendiri.
Pengalaman menyaksikan langsung prosesi warangi keris ini, sebagaimana dituturkan oleh Titis Sulistio Budi dalam wawancara, terasa kontras dengan kehidupan generasi hari ini yang serba cepat dan digital.
Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Warangi bukan sekadar ritual membersihkan bilah dari karat.
Ia adalah upaya merawat ingatan kolektif, menyentuh lapisan sejarah, dan menyelaraskan kembali hubungan manusia dengan warisan leluhurnya.
Keris dan Makna yang Melampaui Benda
Dalam kebudayaan Jawa, keris tidak pernah diposisikan semata sebagai senjata.
Ia adalah simbol nilai, laku hidup, sekaligus penanda perjalanan zaman.
Sejak masa kerajaan, keris diwariskan lintas generasi sebagai penanda identitas, kehormatan, dan tanggung jawab moral pemiliknya.
Warangi hadir sebagai bentuk perawatan berkala agar pamor keris tetap “terbaca”.
Namun lebih dari itu, ritual ini menjadi medium penghormatan kepada empu pembuatnya, kepada pemilik-pemilik terdahulu, dan kepada nilai-nilai yang menyertainya.
“Merawat keris sama artinya dengan merawat ingatan,” ungkap Titis Sulistio Budi.
Waktu, Laku, dan Kesadaran
Prosesi warangi tidak dilakukan sembarangan.
Umumnya dilaksanakan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa, sebuah waktu yang dipercaya sebagai masa refleksi dan penyelarasan diri.
Bulan ini menjadi momen tepat untuk membersihkan pusaka, baik secara lahir maupun batin.
Tidak semua hari dipilih secara acak. Ada perhitungan, ada laku, ada doa.
Warangi dijalani dengan kesadaran penuh bahwa ini bukan pekerjaan teknis semata, melainkan sebuah peristiwa budaya.
Setiap tahap dilakukan perlahan, seolah waktu diminta menepi sejenak.
Bahan-bahan yang digunakan pun sepenuhnya berasal dari alam, jeruk nipis untuk membuka pori bilah, warangan untuk menegaskan pamor, serta minyak sebagai penutup yang memberi keharuman sekaligus perlindungan.
Tidak ada yang tergesa. Semua berjalan dengan ritme yang menenangkan.
Penjaga Tradisi di Tengah Arus Modernisasi
Di balik prosesi warangi, berdiri para empu, juru kunci, dan pelaku tradisi penjaga pengetahuan yang tak tertulis.
Ilmu mereka tidak lahir dari buku teks atau tutorial daring, melainkan dari pengalaman panjang, petuah guru, dan kesetiaan pada laku.
Namun di tengah arus modernisasi, peran mereka kian terpinggirkan.
Tidak semua anak muda bersedia duduk berjam-jam mendengarkan kisah pamor dan filosofi bilah, ketika video berdurasi 30 detik terasa jauh lebih memikat.
Di sinilah jarak generasi terasa nyata.
Bagi generasi terdahulu, keris adalah pusaka yang dirawat dengan rasa tanggung jawab.
Ia tidak dipamerkan sembarangan.
Ada etika, ada waktu, ada tujuan.
Sementara bagi sebagian generasi muda, keris kerap hadir sebagai objek visual yang indah difoto, diunggah, lalu cepat dilupakan.
Antara Eksposur dan Kedalaman Makna
Media sosial memang membuka peluang eksposur yang luas bagi tradisi seperti warangi keris.
Namun di sisi lain, ia juga menyimpan risiko pemaknaan yang dangkal.
Tradisi bisa direduksi menjadi sekadar konten, kehilangan konteks dan ruhnya.
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya padam.
Dalam prosesi yang disaksikan Titis Sulistio Budi, beberapa anak muda tampak ikut terlibat membantu, bertanya, bahkan mendokumentasikan dengan cara yang lebih sadar.
Mereka tidak sekadar mengejar atensi, tetapi berusaha mengarsipkan pengetahuan dan menjembatani tradisi dengan teknologi.
Di titik inilah warangi keris menemukan ruang barunya, bukan sebagai peninggalan beku, melainkan praktik hidup yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan makna.
Merawat Nilai di Tengah Perubahan
Ketika prosesi usai, keris dikembalikan ke warangkanya.
Bilahnya berkilau lembut, pamornya tegas, aromanya menenangkan.
Sebuah penanda bahwa perawatan telah selesai setidaknya untuk hari itu.
Warangi keris mengajarkan satu hal penting di tengah dunia yang serba digital, tidak semua yang berharga harus bergerak cepat.
Ada nilai-nilai yang justru bertahan karena dirawat dengan sabar, dijaga dengan kesadaran, dan dihormati lintas generasi.
Di tengah perubahan yang tak terelakkan, ritual kuno ini tetap berdiri pelan, hening, namun penuh makna.
Oleh: M. Fakhrina Haqiqul Umam & Anas Salamun






