
Urupedia.id- Banyuwangi , kota yang terkenal dengan sebutan “gerbang sunrice of java” di mana tempat terbaik mendapatkan senja.
Kota penghubung Jawa dan Bali ini tidak luput dengan Kesan mistis oleh budayanya yang sangat kental, termasuk suku Osing.
Beragam kesenian yang kini menjadi simbol ikonik benyuwangi termasuk tari gandrung.
Tari Gandrung merupakan salah satu ikon budaya Banyuwangi, Jawa Timur, yang dikenal dengan gerakannya yang lincah, dinamis, sekaligus anggun.
Tari ini tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya Using (Osing), suku asli Banyuwangi.
Hingga kini, Gandrung terus lestari dan berkembang menjadi simbol pariwisata daerah.
Tarian gandrung sudah ada sejak ratusan tahun lalu pada masa peperangan, awal mula tarian ini di tampilkan oleh pria, namun seiring berjalannya waktu di gantikan oleh perempuan hingga kini.
Di ceritakan oleh pak budi (budayawan) “regenerasi pemain ini di awali oleh Semi, waktu kecil ia mengalami sakit-sakitan dan tak kunjung sembuh meski telah di bawa berobat kemana-mana.
ibunya yang putus asa lalu bernazar jika putrinya sembuh akan dijadikan seblang(gandrung) dari situlah awal mula penari gandrung perempuan”.
Setelah adanya pemain gandrung perempuan ditetapkan peraturan bahwa yang bisa menjadi penari gandrung hanyalah seorang yang memiliki garis keturunan penari gandrung.
Seiring berjalannya waktu karena adanya pertimbangan beberapa hal peraturan itu tidak di berlakukan lagi, namun setiap penari yang ingin menjadi gandrung profesional harus melewati beberapa tahapan termasuk ritual meras gandrung.
Filosofinya Meras Gandrung tidak hanya berdiri sebagai rangkaian ritual seremonial, tetapi menegaskan eksistensi sebuah warisan budaya yang tumbuh melalui proses panjang dan hidup dalam bentuk tradisi yang diwariskan lewat praktik serta penjelasan lisan, bukan melalui buku atau arsip.
Tradisi ini bertahan bukan karena teks tertulis, melainkan karena praktik langsung, petuah, simbolisme, dan cerita yang terus diulang oleh para sesepuh seni Using.
Para pelaku budaya, terutama para penari senior dan pemangku adat, berperan penting dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai tersebut sehingga setiap generasi baru dapat memaknai Meras tidak sekadar sebagai prosesi, tetapi sebagai pewarisan identitas.
Dalam dimensi spiritual, Meras Gandrung merupakan bentuk penghormatan terhadap roh pendahulu yang diyakini memberikan perlindungan dan kekuatan.
Melalui sesaji, doa, serta rangkaian pupuh atau gurah, calon penari dianggap memperoleh restu, yang secara simbolis menandai kesiapan mereka untuk tampil sebagai representasi budaya Using.
Proses ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa menjadi penari Gandrung berarti memikul tanggung jawab moral dan spiritual terhadap seni yang dibawanya.
Secara sosial, Meras Gandrung mempertemukan berbagai unsur dalam satu ruang budaya antaranya penari sebagai individu, pelatih sebagai pendamping, keluarga sebagai pendukung, sesepuh sebagai penjaga tradisi, dan komunitas seni sebagai lingkungan yang akan menaungi perjalanan seorang penari.
Keterlibatan banyak pihak menunjukkan bahwa kesenian Gandrung tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan karya kolektif yang berkembang melalui hubungan sosial yang saling menguatkan.
Dalam konteks estetis, Meras juga menjadi mekanisme pengujian dan penyempurnaan kualitas kepenarian.
Proses ini menegaskan bahwa kemampuan menari harus diimbangi dengan karakter yang matang, suara yang terlatih, etika panggung yang kuat, serta kemampuan menghayati makna-makna filosofis dalam setiap gerakan.
Puncak dari seluruh perjalanan ini adalah penyerahan mahkota Omprog, simbol pengukuhan yang melambangkan kedewasaan, legitimasi, serta penerimaan penuh seorang penari sebagai pewaris sah tradisi Gandrung.
Omprog bukan hanya aksesori yang dipasangkan di kepala penari, tetapi merupakan representasi atas pencapaian spiritual, sosial, dan estetis yang telah dilalui calon penari selama proses Meras.
Di balik mahkota tersebut tersimpan nilai simbolik bahwa seorang penari kini bukan lagi murid atau peserta latihan, melainkan sosok yang telah melewati ujian, disiplin, dan penyucian diri sehingga layak memikul identitas kesenian Using di ruang pertunjukan maupun ruang sosial.
Melalui rangkaian makna yang kompleks inilah Meras Gandrung tidak hanya berfungsi sebagai ritual pengukuhan, tetapi juga sebagai tradisi yang membentuk struktur sosial kesenian, menjaga integritas budaya, serta memperkuat jalinan nilai antargenerasi dalam masyarakat Using.
Dari sinilah kita dapat memahami berbagai makna yang mengalir dari tradisi Meras.
Makna Tradisi Meras Gandrung tampak jelas baik pada level personal maupun kolektif.
Pada tingkat individu, Meras memberi legitimasi resmi bahwa seseorang telah sah menjadi penari Gandrung, yang tidak hanya meningkatkan status sosialnya, tetapi juga membentuk kesiapan mental dan spiritual untuk tampil sebagai ikon budaya Banyuwangi.
Bagi komunitas seni, tradisi ini berperan sebagai mekanisme pengendalian mutu yang memastikan bahwa setiap penari yang tampil telah melalui pembelajaran, pembinaan etika, serta penghayatan nilai-nilai yang menjadi ruh Gandrung.
Dalam konteks budaya yang lebih luas, Meras Gandrung menjaga keberlanjutan tradisi dengan menjembatani generasi tua dan generasi muda, memastikan bahwa identitas Using tetap hidup dan dikenali.
Sementara di era modern, fungsi Meras meluas ke ranah pariwisata budaya, festival akbar seperti Gandrung Sewu, hingga pendidikan seni bagi publik sehingga tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi terus beradaptasi dan berkembang.
Dengan demikian, Meras Gandrung bukan sekadar prosesi adat, melainkan pilar penting yang menjaga kualitas, makna, dan martabat seni Gandrung hingga tetap relevan dalam dinamika zaman.
Melalui perpaduan nilai spiritual, sosial, dan estetis, Meras menjadi jantung tradisi yang memastikan bahwa seni Gandrung tidak hanya ditampilkan, tetapi juga diwariskan dengan penuh kesadaran dan penghormatan.
Oleh:Arisma Mila dan Janaena Haqnyonowati
Sumber referensi:
- https://jseahr.unej.ac.id/index.php/JSEAHR
- https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-tatarias/article/view/33474?utm_source=chatgpt.com
- https://jurnalsosiologi.fisip.unila.ac.id/index.php/jurnal/article/view/879?utm_source=chatgpt.com
- https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/1017?utm_source=chatgpt.com
- https://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/JSSH/article/view/24026?utm_source=chatgpt.com






