
Urupedia.id — Intelektual muda Nahdlatul Ulama sekaligus Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton, Gus Muhammad Al-Fayyadl, menegaskan bahwa pendidikan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki karakter khas yang dapat menjadi solusi atas krisis kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.
Menurutnya, krisis pendidikan saat ini bukan semata persoalan kualitas lulusan, melainkan krisis paradigma dalam memaknai pendidikan itu sendiri.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Webinar Nasional bertajuk “Mencerdaskan Umat, Membangun Peradaban: Pendidikan NU sebagai Jawaban atas Krisis Kualitas SDM Indonesia” yang diselenggarakan oleh Indonara.id bersama Lentera Institute menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 melalui Zoom Meeting, Rabu (22/7/2026).
Dalam paparannya, alumnus Universiteit Paris 8 itu menjelaskan bahwa pendidikan NU merupakan bagian dari ekosistem pendidikan nasional yang sekaligus terhubung dengan perkembangan pendidikan dunia.
Menurutnya, pendidikan NU harus terus mengevaluasi kontribusinya terhadap pendidikan nasional agar tidak berhenti pada klaim normatif semata.
“Pendidikan NU sebagai subkultur dari pendidikan Indonesia dan pendidikan Indonesia sebagai subkultur dari pendidikan dunia,” ujarnya.
Al-Fayyadl menilai, profil ideal pendidikan NU telah dirumuskan para masyayikh melalui konsep Mabadi Khaira Ummah yang berorientasi melahirkan umat terbaik sebagaimana cita-cita Al-Qur’an dan perjuangan para pendiri NU.
Ia juga mengingatkan pentingnya menggali kembali fikrah tarbawiyah atau pemikiran pendidikan para ulama.
Menurutnya, generasi muda NU tidak boleh kehilangan kedekatan dengan khazanah intelektual tersebut.
“Saya khawatir kalau generasi muda NU tidak lagi mengenal fikrah tarbawiyah, pemikiran pendidikan yang berkembang di kalangan para ulama itu sendiri,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Al-Fayyadl menegaskan bahwa pendidikan NU berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang memandang pendidikan secara utuh.
“Sangat tidak fair jika pendidikan hanya dimaknai sebagai sarana untuk mencerdaskan saja,” tegasnya.
Ia menjelaskan, terdapat tiga karakter utama pendidikan NU.
Pertama, bersifat holistik, yakni memadukan dimensi lahir dan batin melalui konsep tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib.
Kedua, berjenjang, mengikuti perkembangan peserta didik secara bertahap.
Ketiga, berkelanjutan, yakni berlangsung secara linear dan berkesinambungan.
Al-Fayyadl mengkritik fenomena pendidikan di era kecerdasan buatan (AI) yang dinilainya mendorong proses belajar secara instan dan melompati tahapan perkembangan peserta didik.
“Misalnya anak SD sudah bisa belajar materi SMA dengan AI. Itu tidak linear. Dalam kultur pendidikan Nahdliyin, hal seperti itu dipandang sebagai sesuatu yang mudarat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan prinsip dasar pendidikan NU, terutama pentingnya sanad keilmuan dan relasi langsung antara guru dan murid.
“Sentralitas guru, sanad keilmuan itu tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Lebih jauh, Al-Fayyadl menekankan bahwa persoalan utama pendidikan bukan terletak pada ilmu pengetahuan, melainkan pada orientasi nilai yang melandasinya.
Menurutnya, ilmu merupakan kekuatan power is knowledge yang dapat digunakan untuk kemaslahatan maupun penindasan.
“Ilmu itu sebenarnya power. Pendidikan bisa menjadi alat untuk menindas. Jadi permasalahannya bukan pada ilmunya, tetapi pada problem nilai kemanusiaannya,” paparnya.
Menutup pemaparannya, Al-Fayyadl menegaskan bahwa apabila NU ingin tetap konsisten dengan blueprint pendidikannya, maka orientasi utamanya harus melahirkan ulama dan kader ulama yang memiliki keluasan ilmu sekaligus kepekaan terhadap persoalan umat.
“Ulama itu tidak hanya orang yang mengajar kitab kuning, tetapi orang yang memiliki kepekaan, melihat umat dengan pandangan rahmat, dan memiliki kepedulian utuh terhadap persoalan dunia maupun akhirat,” pungkasnya.






