Berita

Reposisi Identitas di Ruang Kolektif, PK PMII Djoyolelono V Resmi Dilantik, Teguhkan Komitmen Kebangsaan

×

Reposisi Identitas di Ruang Kolektif, PK PMII Djoyolelono V Resmi Dilantik, Teguhkan Komitmen Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi: Kholis

Probolinggo – Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Djoyolelono ke-V resmi dilantik dalam suasana khidmat di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa, Kabupaten Probolinggo.

Mengusung tema “Reposisi Identitas di Ruang Kolektif”, pelantikan ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali arah gerak organisasi dalam memperkuat kaderisasi, merawat tradisi intelektual, serta memperkokoh posisi PMII sebagai mitra kritis sekaligus mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah.

Pelantikan dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Probolinggo, tokoh masyarakat, senior dan alumni PMII, organisasi kepemudaan, akademisi, serta kader PMII dari berbagai rayon dan komisariat.

Kehadiran berbagai elemen tersebut mencerminkan kepercayaan yang terus diberikan kepada PMII sebagai organisasi mahasiswa yang konsisten melahirkan kader intelektual dan memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial.

Tema “Reposisi Identitas di Ruang Kolektif” dipilih sebagai respons atas tantangan zaman yang semakin kompleks.

Di tengah perubahan sosial, politik, dan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat, PMII dipandang perlu meneguhkan kembali identitasnya sebagai organisasi kader yang berpegang pada nilai-nilai dasar pergerakan, sekaligus mampu membangun kolaborasi, melahirkan gagasan, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa.

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Abdul Ghofur, yang hadir mewakili Bupati Probolinggo, mengapresiasi penyelenggaraan pelantikan tersebut.

Ia menegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan, khususnya PMII, merupakan mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan daerah.

Menurutnya, pemerintah membutuhkan keterlibatan generasi muda untuk menghadirkan gagasan, kritik yang konstruktif, serta inovasi guna meningkatkan kualitas pelayanan publik dan pembangunan daerah.

Karena itu, sinergi antara pemerintah dan organisasi kemahasiswaan perlu terus diperkuat demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang partisipatif.

Sementara itu, Ketua PC PMII Kabupaten Probolinggo, Sahabat Dedy, menegaskan bahwa karakter utama PMII adalah keberanian menyampaikan kritik yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

Menurutnya, kedekatan organisasi dengan pemerintah tidak boleh menghilangkan independensi maupun daya kritis kader.

Ia juga membuka ruang seluas-luasnya bagi seluruh komisariat di bawah naungan PC PMII Kabupaten Probolinggo untuk membangun komunikasi langsung dengan pemerintah apabila terdapat persoalan yang perlu diperjuangkan.

“Semua komisariat boleh beraudiensi langsung dengan pemerintah. Silakan menyampaikan kritik, gagasan, maupun aspirasi. Namun komunikasi harus dibangun dengan baik, membawa data yang jelas, argumentasi yang kuat, dan tetap menawarkan solusi. PMII harus hadir sebagai mitra kritis, bukan sekadar pengkritik.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kritik yang dibangun PMII harus bertumpu pada kajian ilmiah, argumentasi yang kuat, serta keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.

Ketua Ikatan Alumni (IKA) PMII Djoyolelono, Sahabat Muhammad Ali, mengingatkan seluruh kader agar tidak kehilangan sensitivitas sosial.

Menurutnya, kader PMII tidak boleh larut dalam rutinitas organisasi hingga melupakan realitas masyarakat yang menjadi ruh perjuangan PMII sejak awal berdiri.

“Jangan sampai kader PMII terlihat apatis terhadap isu-isu yang terjadi di sekitar kita. Organisasi ini lahir dari semangat keberpihakan kepada masyarakat. Karena itu, kepekaan sosial harus terus dijaga dan diwujudkan dalam tindakan nyata.”

Senada dengan itu, Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom) PK PMII Djoyolelono, Sahabat Khoiruddin, mengajak kepengurusan baru menjaga keberlangsungan organisasi melalui kaderisasi yang berkesinambungan.

“Djoyolelono harus terus berkembang. Jangan sampai perjuangan ini putus di tengah jalan, karena tantangan yang kita hadapi hari ini semakin kompleks. Organisasi hanya akan besar apabila seluruh kader memiliki komitmen untuk menjaga dan melanjutkan perjuangan.”

Menutup rangkaian sambutan, Ketua PK PMII Djoyolelono ke-V, Sahabat Nur Kholis Majid, menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah tentang siapa yang paling hebat, melainkan tentang kesiapan melanjutkan estafet perjuangan yang telah dibangun para pendahulu.

“Hari ini saya berdiri di hadapan sahabat-sahabat semua bukan karena saya adalah orang yang paling hebat. Saya hanyalah seorang kader yang dipercaya untuk menjaga api perjuangan yang telah dinyalakan oleh para pendahulu PK PMII Djoyolelono. Api itu tidak boleh padam, karena di sanalah hidup cita-cita, harapan, dan arah perjuangan organisasi.”

Mengacu pada tema pelantikan, ia menegaskan bahwa identitas PMII bukan sekadar atribut organisasi, melainkan nilai yang harus terus dihidupkan melalui kaderisasi, pengabdian, dan keberpihakan kepada masyarakat.

“Hari ini identitas itu harus diperjuangkan dan harus dirawat. Sebab identitas bukan hanya tentang nama atau simbol, melainkan tentang nilai yang kita hidupi, prinsip yang kita perjuangkan, dan keberanian kita untuk tetap hadir di tengah masyarakat. Ketika identitas kehilangan makna, organisasi hanya akan menjadi nama tanpa arah.”

Pelantikan PK PMII Djoyolelono ke-V tidak sekadar menjadi seremoni pergantian kepengurusan.

Momentum ini menandai dimulainya babak baru perjuangan organisasi untuk memperkuat tradisi intelektual, memperluas ruang kolaborasi, dan melahirkan kader yang adaptif tanpa kehilangan jati diri pergerakannya.

Melalui semangat “Reposisi Identitas di Ruang Kolektif”, PK PMII Djoyolelono meneguhkan komitmennya sebagai ruang kaderisasi yang melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang kritis, berintegritas, dan berdaya saing.

Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, organisasi ini bertekad menjaga api perjuangan para pendahulu, merawat identitas pergerakan, serta menghadirkan gagasan dan aksi nyata sebagai bentuk pengabdian kepada agama, bangsa, dan masyarakat.

Advertisements