Feature

Menilik Jejak Mahendra: Pendekar Seni dan Sastra dari Bangku Tadris Bahasa Indonesia

×

Menilik Jejak Mahendra: Pendekar Seni dan Sastra dari Bangku Tadris Bahasa Indonesia

Sebarkan artikel ini

Urupedia.id- Tidak semua mahasiswa menempuh jalan yang bising untuk dikenal. Sebagian memilih bergerak perlahan, nyaris tak terdengar, dan hanya tekun menjaga proses.

Mereka tidak sibuk mengejar sorotan, melainkan merawat kebiasaan. Dari ruang-ruang seperti itu karya sering kali tumbuh, tanpa perlu diumumkan.

Di tengah ritme kampus yang padat, sebagian orang memilih menata hidup dengan cara sederhana. Kuliah tetap dijalani, tugas tetap diselesaikan, namun selalu ada ruang yang disisihkan untuk merawat potensi.

Tidak ada target besar yang dipancang. Yang dijaga hanyalah kesetiaan pada proses, hari demi hari. Pada jalur yang sama, hal itu juga dilakukan oleh Mahendra

Mahendra merupakan mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung semester lima. Ia berasal dari Probolinggo, Jawa Timur.

Di luar aktivitas akademik, ia dikenal menekuni seni dan sastra, terutama pada tulisan dan lukisan. Dua dunia itu tidak ia pisahkan dari keseharian, melainkan ia rawat sebagai bagian dari hidup.

Ritme hariannya berjalan apa adanya. Pagi berangkat kuliah, siang berkutat dengan tugas, malam diisi dengan membaca, menulis, atau berlama-lama di depan kanvas.

Kadang hanya duduk, memandangi lukisan yang belum selesai. Prosesnya pelan, tetapi konsisten. Ketertarikan Mahendra pada seni rupa sudah tumbuh jauh sebelum namanya dikenal di lingkungan kampus.

Melukis menjadi pintu awal yang ia masuki. Di sela waktu luang, ia mengolah warna dan bentuk, mengeksplorasi suasana tanpa tergesa.

Karya-karyanya banyak menghadirkan lanskap alam dan potret manusia dengan pendekatan yang tenang.

Tema-tema tersebut lahir dari pengamatan sehari-hari. Alam sekitar, wajah-wajah yang ia temui, dan ruang-ruang yang sering dilewati menjadi sumber inspirasi.

Mahendra tidak berusaha menumpuk simbol rumit. Ia memilih kesederhanaan, menangkap suasana, lalu memindahkannya ke dalam visual.

Proses melukis baginya adalah soal kesabaran. Ia terbiasa memberi jarak antara satu sapuan dan sapuan berikutnya. Detail dikerjakan perlahan, intuisi diberi ruang.

Pendekatan ini membuat karyanya terasa dekat, tidak menggurui, dan mudah dinikmati. Sejumlah lukisan pun mendapat respons positif dan mulai dipesan banyak orang.

Pesanan datang dari berbagai kalangan, mulai dari penikmat seni lokal hingga mereka yang mengenal karyanya melalui jejaring pertemanan.

Karya-karya itu tidak lagi berhenti sebagai ekspresi personal, tetapi juga menjadi bagian dari relasi apresiasi antara seniman dan penikmat seni.

Salah satu pengalaman penting datang ketika Mahendra menerima pesanan dari Yudi Teha, penulis dan penyair yang dikenal luas di dunia sastra Indonesia.

Bagi Mahendra, momen ini menjadi penanda bahwa karyanya mulai dipercaya di luar lingkungan kampus.

Pertemuan lintas disiplin tersebut menunjukkan bahwa seni rupa dan sastra dapat saling menyapa dalam satu ruang kreatif.

Selain melukis, Mahendra juga konsisten berkarya di bidang sastra. Ketertarikannya pada bahasa dan cerita sejalan dengan latar belakang akademiknya di Tadris Bahasa Indonesia.

Pada tahun 2025, ia meraih Juara Harapan I Lomba Cipta Cerpen dalam rangka PESTASEMA Nasional. Capaian ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanannya sebagai penulis muda.

Menulis cerpen baginya bukan sekadar mengikuti lomba. Ia menjadikannya ruang untuk merawat kegelisahan, menyusun pengalaman, dan membaca realitas sosial dengan caranya sendiri.

Bahasa ia perlakukan sebagai alat yang lentur, bukan sekadar aturan di ruang kelas. Di lingkungan kampus, Mahendra juga aktif mengikuti kegiatan pengembangan diri.

Ia tercatat sebagai finalis Grand Final Duta Kampus UIN SATU 2025. Pengalaman tersebut memperluas cara pandangnya tentang peran mahasiswa, terutama dalam hal komunikasi, kepercayaan diri, dan keterlibatan di ruang publik.

Sumber: Foto Mahendra

Baginya, mahasiswa tidak cukup hanya unggul secara akademik. Ada tanggung jawab untuk hadir melalui gagasan dan karya, sekecil apa pun bentuknya. Prinsip itulah yang ia pegang dalam setiap aktivitas yang ia ikuti.

Mahendra juga kerap terlibat dalam berbagai forum seni dan sastra, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Tidak selalu pulang membawa gelar, tetapi hampir selalu membawa pelajaran. Bertemu dengan sesama pegiat seni memberinya sudut pandang baru tentang proses dan keberagaman cara berkarya.

Learning process matters, dan itu yang terus ia rawat. Latar belakangnya sebagai mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia memengaruhi cara ia memandang seni.

Sumber: Karya lukisan Mahendra

Bahasa tidak ia pahami semata sebagai teori, melainkan sebagai sarana membaca kehidupan. Sastra dan seni rupa baginya saling terhubung, menjadi medium ekspresi sekaligus refleksi.

Apa yang dijalani Mahendra menunjukkan bahwa prestasi tidak selalu lahir dari jalan yang seragam. Ada proses panjang yang dijalani dengan tenang, konsisten, dan penuh kesabaran.

Mulai dari hal sederhana, rawat prosesnya, jangan Tergesa- gesa. Ketika karya dikerjakan dengan sungguh-sungguh, ia akan menemukan jalannya sendiri.

Oleh: Mas Pras

Advertisements