Sastra

Atap yang Membuatku Terluka

×

Atap yang Membuatku Terluka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi  Atap yang Membuatku Terluka-Al Fatih

Urupedia-Bagi kebanyakan orang, rumah adalah tempat pulang paling aman. Namun bagi saya, rumah adalah medan perang tempat saya harus berbagi oksigen, meja makan, dan atap yang sama dengan orang-orang yang telah menghancurkan hidup saya. Saya adalah anak ke-6 dari 7 bersaudara. Sejak usia 5 tahun hingga beranjak dewasa, tubuh saya berkali-kali menjadi objek pelampiasan nafsu orang-orang terdekat, seperti kakak kandung, paman, keponakan, hingga tetangga. Mereka bukan orang asing, melainkan orang-orang yang wajahnya harus saya lihat setiap hari hingga saat ini.

Tinggal satu atap dengan kakak yang pernah melecehkan adalah bentuk penyiksaan mental yang tak terlukiskan. Bayangkan rasanya harus tetap bersikap sopan dan patuh, sementara ingatan tentang tangan mereka yang melanggar tubuh saya terus berputar seperti kaset rusak. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika para pelaku ini berlagak menjadi pelindung atau figur otoritas yang berani membentak dan memarahi saya jika saya membangkang. Di saat itu, hati saya menjerit, “Bagaimana kamu bisa merasa berhak mengatur hidupku setelah apa yang kamu curi dariku?” Namun demi menjaga keutuhan keluarga dan perasaan orang tua, saya menelan teriakan itu rapat-rapat.

Penderitaan saya tidak berhenti di pintu rumah. Di jalanan kampung, saya harus berpapasan dengan keponakan yang usianya lebih tua 13 tahun dari saya, serta paman dan tetangga yang juga pernah melakukan hal yang sama. Setiap sudut desa menjadi pengingat akan rasa sakit. Hidup dalam lingkungan seperti ini membuat saya berada dalam keadaan waspada tingkat tinggi setiap detik. Tidak ada ruang aman. Ke mana pun mata memandang, ada wajah-wajah yang mengingatkan bahwa saya tidak lagi suci, sebuah label kejam yang kemudian saya sematkan pada diri sendiri selama bertahun-tahun.

Masyarakat sangat mudah menghakimi ketika seorang perempuan terjerumus dalam kesalahan moral di masa dewasa, seperti hubungan seksual pranikah atau perselingkuhan. Namun jarang ada yang mau melihat bahwa bagi seorang penyintas yang terkepung di rumahnya sendiri, hubungan di luar adalah satu-satunya cara untuk bernapas. Kesalahan yang saya buat di masa dewasa, yaitu mencari perlindungan dan rasa cinta pada laki-laki lain dengan cara yang keliru, sebenarnya adalah pelarian dari rasa sesak yang saya alami di rumah. Saya merasa sudah kotor sehingga berpikir tidak ada lagi yang perlu dijaga. Saya mencari validasi di luar karena di dalam rumah, harga diri saya sudah diinjak-injak oleh orang yang seharusnya paling menghormati saya.

Melalui tulisan ini, saya ingin dunia tahu bahwa diamnya seorang korban bukan berarti ia lupa. Kami diam karena kami sedang berjuang agar keluarga kami tidak hancur, meskipun kami sendiri hancur berkeping-keping. Berhentilah menghakimi perempuan yang terlihat rusak di mata Anda. Kadang mereka hanya sedang mencoba bertahan hidup dari hantu-hantu masa lalu yang masih duduk di kursi ruang tamu mereka hingga hari ini. Kami tidak butuh penghakiman, kami butuh ruang aman untuk akhirnya bisa melepaskan beban yang kami bawa sendirian.

Saya juga ingin mengatakan bahwa luka seperti ini tidak pernah benar-benar hilang hanya karena waktu berlalu. Ia bisa diam, tetapi tidak pernah mati. Ia muncul dalam bentuk kecemasan, ketidakpercayaan, mimpi buruk, dan rasa bersalah yang tidak masuk akal. Ia tumbuh dalam diam, menyusup dalam cara saya memandang diri sendiri, dalam cara saya memandang dunia.

Ada hari-hari ketika saya merasa marah pada diri sendiri karena tidak berani melawan saat itu. Namun saya belajar bahwa seorang anak tidak pernah bersalah atas kejahatan orang dewasa. Seorang anak tidak memiliki kuasa, tidak memiliki bahasa, dan sering kali tidak memiliki tempat untuk mengadu. Yang salah bukanlah korban yang membeku dalam ketakutan, melainkan orang-orang yang memanfaatkan kebisuan itu.

Jika ada satu hal yang ingin saya perjuangkan hari ini, itu adalah keberanian untuk menyebut luka sebagai luka. Bukan aib, bukan dosa, bukan noda yang harus ditutup rapat. Luka adalah bukti bahwa sesuatu yang salah pernah terjadi, dan sesuatu yang salah itu tidak boleh lagi diwariskan pada generasi berikutnya.

Saya mungkin pernah hancur, tetapi saya tidak ingin selamanya tinggal dalam reruntuhan. Saya sedang belajar membangun kembali diri saya, sedikit demi sedikit. Dan jika tulisan ini sampai kepada mereka yang merasakan hal serupa, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Bertahan hidup bukanlah kelemahan. Itu adalah bentuk keberanian yang paling sunyi dan paling nyata.

Oleh: Cahaya, Ternate, Maluku Utara

Editor: David Yogi Prastiawan

Advertisements
Gambar Revisi Hati-Al Fatih
Sastra

Urupedia-Di suatu pagi yang cerah, Vely seorang wanita…

Sastra

Urupedia-Setiap pagi ia bangun dari ranjangnya Ia sambung…