Sastra

RAHASIA HUTAN

×

RAHASIA HUTAN

Sebarkan artikel ini
Gambar Ilustrasi Rahasia Hutan

Desa Harum adalah sebuah desa kecil yang terletak di tepi hutan lebat, tak jauh dari kaki gunung yang tinggi. Sejak dulu, orang-orang di sana mempercayai legenda tentang seekor naga jahat yang tinggal di dalam hutan itu. Konon, siapa pun yang berani masuk terlalu jauh ke hutan tidak akan pernah kembali.

Setiap malam, para orang tua sering bercerita kepada anak-anak mereka, “Jangan dekati hutan itu. Ada naga yang bisa menyembur api dan memakan manusia!”. Tentu saja, semua anak di desa tumbuh dengan rasa takut. Namun, sekelompok remaja, Raka, Dita, Bimo, dan Lina mulai tidak mempercayai legenda itu. Mereka sering mendengar cerita itu dari orang tua mereka, tapi rasanya terlalu berlebihan.

“Menurut kalian, naga itu beneran ada?” tanya Lina.

“Tentu saja, hi… pasti mengerikan,” jawab Bimo.

“Tapi menurutku, itu cuma mitos. Bagaimana mungkin seekor naga besar hidup di hutan tanpa ada yang melihatnya?” tanya Raka.

“Iya aku juga. Mungkin orang-orang tua hanya menakuti kita saja. Setidaknya kita harus membuktikannya sendiri,” kata Dita sambil tersenyum.

“Hah? Maksudnya kita harus cari naga itu?” Bimo menimpali.

“Iya dong! Kalau mau tahu kita harus cari kebenarannya sendiri, kita cari naga itu, kita buktikan naga itu beneran ada atau nggak,” Dita menjawab.

“Ihh enggak-enggak, aku nggak mau. Gimana kalau naga itu beneran muncul. Matilah kita!” Bimo menolak.

“Dasar penakut, hahaha,” ejek Dita.

“Wah seru tuh! Gimana kalau kita vote siapa yang setuju kita jelajah hutan?!” tanya Raka.

“Aku!”

“Aku!”

Pagi-pagi sekali, keempat remaja itu membawa ransel berisi makanan, air, dan tali. Mereka berencana berkumpul di perbatasan desa sebelum masuk ke hutan. Dengan langkah berat Bimo berjalan menuju tempat teman-temannya berkumpul. Tidak ada pilihan lain, ia harus terima dan ikut karena ketiga temannya semua setuju untuk menjelajah mencari naga, walaupun ia sendiri enggan untuk ikut.

“Nah itu Bimo”

“Ayo cepat masuk! Sebelum ada orang yang melihat kita,” ajak Raka.

“Tenang saja Bimo, nggak bakal ada apa-apa kok, selama kita bareng-bareng pasti semua akan baik-baik saja. Anggap aja kita sedang bermain mencari harta karun,” hibur Lina.

Bimo pun mengangguk-angguk setuju.

Mereka berjalan menyusuri hutan, melewati sungai kecil, dan mendaki batu-batu besar. Suasana awal perjalanan terasa sangat menyenangkan. Mereka bercanda, tertawa dan saling menantang untuk memanjat tebing kecil. Tak lupa mereka memberi tanda setiap jalan yang mereka lalui, untuk memudahkan mereka waktu pulang nanti.

Matahari mulai condong ke barat, menunjukkan hari sudah mulai malam. Setelah perjalanan panjang mereka memutuskan untuk segera kembali pulang.

“Tuh kan, naga itu cuma mitos,” kata Dita.

“Iya… iyaa…, tapi kenapa ya penduduk desa terus menyebarkan rumor tentang naga.”

“Entahlah, makanya kita jangan percaya mentah-mentah omongan orang lain, kita cek dulu kebenarannya,” sahut Raka.

Beberapa lama setelah melalui jalan hutan yang berkelok-kelok, mereka mulai menyadari keanehan bahwa jalan yang mereka lalui tampak sama. Pohon-pohon tinggi dan kabut membuat mereka bingung arah.

“Kayaknya kita tersesat,” kata Lina sambil menatap teman-temannya.

“Tenang, kita cuma harus ikuti petunjuk yang sudah kita buat tadi dan terus bersama,” kata Raka mencoba menenangkan teman-temannya.

Namun, walaupun telah mengikuti petunjuk tersebut, mereka tetap tidak menemukan jalan pulang dan seperti terus berputar-putar di dalam hutan.

Tiba-tiba, suara berat terdengar dari atas tebing.

“Siapa kalian yang berani masuk ke wilayahku?”

Keempat remaja itu terperanjat, lalu menengok dan mata mereka membesar saat melihat seekor Naga besar dengan sisik hijau-biru yang berkilau. Sayapnya lebar, dan ekornya menggulung-gulung seperti ular besar. Mereka menahan napas, siap lari.

Tapi naga itu tidak menyerang. Ia hanya menunduk dan berkata,

“Apa yang kalian lakukan disini?”

“D-dia bisa bicara” ucap Bimo.

“K-kami tersesat, kami mau pulang” jawab Raka sedikit gemetar.

“Ikuti aku, aku akan membantu kalian keluar.”

Awalnya mereka ragu, tapi akhirnya mereka mengikuti naga itu, yang berjalan gagah melewati tebing curam, melompat batu besar, dan menuntun mereka melewati jalan tersembunyi yang aman.

Dalam perjalanan pulang, mereka berbicara dengan naga itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Zyro. Zyro menceritakan bahwa selama ini ia hidup sendirian karena penduduk desa takut padanya. Ia juga bercerita pernah melihat beberapa orang desa beberapa kali mencoba masuk ke hutan. Namun, begitu bertemu dengannya, mereka langsung lari ketakutan. “Hah? Orang-orang desa pernah masuk kehutan, bukankah mereka sendiri yang bilang kalau tidak boleh masuk ke hutan ini, dan menyebarkan rumor naga yang jahat” kata Bimo. 

“Naga jahat? Mereka sendiri yang lari menjauhiku” jawab Zyro.

Tiba-tiba hujan turun deras sekali, akhirnya Zyro mengajak mereka untuk berteduh dalam sebuah gua. Zyro membawa mereka ke sebuah gua besar. Dari luar tampak menakutkan, pelan-pelan mereka berjalan masuk. Ketika sampai di dalamnya mereka terkejut, dinding guanya berkilauan dipenuhi kristal berwarna-warni yang memantulkan cahaya.

“Wow…” Lina terpukau.

“Cantik banget!” seru Dita sambil menatap sekeliling.

Zyro lalu menjelaskan, “kristal ini adalah sumber cahaya dan energi bagi hutan ini. Bertahun-tahun lalu, naga dan orang desa hidup dengan damai. Namun, rahasia kristal ini diketahui oleh sekelompok orang jahat yang kemudian ingin mencuri kristal gua tersebut. Karena mereka tau, kristal ini sangat berharga dan sangat mahal. Oleh karenanya, akulah yang akhirnya menjaga hutan dan gua kristal ini khususnya dari orang-orang jahat yang berniat mencurinya. Bertahun-tahun setelah kejadian itu rumor tentang diriku yang jahat mulai menyebar. Dan hubungan antara aku dan orang desa mulai renggang. Hingga sampai saat ini, orang-orang desa masih percaya rumor tersebut dan terus menyebarkannya. Padahal awal cerita itu dibuat karena orang-orang jahat sengaja ingin mengambil kristal tersebut tanpa diketahui penduduk desa yang lain. Akhirnya mereka pun membuat cerita palsu tentang Naga yang jahat, agar tak ada yang berani datang kesini.”

Raka mengepalkan tangan. “Jadi legenda itu bohong?”

“Ya” jawab Zyro pelan. “Dan aku harus menjaga kristal ini agar tidak jatuh ketangan yang salah.”

Mereka semua terdiam, kagum sekaligus marah karena penduduk desa sudah lama tertipu.

Hari mulai pagi, Zyro pun mengantar mereka ke pinggir hutan. Keempat remaja itu berterima kasih dan berjanji tidak akan menyebarkan cerita menakutkan tentangnya. Setelahnya, mereka menceritakan pengalaman itu kepada beberapa teman dekat, tapi tetap merahasiakan lokasi kristal. Penduduk desa mulai percaya bahwa tidak semua legenda itu benar, dan terkadang yang terlihat menakutkan sebenarnya bisa baik hati.

Sejak saat itu, Raka, Dita, Bimo dan Lina selalu menyimpan kenangan indah tentang petualangan mereka bersama Zyro, naga ramah di hutan yang dulunya dianggap menakutkan, sekaligus menjaga rahasia gua kristal agar tetap terjaga.

Penulis: ATIKA QURROTA A’YUNINA, Santri SMP Plus Al-Irsyad Al-Islamiyyah Tulungagung.

Editor: Al Fatih

Advertisements
Sastra

Urupedia-Tersebutlah sebuah kabupaten di bagian timur Pulau Jawa….

Sastra

Urupedia-Konon, di balik air terjun yang indah terdapat…

Sastra

Urupedia-Di bawah langit Kediri yang membara oleh senja,…

Gambar Revisi Hati-Al Fatih
Sastra

Urupedia-Di suatu pagi yang cerah, Vely seorang wanita…