
Urupedia-Tersebutlah sebuah kabupaten di bagian timur Pulau Jawa. Di sanalah hidup seorang anak laki-laki bernama Muklis. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia selalu menyabet peringkat pertama di kelasnya. Sebagaimana kutu buku pada umumnya, saat jam istirahat pertama tiba, ia memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku. Harapan menjadi kebanggaan orang tua pun terus Muklis pertahankan.
Ia tidak ikut-ikutan teman sejawatnya menghabiskan uang hanya untuk membeli ikan yang dijual seribu rupiah seekor. Juga tidak tergoda menukar uang sakunya dengan tebak-tebakan berhadiah yang biasanya dibawa mas-mas bergerobak lengkap dengan mainan, sisir, hingga cat kuku murahan.
Muklis lebih suka membeli buku ketika bazar di sekolah. Sudah ia persiapkan uang seribuan, sisa dari menabung. Berbinar-binar matanya tatkala mendapati buku murah yang banyak memuat gambar. Setiap tanggal muda, tak kurang ia mengumpulkan uang sebesar tiga puluh ribu rupiah, hasil dari ia menabung uang saku yang tiap harinya ia terima sebesar dua ribu rupiah dari mamaknya.
Hampir setiap hari sepulang sekolah, Muklis sering ikut bapaknya ke pabrik tempat bapaknya bekerja. Duduk di sadel yang mungil, berimpitan. Jangan tanya jika ada lubang sebesar wajan, mengaduh-ngaduh Muklis ke bapaknya.
“Kenapa bapak tak beli motor atau mobil saja?” Muklis mengumpat sambil melihat mobil yang berada agak jauh dari tempat mereka.
“Mobil kan harganya mahal, Le. Mana mungkin bapak bisa membelikannya,” jawab bapaknya sambil mengembuskan napas.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan hingga sampai di depan sebuah rumah yang sangat besar. Di dalam rumah itu sedang ramai orang. Mobil-mobil sedan terparkir rapi, lengkap dengan beberapa polisi yang sepertinya sedang bertugas.
“Mereka kaya-kaya, ya, Pak,” ucap Muklis dengan nada polosnya.
“Muklis pernah baca, katanya kalau jadi presiden kerjaannya cuma duduk. Tapi mengapa mereka bisa punya mobil dan rumah seperti itu, ya, Pak?”
“Ya mana bapak tahu, Lis? Nggak mungkin juga bapak masuk dan tanya ke mereka, bagaimana cara agar cepat banyak uang?”
Muklis diam. Mereka pulang dengan hening, tanda percakapan berakhir dan pikiran masing-masing mulai berbicara sendiri.
Sepulang ke rumah, Muklis segera membantu ibunya menanak nasi di dapur. Ia memang anak yang rajin, tak pernah menunggu diminta. Siang itu, hidangan yang terhidang di meja makan hanyalah sambal terong dan tempe balado. Muklis kurang menyukai masakan semacam itu, ia lebih gemar telur berbumbu merah. Dengan akal kecilnya yang terasa cemerlang, Muklis pun mencoba merayu sang ibu agar bersedia memasakkan lauk kesukaannya. Namun, kali ini ibu yang biasanya penyabar itu tetap pada pendiriannya
“Uang ibu sudah tak ada, Muklis.” Muklis akhirnya diam. Ia tak banyak bicara lagi, menghabiskan rasa lapar di kamar dengan perut yang keroncongan.
Siang menjelang sore. Seorang tamu datang ke rumah mereka. Muklis menyalami tamu itu dengan takzim, sementara ibunya menyiapkan teh dan hidangan dengan sangat cepat. Namun bapak Muklis masih belum datang dari tempat bekerja. Alhasil, tamu yang Muklis sebut Pak Guru itu menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke rumah mereka.
“Ananda Muklis lolos sebagai murid yang akan mendapatkan beasiswa penuh di pondok pesantren milik bupati.”
Belum sempat Pak Guru melanjutkan kalimat berikutnya, ibu Muklis sudah berjingkrak-jingkrak tak karuan dengan seribu pertanyaan. Jelas sekali ia amat senang. Muklis pun demikian. Ia akhirnya bisa mewujudkan cita-citanya, barangkali sampai kelak masuk ke perguruan negeri.
Esoknya, sambil memasang wajah berbinar, bapak dan ibunya Muklis mengajak Muklis membeli baju koko putih di pasar, beserta beberapa peralatan lainnya. Berhubung hari itu hari Minggu, tak perlulah Muklis meminta izin untuk tidak ikut kelas.
“Tampannya kau, Nak. Sudah seperti anak bupati,” ibunya tak habis-habis memuji Muklis sambil berulang kali mencoba beberapa pakaian yang telah ia pilih. Bapaknya, seperti biasa, jika ke pasar tak pernah ikut masuk. Ia memilih menghabiskan waktu seorang diri di parkiran bersama motor matik uzur hasil pinjaman dari tetangga.
Setelah seharian di pasar, akhirnya Muklis mendapati satu setel pakaian koko dan sarung merah marun, satu sorban, serta kopiah hitam yang sedikit tinggi. Kata ibunya, ia begitu tampan jika mengenakan kopiah itu. Muklis tak menolak, ia hanya mengangguk dan mengiyakan semua yang ibunya katakan.
Mereka bertiga pulang tergopoh-gopoh dengan hasil belanjaan sang ibu yang rupanya sudah membeli banyak sekali sayuran dan beberapa daging untuk tasyakuran Muklis, katanya. Sungguh, tak mogok saja sudah sangat untung motor matik itu.
***
Tak butuh waktu yang lama untuk beradaptasi. Muklis menjadi salah satu santri yang cepat mengerti dengan semua peraturan yang ada. Ia mudah paham dengan pelajaran yang boleh dikatakan sulit untuk anak seusianya. Kepiawaiannya dalam menghitung angka-angka membuatnya cepat dikenal oleh guru-guru di pesantren.
Di pesantren, Muklis dan teman-temannya hidup mandiri. Mulai dari mencuci baju, mencuci piring, hingga pekerjaan lainnya. Di pesantren pula, mereka makan tiga kali sehari dengan lauk yang tidak selalu menggugah selera bukan tempe dan tahu seperti yang umumnya ada di pesantren. Jika pagi makan telur, maka siangnya, jika tidak ayam, soto atau rawon. Malamnya pun begitu, biasanya dengan daging ayam.
Sebulan di sana, Muklis mulai berisi. Bagaimana tidak, setiap hari ia menyantap menu seperti itu, ditambah setiap hari Senin dan Jumat anak-anak pesantren diberikan minum susu pada siangnya.
Pertanyaannya, siapa yang membiayai semua itu? Tentu jawabannya adalah seorang yang baik budi dan sangat dihormati. Beliau adalah Pak Kiai pesantren itu. Di pesantren, para santri juga diajarkan menyebut beliau bukan dengan sebutan romo kiai, melainkan dengan panggilan bapak betapa mulia hati beliau. Namun amat disayangkan, beliau jarang berada di pesantren karena memang dituntut dengan jadwal yang sangat padat.
Sebenarnya, Pak Kiai itu dulunya adalah bupati di kabupaten tersebut. Namun kemudian, satu tahun kemarin, ia masuk dan duduk di kursi DPR RI. Alhasil, majulah istrinya menjadi seorang bupati di kabupaten itu.
Tak sampai di sana, Muklis dan teman-temannya juga mendapatkan fasilitas tempat tidur yang sangat bagus. Bayangkan, seorang anak yang mondok yang umumnya tidur berdempetan dalam satu kamar, tidak demikian dengan pesantren itu. Satu kamar berisi empat anak, tidur dengan ranjang masing-masing, lengkap pula dengan kamar mandi di dalam.
Setiap hari Jumat, Pak Kiai yang disebut bapak itu selalu menyempatkan waktunya untuk memberikan sepatah dua patah kata kepada anak-anak santrinya. Muklis mendengarkan dengan takzim. Matanya selalu berbinar setiap kali mendengar ucapan manusia yang baik budinya itu. Tak pernah ia main-main mendengarkan. Ia selalu berada di barisan depan saat salat.
Sambil mendongak ke atas, Muklis melihat Pak Kiainya memberikan wejangan yang sangat membangun.
“Di pondok yang saya bangun ini, tak pernah saya mintakan sumbangan kepada siapa pun. Namun barangkali ada orang yang ingin memberikan rezekinya, pintu pesantren selalu terbuka lebar untuk segala kebaikan.”
Jika beliau sudah berkata demikian, tandanya pidato akan segera berakhir. Dan benar saja, selepas beliau mengucapkan kalimat itu, ia menutup pidatonya. Muklis dan anak-anak pesantren pun bersalaman.
“Tangan DPR halus, ya,” ucap teman Muklis sambil terkekeh. Muklis menegur agar jangan terlalu keras.
“Pokoknya aku pingin jadi kayak bapak, jadi DPR,” ucap teman yang lainnya. Mereka kemudian berlari untuk makan siang. Muklis tak pernah terpikir ingin menjadi seorang politikus. Cita-citanya sederhana: ia hanya ingin kuliah dan selepas lulus mengajar di desanya.
Kunjungan ke pesantren itu disepakati pada hari Minggu, maka tak heran jika hari Minggu selalu dinanti-nanti. Pertama kali ibu dan bapaknya Muklis berkunjung, Muklis bercerita panjang lebar bahwa ia makan dengan lauk yang enak dan beragam. Muklis juga bercerita jika kiainya sangat murah hati. Setiap hari Jumat, katanya, ia mendapat susu gratis dan buah-buahan. Karena itu, tatkala bapaknya menyodorkan uang selembar dengan nominal lima puluh ribu, dengan gesit Muklis menolak mentah-mentah.
“Ambil, buat beli-beli, buat simpanan,” ucap bapak Muklis.
“Tidak perlu, Pak. Di sini Muklis sudah lebih dari cukup.”
“Simpan uang itu untuk tabungan bapak dan ibu saja.”
Setelah itu, sunyi sejenak mengambil alih. Sampai akhirnya mereka kembali bercerita sampai tiba waktu asar. Selepas salat asar, bapak dan ibu Muklis bersiap-siap untuk pulang. Sebenarnya Muklis ingin lebih lama lagi bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Namun apalah daya, keduanya juga punya kesibukan. Tak mungkin mereka bermalam di pesantren.
Setiap hari mengaji, sekolah, esoknya begitu lagi. Selebihnya mencuci baju; jika ada waktu sore, main bola di lapangan dekat masjid. Muklis tetap sama, ia suka membaca. Seperti sore ini, ia memutuskan tetap ikut bersama teman-temannya menuju lapangan bermain, namun kali ini ia memilih membawa buku. Judulnya sangat nyentrik: “DPR dan Tikus-Tikus Berdasi.”
“Oy, itu buku apa?” tanya temannya yang bernama Tomo, selalu ingin tahu dengan apa yang Muklis lakukan.
“Oy, judulnya!” salah satu teman yang melihat ikut nyeletuk.
“Tak semua kok, Lis. Contohnya bapak kita,” sahut yang lain.
Mereka bertukar pendapat, lalu melanjutkan kegiatan lagi. Muklis meneruskan membaca, sementara teman-temannya sibuk menggiring bola ke gawang.
Esoknya, ketika tiba hari Jumat lagi, tak sengaja Muklis mendengar Pak Kiainya tengah mengobrol dengan temannya, barangkali kolega atau entah apa, ia tak paham. Posisi Muklis saat itu berada di samping ruangan kiai, tepat di tempat mencuci baju. Hari itu sore menjelang malam. Anak-anak sudah bersiap ke masjid, maka suasana sepi melanda. Muklis tak sengaja mendengar percakapan itu.
“Nanti gandakan saja untuk dana reses, sekalian tambahkan biaya kunjungan dinas.”
“Satu angka, kakaknya, nggak bakalan jadi masalah,” ucap kiainya melanjutkan. Kemudian mereka tertawa bersama.
Muklis buru-buru ke kamarnya. Ia tak ingin mengingat hal tadi dan tak mau berburuk sangka. Hari-hari berjalan sebagaimana biasanya: sekolah, mengaji, dan mencuci baju. Selebihnya, makan dan hiburannya membaca buku bacaan. Sesekali, ia bermain.
Satu tahun berlalu. Ibu dan bapaknya Muklis, seperti biasanya, selalu berkunjung setiap akhir bulan sekali. Muklis bercerita jika minggu kemarin di pondok banyak polisi. Berhubung tak pernah Muklis bercerita seperti itu, alhasil bapaknya nyeletuk dengan lancar.
“Kamu ingin jadi polisi, Lis?” Muklis menepis cepat ucapan bapaknya tersebut.
“Jadi DPR juga nggak apa-apa, Lis,” ibunya menambahi. Muklis lagi-lagi menepis ucapan itu.
“Muklis Cuma pingin kuliah, Bu. Urusan jadi apa, doakan saja.”
Mereka melanjutkan percakapan, makan bersama, dan seperti biasanya, orang tuanya selepas itu pulang ke rumah.
***
Orang-orang ramai di depan masjid, persis sebelum Pak Kiai itu menutup sepatah dua patah seperti mana biasanya. Muklis tak seperti biasa. Ia mengantuk—pertama kali sepertinya ia setengah sadar dan setengah tidak ketika mendengarkan pidato Pak Kiainya.
Lantas ia terkaget-kaget melihat para santri yang sudah berdiri semua dengan riuh rendah yang sangat ramai. Muklis celingukan, matanya mencari-cari gerangan apa yang tengah terjadi. Dan pemandangan itu pun tak bisa ia elakkan: Pak Kiainya diborgol.
Malamnya, ketua yayasan dan beberapa ustaz serta ustazah, juga beberapa petinggi pondok, berkumpul. Santri sudah berbisik-bisik tak karuan, berspekulasi dengan banyak kemungkinan. Muklis dilanda dilema, seperti seorang yang sedang ditinggal kekasih hatinya. Wajahnya bingung.
Di masjid, perkumpulan dadakan diadakan. Mengaji malam ditiadakan, diganti dengan pertemuan yang penuh tanda tanya. Kali ini Muklis duduk di bagian belakang. Suasana masih ramai sampai seorang ustaz membuka ucapan salam, membuat para santri seketika senyap, takzim menjawab.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Pertemuan dimulai. Setelah sambutan yang sangat singkat, ketua yayasan berucap,
“Mari kita kuatkan dan teguhkan hati atas musibah yang tengah menimpa kita kali ini.”
“Setelah ini, setiap kelas dibagi untuk bersalawat dan mendoakan keselamatan beliau.” Santri-santri diam, takzim mendengarkan. Muklis masih diam.
Bagaimana besok ia akan bercerita kepada orang tuanya.
Bagaimana mungkin ia masih harus bertanya tentang pantas atau tidaknya seseorang yang telah menjadi tersangka tetap didoakan, dimintakan segala yang baik, sementara jika benar adanya korupsi itu telah merampas hak manusia di luar sana, hak yang tak pernah ia kenal wajahnya.
Bagaimana bisa. Muklis terpekur di atas sajadah.
Untuk pertama kalinya, ia tertidur sambil membawa satu pertanyaan yang tak juga selesai: bagaimana bisa.
Penulis: Mahendra, Mahasiswa prodi Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung.
Editor: Al Fatih Rijal









