
di ujung jalan yang sempat gelap
aku pernah ragu melangkah tetap
angin berbisik tentang lelah
dan hujan jatuh tanpa arah
namun pagi tak pernah ingkar janji
ia datang membawa mentari
sedikit demi sedikit hangatnya terasa
menyembuhkan luka yang dulu ada
langkah yang goyah kini tegap berdiri
senyum kecil mulai kembali
semua yang hilang tak benar-benar pergi
ia berubah jadi pelajaran diri
dan hari ini, di bawah langit yang cerah,
aku temukan bahagia yang sederhana,
bukan karena dunia sempurna adanya,
tapi karena hati belajar bahwa menerimanya
Cinta yang Tak Terucap
aku mencintaimu
bukan lewat kata yang hingar
tapi lewat do’a yang samar
yang kusemat tiap malam bersandar
kau hadir bukan sebagai milik
tapi sebagai rahasia paling lirih
yang kusembunyikan dalam detak
antara rindu dan takut retak
kita bukan tentang genggam tangan
tapi tentang hati yang saling paham
meski tak ada janji di lisan
ada harap yang tak pernah padam
bila takdir kelak bersuara
aku ingin bersamamu dalam cerita
bukan hanya di dunia fana
tapi sampai surga memanggil kita
Senang Bisa Mengenalmu
di perjalanan yang panjang
dan sering melelahkan
hadirmu seperti jeda yang tak diminta
namun selalu dibutuhkan
membuat langkah terasa lebih ringan
meski tujuan tak pernah kita sepakati bersama
aku belajar bahwa
tidak semua pertemuan
datang untuk tinggal
sebagian hanya ingin mengajarkan
bagaimana caranya merasa cukup
tanpa harus memiliki
maka jika kelak arah membawa kita menjauh
aku akan tetap menyebut namamu
sebagian bagian kecil dari hidupku
karena semesta mempertemukan walau hanya sementara
Penulis: Muhammad Ghulam Khafiyyan, seorang pelajar SMAN 1 Tulungagung.
Editor: Al Fatih









