Sastra

Middlemist Red

×

Middlemist Red

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Middlemist Red-Al Fatih

Urupedia-Konon, di balik air terjun yang indah terdapat sebuah lembah tersembunyi. Orang-orang dahulu menyebutnya Lembah Surga, karena di sana tumbuh bunga langka yang sangat indah bernama Middlemist Red. Bunga itu dipercaya mampu menyembuhkan segala penyakit. Sayangnya, bunga tersebut dijaga oleh seekor naga yang ganas dan tak pernah membiarkan siapa pun mendekat.

“Aku pasti bisa menemukan Middlemist Red. Aku yakin itu,” Joya bersikeras meyakinkan dirinya sendiri bahwa pilihannya benar. Semua ini demi kesembuhan ibunya, apa pun rintangan yang harus ia hadapi, termasuk melawan sang naga.

Joya adalah seorang gadis pemberani yang tak takut pada apa pun. Namun, ada satu hal yang benar benar ia takuti: kehilangan ibunya. Ibu Joya telah sakit selama dua tahun. Selama itu pula Joya harus membagi waktunya antara sekolah dan mencari upah tambahan. Ia bekerja membantu tetangga, mengangkat air, membersihkan halaman, atau apa pun yang bisa menghasilkan sedikit uang untuk membeli obat.

Ia tak gentar meski sering diejek teman-temannya. Saat anak-anak lain pergi bermain sepulang sekolah, Joya justru sibuk bekerja. Ia lelah, tetapi tak pernah mengeluh. Baginya, kebahagiaan ibunya jauh lebih penting daripada kesenangan sesaat. Matahari menyingsing, cahaya lembutnya menyinari bumi. Pagi telah kembali, membawa harapan baru bagi Joya. Seperti biasa, ia harus membuatkan bubur untuk ibunya. Ia menyibakkan selimut, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum memulai aktivitas.

Sebelum memasak, Joya berniat menengok keadaan ibunya. Ia mengetuk pintu kamar dengan pelan. Namun, saat pintu terbuka, bau anyir langsung menyeruak menusuk penciumannya. Tubuh ibunya tergeletak di lantai, bersimbah darah yang keluar dari mulutnya.

“Ibu!” teriak Joya panik.

Dengan gemetar, ia berlari keluar rumah meminta bantuan tetangga. Beberapa orang datang dan membantu mengangkat ibunya ke atas kasur. Setelah memastikan ada yang menjaga, Joya segera bergegas menemui tabib tua di desa sebelah. Ia menunggang kudanya secepat mungkin, angin pagi menerpa wajahnya yang basah oleh air mata. Setibanya di rumah tabib tua, ia memohon dengan suara bergetar agar sang tabib mau menolong ibunya.

Namun, tabib tua itu hanya menggeleng pelan. “Carilah tabib yang lebih pintar dariku. Aku sudah tidak kuat lagi mengobati. Usia telah melemahkanku. Di desa dekat muara air ada seorang tabib yang pengobatannya lebih mujarab,” katanya lirih. Meski kecewa, Joya tidak menyerah. Ia kembali menggapai kudanya dan berangkat menuju desa yang dimaksud. Setibanya di sana, ia bertanya kepada penduduk sekitar hingga akhirnya menemukan rumah tabib muda itu, yang terletak tepat sebelum muara sungai.

“Inikah rumah tabib itu?” gumamnya pelan.

Ia mengetuk pintu. Seorang tabib muda keluar menyambutnya. Tanpa membuang waktu, Joya langsung menjelaskan keadaan ibunya. Tabib itu menyetujui untuk membantu dan segera ikut bersamanya.

Setelah memeriksa kondisi ibu Joya, sang tabib terdiam cukup lama. Joya menunggu dengan dada bergemuruh, takut mendengar kabar buruk.

“Ibumu bisa diselamatkan hanya dengan satu hal,” ujar sang tabib akhirnya. Hati Joya bergetar penuh harap. “Dengan apa?” tanyanya cepat. Tabib itu menatapnya ragu sebelum menjawab, “Middlemist Red.”

Seketika, hati Joya terasa sesak.

Joya bimbang. Haruskah ia pergi ke Lembah Surga? Ia takut menghadapi naga yang ganas. Namun, lebih menakutkan lagi membayangkan hidup tanpa ibunya. Ia tak mungkin membiarkan ibunya pergi tanpa perjuangan.

Akhirnya, Joya memutuskan untuk berangkat. Ia menguatkan hati dan terus merapalkan dalam batinnya, “Demi kesembuhan ibu.”

Ia menyiapkan bekal: sebuah peluit peninggalan mendiang ayahnya, roti kering, dan sebilah pisau kecil untuk berjaga-jaga. Setelah berpamitan kepada tetangga yang menjaga ibunya, Joya menunggang kudanya menuju lembah yang selama ini hanya ia dengar dalam cerita.

Perjalanan itu tidak mudah. Ia harus melewati sungai berarus deras, jalan berlumpur yang licin, dan hutan lebat yang dipenuhi suara-suara asing. Namun, tekadnya lebih kuat daripada rasa takutnya. Ia tak akan kembali sebelum mendapatkan bunga itu.

Akhirnya, Joya tiba di bibir lembah. Kabut tebal menyambutnya, menghalangi pandangan. Di kejauhan terdengar gemuruh air terjun. Ia tahu, ia hanya perlu menyusuri jalan hingga menemukan mata air tempat naga tinggal.

Sadar bahwa ia tak mungkin mampu melawan sang naga, Joya memilih untuk memohon izin.

Ia berdiri di tepi sungai dan berseru, “Wahai sang naga, izinkan aku mengambil bunga Middlemist Red untuk ibuku yang sakit!”

Tanah di sekitarnya bergetar. Air sungai bergolak, lalu muncullah seekor naga besar dari dalamnya. Sisiknya berkilau terkena cahaya matahari.

Naga itu tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Apakah kau sedang bercanda, gadis kecil?”

Joya beringsut mundur, tetapi tetap tegak berdiri. “Aku sungguh-sungguh memerlukan bunga itu untuk kesembuhan ibuku,” katanya dengan suara bergetar, namun penuh keyakinan.

Naga itu menatapnya tajam. “Bunga itu hanya akan mekar sepenuhnya bagi mereka yang berhati tulus. Jika niatmu tidak sungguh-sungguh, bunga itu tak akan mekar.”

Joya mengangguk mantap. Ia yakin ketulusannya tak perlu diragukan.

Tanpa diduga, naga itu meluruskan tubuhnya, membentuk jembatan di atas sungai.

“Lewatlah,” katanya singkat.

Dengan hati-hati, Joya melintasi tubuh naga dan memasuki lembah. Pemandangan di hadapannya membuatnya tertegun. Air terjun menjulang megah, dan hamparan bunga Middlemist Red tumbuh indah di antara rerumputan hijau. Tempat itu benar-benar seperti surga.

Ia melangkah mendekati salah satu bunga. Dengan perlahan, ia menyentuh kelopaknya. Seketika, bunga itu mulai mekar, membuka kelopak demi kelopak hingga memperlihatkan keindahannya yang sempurna.

Air mata Joya menetes. Ia memetik beberapa bunga dengan hati-hati, memastikan tak merusak tanaman lainnya.

Setelah itu, ia kembali ke tepi sungai. “Terima kasih, Naga. Atas petunjukmu, aku bisa menemukan bunga ini,” ucapnya tulus.

“Itu karena ketulusanmu sendiri,” jawab naga lembut. “Aku yakin ibumu akan sembuh.”

Sekali lagi naga itu membentuk jembatan, dan Joya melintasinya dengan selamat. Ia menoleh ke belakang dan tersenyum sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

Perjalanan kembali terasa lebih ringan. Seolah alam pun berpihak padanya. Tak lama kemudian, ia telah sampai di desa dan langsung menuju rumah tabib.

Tabib itu segera meracik bunga Middlemist Red menjadi ramuan. Aroma harum memenuhi ruangan kecil itu.

“Berikanlah ini kepada ibumu. Cepat atau lambat, kondisinya akan membaik,” ujar sang tabib.

“Terima kasih,” jawab Joya dengan mata berbinar.

Sesampainya di rumah, ia segera menghampiri ibunya. Dengan penuh harap, ia menyuapkan ramuan itu sendok demi sendok. Setelah ramuan habis, ia mengecup puncak kepala ibunya.

“Selamat tidur, Ibu. Semoga besok ada kabar baik,” bisiknya.

Malam itu Joya hampir tak bisa tidur. Ia terus berdoa dalam diam.

Pagi pun tiba dengan sinar hangat yang menyentuh wajahnya. Dengan jantung berdebar, ia memasuki kamar ibunya. Ia terdiam, lalu menutup mulutnya menahan tangis haru.

Ibunya sudah bisa duduk dan menatapnya dengan senyum lemah.

“Joya…” panggil ibunya lirih.

Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipi Joya. Setelah perjuangannya selama dua tahun, akhirnya keadaan ibunya membaik. Semua lelah, ejekan, dan ketakutan terbayar sudah.

Ia memeluk ibunya erat-erat. Dalam hati, ia bersyukur atas keberanian, ketulusan, dan kegigihan yang telah membawanya sampai di titik ini.

Berkat doa dan usaha yang berjalan beriringan, Joya akhirnya mendapatkan apa yang ia nantikan selama ini. Ia belajar bahwa ketulusan hati mampu membuka jalan, bahkan di tempat yang paling mustahil sekalipun.

Begitu pula dengan kita. Selama doa dan usaha terus berjalan berdampingan, harapan akan selalu menemukan jalannya. Entah hasilnya baik atau buruk, semuanya adalah bagian dari warna-warni kehidupan yang mengajarkan arti perjuangan dan cinta yang sesungguhnya.

Oleh: Dwi Nisriina Rektanaya, Siswi MAN 2 Kota Kediri.

Editor: Al Fatih

Advertisements
Sastra

Urupedia-Di bawah langit Kediri yang membara oleh senja,…

Gambar Revisi Hati-Al Fatih
Sastra

Urupedia-Di suatu pagi yang cerah, Vely seorang wanita…

Sastra

Urupedia-Setiap pagi ia bangun dari ranjangnya Ia sambung…