Sastra

Maafkan Ayah

×

Maafkan Ayah

Sebarkan artikel ini

Assalamualaikum warohmatulloh

Aku menutup sholat dhuha dengan salam dan dilanjut dengan panjatan doa. Waktu berjalan begitu cepat. Dua tahun telah berlalu semenjak aku memutuskan keluar dari status mayor. Entah sudah berapa kali hardikan dari orang-orang mampir di telinga. Namun aku memilih selalu abai hingga sekarang. Mereka tak akan mengerti perasaan bersalah yang harus kutanggung hingga mati.

“Ayah, minggu depan aku ulang tahun. Jangan lupa kadonya ya. Oh iya tadi ada yang telepon.” Tangannya menyerahkan ponsel milikku.

“Terima kasih. Iya Ayah ingat kok.”

Aku memeriksa bekas telepon. Itu dari Ibu Julia. Ia merupakan salah seorang aktivis lingkungan yang sedang menyeret perusahaan tambang raksasa ke pengadilan. Perusahaan yang sama yang bersekutu dengan kolonel—atasanku. Sekaligus alasan mengapa aku memilih mundur dari statusku. Ini bukan cerita heroik, ini hanyalah pengakuan dosa.

“Halo,” aku menelpon Julia.

“Halo, apa kau sudah siap?”

“…Kurasa siap.” Aku masih ragu dengan keputusanku. Semoga ini adalah pilihan terbaik.

“Tak perlu cemas. Kami menulis namamu sebagai anonim.”

Aku tahu itu percuma. Aku meninggalkan jejak cukup dalam. Teman seangkatanku terlebih atasanku tentu tahu siapa yang berkhianat. Di detik aku memutuskan mengambil pilihan ini, aku sudah berani menghadapi resikonya.

“Halo!” Tanya Julia memastikan telepon masih tersambung.

“Ah, maaf-maaf. Perkembangan sidang bagaimana?”

“Cukup buruk. Pengacara mereka berhasil membolak-balikkan fakta. Anak yang tewas tersedot lubang bekas tambang, pulau rusak dengan bayi-bayi yang terlahir cacat, pekerja upah rendah yang dibungkam. Semua mereka siasati, semua dimanipulasi.”

“Begitu ya. Nanti aku bersaksi pukul berapa?”

“Pukul 03.00 sore. Aku akan menjemputmu secara pribadi.”

“Hati-hati. Semoga persidangan ini menjadi secercah harapan terhadap negeri yang diinjak-injak oligarki.”

Aku menutup telepon. Mungkin aku harus menceritakan sepenggal hidupku. Kisah yang dulu begitu kubanggakan. Sebuah kisah yang kupikir aku mengabdikan diri untuk negeri Indonesia. Nyatanya kisah seorang pengkhianat negara yang mengabdi pada kolonel yang kini sudah berstatus sebagai laksamana madya.

Delapan tahun lalu ketika aku masih berstatus perwira. Sebuah misi dilayangkan untuk mengamankan pulau kecil yang ada di Kepulauan Maluku. Masyarakat menatap kami dengan benci. Beberapa melempari kami dengan batu. Namun kami merangsek maju hingga bangunan besar yang berdiri di tengah pulau.

Vuut Ain ni Ain” Ucap salah seorang TNI AD menyambut kami. Saling memberi salam dan merangkul sebagai simbol keakraban.

Di sana kami dijamu sembari mengobrol. Sedangkan kolonel laut tengah sibuk berbincang dengan kolonel darat di ruangan khusus. Singkatnya di sana kami diberi misi menjaga bangunan yang mana sedang bersitegang terhadap warga. Waktu itu aku tak mengerti mengapa mereka mengamuk. Yang aku pikirkan tak lebih dari menjalankan misi sebaik mungkin.

Keesokan harinya keributan pecah. Masyarakat bersatu, berteriak, dan mengusir. Kami mempertahankan benteng sebaik mungkin. Namun bertahan terus menerus tak akan menyelesaikan masalah. Setelah lebih dari 12 jam bertahan. Pada akhirnya atasan memberi kami izin untuk melumpuhkan.

Kerusuhan pada akhirnya reda. Namun menyisakan mendung begitu pekat di hati orang-orang. Puluhan warga dan TNI tewas. Luka berat menganga sepanjang jalan. Rintihan menggema di seluruh pulau. Tak ada yang bisa dilakukan. Puskesmas terdekat saja harus menyusuri lautan. Air bersih untuk steril hanya ada dalam kemasan. Mungkin pemandangan ini adalah cara alam memberi pelajaran.

Dua tahun setelahnya posisiku dipromosikan sebagai mayor. Aku mulai menyadari operasiku dulu tak lebih dari ekspansi lahan tambang. Masih terekam jelas pemandangan yang kekal menghantuiku. Yakni seorang pemuda 17-an tahun tewas tertimbun puing puing bangunan sembari memeluk adiknya yang masih balita. Entah kemana orang tua mereka. Namun anak itu kini disampingku—sebagai adopsi.

Tak berselang lama atasanku mengajak berbicara empat mata. Ia menunjukkan investigasi yang menyebut operasiku sebagai pelanggaran HAM, dengan aku yang menjadi kambing hitam. Aku awalnya tak masalah dipecat tak hormat. Namun ketika ia mengancam keselamatan seluruh keluarga besarku, di situlah aku luluh. Pada akhirnya aku ikut serta bermain di bawah meja.

Bertahun-tahun waktu berjalan normal. Aku sadar terlibat dalam konspirasi. Entah mana yang benar dan salah, bagiku tak ada bedanya. Yang pasti karierku stabil. Aku mulai mengenal dunia yang dulu hanya kuanggap sebagai fiksi. Oknum itu tidak pernah ada, karena kami semua sama bangsatnya. Namun suatu hari putraku bertanya.

“Yah, guruku tadi memberi kami pertanyaan bahwa babi itu haram begitu pula uang korupsi. Lantas jika terpaksa harus makan dari salah satu sumber manakah yang lebih baik, Yah?”

“Kalau menurutmu kamu memilih yang mana?”

“Aku memilih makan daging babi. Soalnya aku hanya merugikan diri sendiri dan bisa bertobat setelahnya. Kalau aku korupsi akan merugikan sangat banyak orang, dan mungkin aku tak akan ada kesempatan meminta maaf.”

Tuhan sungguh menguji dan mengingatkan hamba-Nya dari arah yang tak disangka-sangka. Aku tak tahu apakah dengan mengundurkan diri dan menggunakan sisa hidupku dalam pengabdian mampu menebus dosa-dosaku. 

Assalamu’alaikum,” diikuti suara pintu yang diketuk.

“Iya, sebentar.” Aku berjalan segera membukakan pintu.

“Kabar baik Tuan Edra?”

Alhamdulillah. Sudah waktunya berangkat?”

Julia membalasnya dengan mengangguk menyetujui ucapanku. Ia segera kembali ke mobil yang masih parkir sembarangan di jalan. Yah, aku rasa tak perlu bersiap juga. Segera aku menyusul ke dalam mobil. 

Gedung sidang kurang lebih berjarak 20 km. Mata julia tampak awas. Ia bahkan menyewa mobil balap khusus untuk menjemputku.

“Hei, kita bukannya mau ke persidangan? Pakai acara pakai mobil sport segala.”

Belum sempat Julia menjawab, ia mengencangkan gas. Kecepatannya nyaris 250 km/jam. Mungkin itu masih jauh dari kecepatan maksimalnya. Namun, berbeda cerita karena ini berada di tengah lalu lintas yang ramai. 

Suara klakson bersahutan sepanjang jalan. Beberapa kali peluru menghujam, untungnya kaca mobil sudah dimodifikasi Julia dengan kaca anti peluru. Beberapa kali kendaraan besar seakan sengaja menabrakkan diri. Beruntungnya Julia sangat lihai dalam menyetir. Ia masuk ke gang sempit dan berkelok kelok dengan lincah. Sesekali suara makian terdengar dari pedagang yang terserempet karena ruas jalan yang kurang lebar.

Setelah 15 menit yang penuh drama. Tibalah kami di parkiran gedung persidangan. 

“Lantai berapa?” Tanyaku.

Aku membuka pintu mobil dan berjalan ke luar terlebih dahulu. Sembari menunggu Julia ke luar, aku mengecek jam tangan yang sedang kupakai. Sekarang pukul 14.46. Belum usai Julia menutup pintu, sebuah kilatan cahaya terlintas tertangkap mata. Peluru mendesing cepat tanpa aku sadari.

Brukkk…

Aku tergeletak begitu saja. Menatap Julia yang tampak abu-abu berteriak tanpa suara. Semilir angin berhembus memberi salam dari depan hingga belakang kepala. Maafkan ayah ya, telah memberimu makan uang haram.

Penulis: Muhammad Sholihudin

Editor: Al Fatih

Advertisements
Sastra

Desa Harum adalah sebuah desa kecil yang terletak…

Sastra

Urupedia-Tersebutlah sebuah kabupaten di bagian timur Pulau Jawa….

Sastra

Urupedia-Konon, di balik air terjun yang indah terdapat…

Sastra

Urupedia-Di bawah langit Kediri yang membara oleh senja,…