
Urupedia.id- Rok itu masih tergantung di belakang pintu kamar Nabila.
Hitam, sederhana, dan masih menyimpan lipatan bekas setrika dari toko.
Di sampingnya tergantung sebuah kemeja putih yang dibelinya khusus untuk hari pertama menjadi mahasiswa.
Keduanya tampak seperti sepasang benda yang sedang menunggu seseorang pulang.
Padahal, tidak ada yang akan memakainya.
Setidaknya tahun ini.
Kamar kecil di rumahnya di Desa Nglutung, Kecamatan Sendang, Tulungagung, siang itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di atas meja belajar, berserakan benda-benda yang beberapa hari sebelumnya tampak seperti persiapan menuju masa depan.
Ada bukti pembayaran UKT. Ada catatan harga tiket bus menuju Tulungagung.
Ada percakapan WhatsApp dengan teman-teman SMA yang sudah sibuk membicarakan kamar kost, jadwal PBAK, kelompok mahasiswa baru, hingga pertanyaan sederhana seperti, “Nanti habis PBAK makan di mana?”
Bagi orang lain, semua itu mungkin hanya hal kecil.
Bagi Nabila, semuanya adalah serpihan masa depan.
Masa depan yang sempat terasa begitu dekat.
Beberapa minggu sebelumnya, ia sering membayangkan perjalanan menuju kampus.
Ia membayangkan duduk di dalam bus dari Sendang menuju Tulungagung, membawa tas di pangkuan, sementara matanya memandang jalan dari balik jendela.
Ia membayangkan gerbang .
Membayangkan lorong-lorong kampus.
Ruang kelas yang belum pernah dimasukinya.
Wajah-wajah yang belum dikenalnya.
Dan yang paling sering ia bayangkan adalah hari pertama PBAK.
Ia akan datang bersama teman-teman barunya.
Mereka mungkin akan mengeluh karena harus bangun terlalu pagi, tertawa karena salah memakai atribut, saling bertanya tentang tugas, kemudian pulang bersama dalam keadaan lelah.
Sederhana.
Sangat sederhana.
Namun bagi seseorang yang bertahun-tahun menunggu kesempatan untuk kuliah, kesederhanaan itu terasa seperti kemewahan.
Nabila sudah mempersiapkan semuanya.
Rok sudah dibeli.
Baju sudah tersedia.
UKT sudah dibayar.
Uang muka kost sudah diberikan.
Harga tiket bus sudah dipantau dari hari ke hari.
Seolah-olah hidup sedang berkata kepadanya,
Sebentar lagi.
Sebentar lagi kamu berangkat.
Sebentar lagi kamu menjadi mahasiswa.
Sebentar lagi semua perjuanganmu menemukan tempat untuk berlabuh.
Nabila percaya.
Terlalu percaya, mungkin.
Sebab sejak SMP hingga SMA, ia selalu percaya bahwa nilai adalah salah satu jalan keluar dari kemiskinan yang diam-diam mengintai keluarganya.
Ia belajar sungguh-sungguh. Bangun sebelum subuh. Membaca buku ketika teman-temannya masih tidur. Menyelesaikan tugas sampai malam. Menjaga nilai rapor seperti seseorang menjaga tiket menuju kehidupan yang lebih baik.
Rata-ratanya 94,30.
Bagi orang lain, itu hanya angka.
Bagi Nabila, angka itu adalah sejarah.
Di dalamnya ada pagi-pagi yang terlalu dini, malam-malam panjang, rasa takut menjelang ujian, dan sebuah keyakinan sederhana bahwa jika ia berusaha cukup keras, suatu hari pintu itu akan terbuka.
Dan pintu itu memang terbuka.
Namanya dinyatakan diterima di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Program Studi Hukum Tata Negara, melalui jalur nilai rapor.
Tanpa ujian.
Hari pengumuman itu menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya.
Nabila membaca pengumuman itu berkali-kali.
Ia memastikan namanya.
Memastikan nomor pendaftarannya.
Memastikan sekali lagi.
Lalu ia berlari menemui ibunya.
“Bu, aku keterima.”
Ibunya, Siti Aminah, sedang menjemur pakaian di halaman rumah ketika mendengar kabar itu.
Untuk beberapa saat, perempuan itu hanya diam.
Kemudian memeluk anaknya.
“Alhamdulillah.”
Hanya satu kata.
Tetapi diucapkan dengan mata yang basah.
Ayah Nabila, Pak Harun, malam itu juga tersenyum ketika mendengar kabar tersebut. Ia tidak banyak bicara. Lelaki itu hanya mengangguk dan berkata,
“Yang penting kamu serius belajar.”
Nabila mengangguk.
Ia tidak tahu bahwa beberapa minggu kemudian kalimat itu akan terdengar begitu jauh.
Masalahnya bukan lagi soal diterima atau tidak.
Masalahnya adalah berangkat atau tidak.
Suatu malam, Pak Harun memanggil Nabila ke ruang tengah.
Lampu rumah menyala redup. Televisi dibiarkan tanpa suara. Ibunya duduk di sebelah ayahnya sambil menundukkan kepala.
Nabila sudah tahu dari wajah mereka bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja.
“Ayah mau ngomong.”
Nabila duduk.
Pak Harun menarik napas panjang.
“Kuliahmu… sepertinya belum bisa tahun ini.”
Nabila tidak langsung menjawab.
“Maksud Ayah?”
“Keadaan belum memungkinkan.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat dada Nabila terasa kosong.
Ia mencoba tersenyum.
“Kan UKT sudah dibayar, Yah.”
“Ayah tahu.”
“Kost juga sudah.”
“Ayah tahu.”
“Aku bisa cari beasiswa.”
Pak Harun diam.
“Aku juga bisa kerja sambilan.”
Masih diam.
“Aku nggak akan minta banyak.”
Kali ini ayahnya menatapnya.
“Bukan soal kamu minta banyak atau sedikit, Bil.”
Suara Pak Harun pelan.
“Sekarang keluarga memang belum mampu.”
Nabila menunduk.
“Ayah minta kamu kerja dulu. Bantu keluarga. Kalau keadaan sudah membaik, tahun depan kuliah lagi.”
Tahun depan.
Dua kata yang terdengar sangat pendek ketika diucapkan.
Tetapi malam itu, bagi Nabila, dua kata itu seperti sebuah jalan panjang yang tidak terlihat ujungnya.
Ia tidak menangis.
Tidak di depan ayahnya.
Ia hanya mengangguk.
“Iya, Yah.”
Lalu masuk kamar.
Menutup pintu.
Dan duduk di lantai.
Di hadapannya, rok hitam itu masih tergantung.
Baju PBAK masih berada di sampingnya.
Nabila menatap keduanya lama sekali.
Barangkali saat itulah ia sadar bahwa benda-benda bisa menyimpan kesedihan.
Rok itu.
Baju itu.
Bukti pembayaran UKT.
Tas yang sudah disiapkan.
Semua tiba-tiba berubah menjadi kenangan, padahal belum pernah digunakan.
Ia bahkan belum sempat menjadi mahasiswa untuk kemudian kehilangan status itu.
Ia kehilangan sesuatu yang belum sempat ia miliki.
Dan barangkali itulah jenis kehilangan yang paling sulit dijelaskan.
Beberapa hari kemudian, PBAK dimulai.
Ponsel Nabila menjadi lebih ramai dari biasanya.
Teman-teman SMA mengunggah foto.
Ada yang berfoto di depan gedung kampus.
Ada yang memakai atribut mahasiswa baru.
Ada yang tertawa bersama kelompok barunya.
Ada yang menulis,
“Finally, mahasiswa!”
Nabila membuka satu demi satu.
Ia tidak membenci mereka.
Sungguh.
Ia bahagia melihat teman-temannya bahagia.
Namun setiap foto membawa sebuah pertanyaan kecil yang tidak pernah ia minta untuk muncul.
Seharusnya aku ada di sana.
Ia menutup ponsel.
Beberapa menit kemudian membukanya lagi.
Barangkali begitulah cara seseorang menyakiti dirinya sendiri tanpa sadar: terus melihat sesuatu yang ia tahu akan membuat dadanya sesak.
Di layar, orang-orang seusianya sedang belajar menjadi mahasiswa.
Di rumah, Nabila sedang belajar menerima bahwa dirinya belum boleh menjadi salah satunya.
Ia kemudian teringat teman-teman satu jurusannya.
Mereka yang semula hanya nama di layar perlahan menjadi orang-orang yang ia tunggu untuk ditemui.
Ia pernah membayangkan berjalan bersama mereka setelah PBAK.
Mencari makan.
Mengobrol sampai lupa waktu.
Pulang ke kost.
Membicarakan dosen.
Membicarakan tugas.
Membicarakan masa depan dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sedang berada di awal perjalanan.
Kini ia harus mengirim pesan yang paling tidak ingin ia kirim.
“Aku nggak jadi kuliah tahun ini.”
Pesannya pendek.
Tetapi untuk mengetiknya, Nabila membutuhkan keberanian yang tidak sedikit.
Sebab ada mimpi yang harus dijelaskan dengan satu kalimat.
Dan tidak semua orang mengerti bahwa satu kalimat bisa mengandung satu tahun kesedihan.
Malam semakin larut.
Nabila akhirnya membuka akun Instagram panitia PBAK.
Ia menatap kolom pesan cukup lama.
Jarinya mengetik.
“Haiiii mimin…”
Kemudian berhenti.
Ia menghapusnya.
Menulis lagi.
“Hai, Min. Maaf mengganggu.”
Berhenti lagi.
Kemudian entah dari mana keberanian itu datang, semuanya tumpah.
Tentang rok.
Tentang baju.
Tentang UKT.
Tentang kost.
Tentang tiket bus.
Tentang ayah.
Tentang ekonomi keluarga.
Tentang nilai 94,30.
Tentang diterima di UIN SATU.
Tentang PBAK.
Tentang teman-temannya.
Tentang mimpi yang mendadak harus ditaruh di rak paling tinggi karena belum bisa dijangkau.
Ia menulis panjang.
Lalu meminta maaf.
“Maaf ya, Min, kalau ceritanya kepanjangan.”
Setelah menekan tombol kirim, ia meletakkan ponselnya.
Malam itu ia tidak membutuhkan jawaban.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau membaca sampai selesai.
Seseorang yang tidak buru-buru berkata,
“Semua pasti ada hikmahnya.”
Sebab terkadang orang yang sedang sedih tidak membutuhkan hikmah.
Ia hanya ingin kesedihannya diakui.
Ia ingin seseorang berkata,
“Iya. Itu memang menyakitkan.”
Dan memang menyakitkan.
Sebab Nabila bukan hanya kehilangan PBAK.
Ia kehilangan sebuah versi masa depan yang sudah terlalu lama ia bangun dalam pikirannya.
Namun ada sesuatu yang membuat pesannya terasa berbeda.
Ia tidak mengutuk keadaan.
Ia tidak menyalahkan ayahnya.
Ia bahkan masih mendoakan agar PBAK tahun itu berjalan lancar.
Ia mendoakan panitia.
Ia mendoakan kampus yang belum sempat didatanginya.
Lalu di akhir pesan, ia menulis satu permintaan sederhana.
Semoga Ayah menepati janjinya.
Semoga tahun depan aku benar-benar bisa kuliah.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi satu tahun kemudian.
Barangkali keadaan berubah.
Barangkali tidak.
Barangkali Nabila harus bekerja lebih lama.
Barangkali ia menemukan beasiswa.
Barangkali hidup justru membawanya ke jalan yang sama sekali berbeda.
Tetapi untuk malam itu, ia tidak perlu mengetahui semuanya.
Ia hanya perlu bertahan.
Sebab tidak semua perjalanan harus dimulai tepat pada waktunya.
Ada orang-orang yang berangkat ketika matahari terbit.
Ada yang berangkat ketika sore.
Ada pula yang harus menunggu malam berlalu sebelum menemukan jalannya sendiri.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Sebab waktu tidak pernah benar-benar menjadi ukuran bagi sebuah mimpi.
Mimpi hanya perlu dijaga.
Dan Nabila masih menjaganya.
Di belakang pintu, rok itu masih tergantung.
Baju PBAK masih tersimpan di lemari.
Mungkin nanti akan kekecilan.
Mungkin warnanya akan sedikit berubah.
Mungkin tahun depan ia membeli yang baru.
Tidak apa-apa.
Yang penting, ia belum membuangnya.
Sebab mungkin tanpa ia sadari, ia sedang menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sepotong pakaian.
Ia sedang menyimpan harapan.
Setahun kemudian, pada suatu pagi di bulan Agustus, seorang perempuan muda berdiri di depan gerbang kampus.
Namanya Nabila.
Ia datang sendirian.
Tidak ada rombongan.
Tidak ada musik kemenangan.
Tidak ada kamera yang menunggunya.
Hanya sebuah tas di punggung dan langkah yang sedikit gemetar.
Di hadapannya berdiri gedung-gedung yang dulu hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel.
Mahasiswa berlalu-lalang.
Sebagian tertawa.
Sebagian berlari mengejar kelas.
Sebagian duduk di bawah pohon sambil membuka laptop.
Kampus itu ternyata sama seperti yang pernah dibayangkannya.
Namun juga berbeda.
Sebab kini ia berada di dalamnya.
Nabila berhenti beberapa saat.
Ia memandang gerbang kampus.
Kemudian tersenyum.
Bukan karena satu tahun yang ia lalui mudah.
Justru karena ia tahu betapa sulitnya sampai ke sana.
Ia mengingat rok yang pernah tergantung di belakang pintu.
Mengingat baju yang tidak jadi dipakai.
Mengingat tiket bus yang tidak pernah dibeli.
Mengingat teman-teman yang dahulu hanya bisa ia lihat dari layar.
Mengingat malam ketika ia menulis kepada panitia karena tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Lalu ia tertawa kecil.
Ternyata satu tahun tidak membunuh mimpinya.
Satu tahun hanya mengajarinya cara menunggu.
Ia mengusap tali tas di bahunya.
Kemudian melangkah.
Pelan.
Tidak tergesa-gesa.
Seperti seseorang yang akhirnya memahami bahwa setiap orang memiliki musimnya sendiri.
Ada yang datang lebih dahulu.
Ada yang terlambat.
Tetapi terlambat bukan berarti tidak sampai.
Sebelum masuk lebih jauh, Nabila menoleh sekali ke belakang.
Dalam hati ia berkata,
Maaf karena dulu aku mengira aku gagal.
Sebab akhirnya ia mengerti.
Ia bukan mahasiswa yang gagal menjadi mahasiswa.
Ia hanya seseorang yang harus kehilangan satu tahun untuk memahami betapa mahalnya sebuah kesempatan.
Dan ketika akhirnya ia benar-benar sampai di kampus itu, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa perjalanan menuju gerbang tersebut pernah begitu panjang.
Tidak ada yang tahu tentang ayahnya.
Tidak ada yang tahu tentang uang yang tidak cukup.
Tidak ada yang tahu tentang rok hitam di belakang pintu.
Tidak ada yang tahu tentang pesan panjang kepada panitia PBAK.
Tidak ada yang tahu berapa kali ia hampir menyerah.
Tetapi mungkin memang begitulah sebagian besar perjuangan manusia.
Ia tidak selalu disaksikan.
Tidak selalu dipuji.
Kadang-kadang perjuangan hanya diketahui oleh orang yang menjalaninya dan Tuhan yang menyaksikannya.
Nabila kembali melangkah.
Di antara riuh mahasiswa yang sedang memulai hari, ia tersenyum sambil berbisik kepada dirinya sendiri,
“Ternyata aku sampai juga.”
Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terdengar seperti kemenangan.
Oleh Asa Rizky Maulana Azizir rohim
Editor Krisna Wahyu Yanuar Rizki






