Sastra

Pemburu Fakta

×

Pemburu Fakta

Sebarkan artikel ini
Gambar Pemburu Fakta-Red-Akal Imitasi

“Koran, koran, korannya, Mas, Mbak.”

Seorang gadis yang duduk di halte sebuah perkampungan menatap lekat bapak-bapak penjual koran yang menawarkan dagangannya di trotoar. Dia adalah salah satu remaja yang masih tertarik dengan media berita legendaris itu. Terbukti ketika ia beranjak meninggalkan koper hitamnya di atas bangku halte. Dengan wajah penasaran, menghampiri sang penjual koran.

“Apa berita utamanya, Pak?” tanya gadis berkemeja kotak-kotak hitam putih dengan senyum santainya.

“Ini, Mbak,” jawab penjual koran berkemeja batik itu sambil menyodorkan isi halaman koran yang penuh tulisan dengan headline yang ditulis besar.

“Seorang Mahasiswa di Salah Satu Kampus Swasta Meninggal Dunia akibat Kelalaian Berkendara.” Seorang gadis bernama Raisa itu mengeja judul berita dengan pelan sambil memiringkan sedikit kepala.

“Mangga dibeli, Mbak!”

Suara penjual koran itu berhasil menyadarkan Raisa yang masih menyelami judul berita yang dia rasa masih ada yang janggal dan kurang meyakinkan.

“Iya deh, beli satu, ya, Pak,” balas Raisa, kemudian menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan dari saku celana crop hitamnya.

“Terima kasih, Pak.” Setelah Raisa menerima koran, sebuah bus yang dinantikannya berhenti di depan halte. Dia segera mengambil koper dan masuk ke dalam bus yang hendak menuju ke kota. Bersama dengan orang-orang yang memilih pergi ke pusat kota di hari Minggu yang terik.

“Apa yang aneh dari teks berita ini, ya?” gumam Raisa mengerutkan dahi setelah membaca keseluruhan isi berita utama di koran yang tadi dia beli. Berpikir keras di balik jendela bus yang mulai memasuki area kota.

Di sepanjang jalan padat dengan terik yang menyengat di luar. Raisa menikmati dingin udara di kendaraan ber-AC itu sambil membolak-balikkan lembar demi lembar isi koran. Ini adalah minggu kedua dia keluar dari padatnya aktivitas perkuliahan untuk melaksanakan magang di sebuah kantor berita.

“Wih, pagi banget lo datangnya.”

Suara sedikit lantang yang berdengung di dekat telinga membuat Raisa menghela napas lelah. Baru lima menit menyandarkan kepala di meja depan komputer, sebuah lengan panjang dengan jaket berbulu halus itu bertengger di bahu Raisa dan membuatnya terpaksa menegakkan tubuh dan kepala. Pemilik suara dan lengan tersebut adalah sahabat kecil yang kini menjadi atasannya di kantor berita Ibu Kota—tempat dia magang.

“Gue masih ngantuk, Nil,” ujar Raisa yang masih mengumpulkan kesadaran sambil melirik jam dinding di belakangnya dan menatap sekeliling. Rupanya belum ada yang datang selain mereka berdua. Sebagai anggota magang yang masih baru, Raisa berusaha untuk menghindari drama keterlambatan.

“Cuci muka dulu, sana! Pekerjaan kita hari ini banyak,” titah Nila sambil duduk merapikan meja kerja di samping Raisa. “Jangan lupa buka tirainya!”

Sebagai satu-satunya mahasiswa jurusan Broadcasting yang direkomendasikan oleh Nila untuk bekerja di tempatnya, Raisa berusaha melakukan yang terbaik dan patuh terhadap senior. Meskipun pada sahabatnya sendiri yang sering bertingkah mengesalkan. Karena tanpa teman karibnya itu, dia tidak mungkin berkesempatan membangun pengalaman berharga di sana.

Setelah membersihkan muka di toilet kantor, Raisa menggeser kursi ke samping Nila. Memilah peralatan apa saja yang menemani gadis berambut sebahu itu bekerja sepanjang hari. Hingga tanpa sengaja, kedua mata Raisa memusatkan titik fokus saat melihat selembar potongan kertas bertuliskan tinta merah yang terselip di antara peralatan menulis. Kalimat yang terukir di sana sama persis dengan judul berita yang masih mengganjal dalam benak sejak kemarin siang.

“Nil, ini judul berita?” tanya Raisa mengalir begitu saja. “Lo yang buat kemarin?” “Bukan gue yang buat,” jawab Nila santai sambil membalas pesan-pesan dari klien. “Kemarin awalnya buat gue, tapi kebetulan gue ada jadwal wawancara dadakan di

sebuah TKP penculikan anak.”

“Kenapa ditulis di kertas?” tanya Raisa sambil mengelus-elus potongan kertas yang tak beraturan itu.

“Entah, kemarin bos menyerahkan itu ke gue.”

Keduanya sontak menoleh ke pintu utama ruangan ketika seorang laki-laki tampan dan terlihat arogan dengan jas kebesarannya berjalan memasuki ruangan untuk membagi tugas kepada bawahannya. Termasuk Raisa yang kebetulan masih dalam tahap tumbuh-kembang. Tanpa bisa berbasa-basi kembali, seluruh pekerja di ruangan itu mulai sibuk dengan tugas saat

jam kerja dimulai. Sebagian dari mereka mulai menarikan jemari di atas papan ketik, sebagian yang lain keluar kantor untuk mendatangi wawancara di berbagai tempat.

Dan Raisa, harus mengawali Senin paginya dengan tugas wawancara ringan dengan seorang mahasiswa baru yang menjadi korban bullying di sebuah kampus negeri.

Gadis berambut panjang kecokelatan yang dikucir itu menghela napas panjang. “Oke, semangat, Raisa. Mari mencari kebenaran dan membantu mereka yang membutuhkan.”

Raisa tahu betul bahwa kondisi di dunia pemberitaan saat ini sering kali mengalami penyimpangan, baik di media online maupun media cetak. Sebagai akibat dari adanya para oknum yang sengaja mengada-ada sebuah berita, memutar balikkan fakta, menyusun alur dusta, dan rela membayar mahal demi itu. Serta para jurnalis yang lebih mengutamakan uang daripada menegakkan prinsip-prinsip dalam jurnalistik. Oleh sebab itu, dia memiliki ambisi besar untuk memberantas segala tindakan penyelewengan di bidang yang digelutinya.

“Orang gila seperti apa yang berani-beraninya menetapkan korban yang sudah meninggal sebagai tersangka!”

Teriakan keras milik seorang ibu-ibu di depan kantor bernuansa kecokelatan itu membuat langkah Raisa benar-benar terpaku di tempat ia berdiri. Kedua bola matanya melebar dan menatap tajam. Dia membiarkan angin menerpa rambut tebal panjangnya.

“Pokoknya saya nggak terima. Sampai mati pun saya nggak akan terima. Pasti pelaku punya banyak uang, makanya cukup berani untuk bersembunyi dan menginjak-injak kami yang cuma rakyat kecil. Nggak selamanya kezaliman bisa dibungkam, Pak!”

Apa ini? Apakah ini nyata? Di depan mata? Raisa masih berusaha mengeja dengan keras setiap kalimat yang dilontarkan wanita paruh baya itu. Dia bisa melihat jelas kejujuran yang berusaha diteriakkan oleh seorang ibu demi anaknya. Kedua mata dan tubuh berisi yang sedikit gemetar itu telah menyimpan emosi atas ketidakadilan.

“Maaf, Bu. Kami bisa menuntut Anda atas tindakan pembuat keributan. Kasus yang terjadi pada anak Anda akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Bersiaplah untuk menerima keputusan apa pun di persidangan.” Salah seorang pria berseragam yang berdiri di depan pintu masuk itu terus menekan ibu tersebut untuk berhenti membual. Kedua rekan polisi di sampingnya tak berhenti memasang wajah tegas.

“Kalau Anda masih tidak mau pergi dari tempat ini, kami terpaksa akan mengusir

paksa.”

“Saya nggak akan pergi sebelum kalian bersedia menyelidiki kasus ini dengan benar!”

tukas ibu tersebut.

“Kami sudah menyelidiki dengan benar, Bu!” teriak polisi tersebut tidak kalah keras. “Anda pikir tugas polisi cuma mengarang cerita? Sudah jelas bahwa itu kecelakaan tunggal.”

“Dasar polisi tidak berguna! Kalian itu cuma bisa memutarbalikkan fakta! Saya tahu anak saya tidak cukup bodoh untuk membahayakan diri sendiri. Pasti ada orang lain, Pak!”

“Cukup! Usir dia!” bentak polisi yang bertubuh paling besar sambil memberi isyarat kepada satpam di sebelahnya untuk membawa wanita itu.

“Berhenti!” teriakan Raisa yang telah berdiri di tengah-tengah pergulatan hebat tersebut mengambil alih perhatian seluruh orang. Menuntut penjelasan atas pertanyaan dari manusia-manusia yang melihat.

Polisi yang tampak seperti pemimpin itu berkata kepada Raisa dengan tenang. Setelah menatap penampilan gadis di depannya secara keseluruhan. “Kamu sebaiknya tidak usah ikut campur, Anak Muda. Belajar saja dengan benar di kampusmu!”

“Mohon maaf, Bapak. Saya dari kantor berita ‘Suara Rakyat’ meminta izin untuk membuat berita tentang tindakan Bapak yang kurang ajar terhadap keluarga korban yang ingin menuntut kebenaran. Serta membuka fakta bahwa ada polisi yang sengaja mempermainkan jabatan kepolisiannya,” ucap Raisa panjang lebar sambil menyodorkan kartu anggota yang tadi berada di saku di depan wajah tiga polisi itu. Dia lupa mengalungkan di leher jenjangnya. Meski dengan sedikit gemetar, gadis berambut sedikit kecokelatan itu berusaha menekan rasa takut.

Tapi nahas respon ketiga polisi dan satpam yang mendengar itu tidak sesuai dengan harapan Raisa. Karena bukannya takut, mereka justru tertawa begitu lebar seolah telah memenangkan sesuatu.

Sambil berusaha untuk tetap tenang, Raisa beralih mendekati ibu yang mencoba mengatur napasnya.

“Anak Muda, nggak usah berpura-pura membela ibu itu. Bukannya salah seorang anggota di kantor beritamu itu yang menerbitkan berita tentang kasus ini dan menerangkan bahwa anak ibu itu sebagai tersangka.”

Bagai mendapat pukulan tepat di ulu hati, Raisa perlahan melepaskan rangkulan pada ibu tersebut. Dia benar-benar tidak tahu mengenai hal ini. Mengapa dia tidak berpikir sebelumnya bahwa dia telah menjadi bagian dari kantor berita. Di tengah-tengah kemarahan pada diri sendiri, dia teringat dengan judul berita yang mengganjal dalam pikirannya.

“Apakah, anak ibu, adalah mahasiswa di kampus swasta yang meninggal karena kecelakaan dua hari yang lalu?” tanya Raisa terputus-putus.

“Be-benar,” jawab Ibu tersebut sambil menatap Raisa penuh harap. Namun, sepertinya harapan itu telah pupus bahkan sebelum diterbangkan.

Suasana cukup hening ketika Raisa terdiam dengan tatapan melayang pada satu titik. Sedangkan para polisi yang merasa sudah menjatuhkan lawan, kembali masuk ke dalam untuk menikmati jabatan dan gaji haramnya.

“Ibu, tolong kasih saya waktu. Tolong percaya kepada saya sekali saja. Saya berjanji akan mengungkap kebenarannya.”

Tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mengalahkan tekad besar dan berapi-api dari seorang korban ketidakadilan yang direndahkan. Kemarahan dan pemberontakan yang memanas di hati telah membakar seluruh rasa takut dan sifat pengecut yang ada dalam diri Raisa.

Masih di hari yang sama, gadis berusia dua puluh tahunan itu kembali ke kantor di saat para pekerja jam pagi bersiap-siap untuk pulang. Sebagai titik awal dari pertempurannya, dia harus tahu siapa yang membuat berita tidak benar itu. Tanpa peduli meski mentari mulai menampakkan cahaya senja di ufuk barat.

Menyadari kedatangan Raisa dengan pergerakan yang cukup gesit dan tidak sabaran.

Nila menatap waspada sahabatnya. “Ke—?”

“Nila! Mana kertas bertuliskan judul berita yang kita bahas tadi pagi?” desak Raisa tanpa berhenti menelusuri setiap sudut meja kerja Nila.

“Tadi lo letakkan di mana? Gue nggak nyimpen,” jawab Nila sedikit terbawa rasa panik. “Ada masalah apa, Ra? Cerita ke gue.”

Pandangan Raisa berhenti pada bulatan kertas di samping keranjang sampah. Ada bekas cengkeraman di sana. Sudah tampak jelas bahwa seseorang berusaha merusak dan membuangnya.

Tanpa memberi penjelasan ke Nila yang kebingungan, Raisa mengambil bulatan tersebut dan membuka hingga kembali ke wujud semula.

“Siapa yang menulis berita dengan judul ini kemarin?” tanya Raisa sambil mengibaskan kertas di udara. Suara tinggi yang terdengar oleh seluruh karyawan di ruang kerja membuat mereka terpaksa menghentikan aktivitas berkemasnya. “Kenapa berita cacat seperti ini bisa diterbitkan?”

Nila yang merasa bertanggung jawab dengan Raisa berjalan mendekat. “Raisa, berita cacat apanya? Di sini kami hanya menulis berdasarkan kebenaran yang kami terima.”

“Tapi itu bukan kebenarannya, Nil. Pasti ada yang tidak beres di sini,” sanggah Raisa.

“Hei, Anak Magang! Tahu apa kamu tentang yang benar dan salah. Selama bertahun-tahun kami bekerja, nggak ada orang yang pernah protes kayak kamu. Tugas kita hanya membuat berita, bukan penentu benar atau salahnya,” bentak seorang senior yang sudah cukup lelah dan ingin segera pulang ke rumah.

“Iya, Raisa. Aku udah bilang, kan, kalau judul itu dikasih secara pribadi sama bos kemarin. Terlepas dari siapa penulisnya. Itu cuma perintah dari atasan. Kita harus patuh.” Nila mencoba memberi pengertian.

“Baiklah kalau kalian tidak mau mengaku, aku akan berbicara langsung dengan bos,” ucap Raisa sambil meraih tas kerja jenis ransel dan melangkah keluar dengan terburu-buru.

Nila yang melihat sahabatnya akan melakukan hal gila berusaha mengejarnya. “Raisa tunggu! Bos sedang ke luar kota!”

Mendengar informasi itu, Raisa menjeda pergerakan kakinya. Menarik napas lelah. Hingga terpikir bahwa untuk saat ini, tidak ada gunanya menghakimi seseorang yang bersalah di perusahaan. Karena mengungkap fakta tentang kesalahan penyelidikan polisi jauh lebih penting baginya untuk menerbitkan berita atas yang sebenarnya.

Melirik seseorang di samping, Raisa meraih kedua lengan sahabatnya itu. “Nila, lo tahu? Berita itu nggak benar. Tadi gue bertemu sama Ibu si korban. Dia melakukan demo di depan kantor polisi. Aku tahu dia berkata jujur. Anaknya nggak bersalah. Mahasiswa itu nggak bersalah. Dia cuma korban, ada tersangka lain yang disembunyikan.”

“Lo yakin?”

“Iya, gue nggak akan sejauh ini kalau nggak yakin,” ucap Raisa percaya diri.

“Oke, anggap saja apa yang lo katakan itu benar. Tapi, apa yang bisa lo lakuin, Ra? Lo masih magang. Lo nggak berniat merusak awal karier lo di dunia jurnalistik, kan?” tanya Nila sedikit gusar. “Jujur gue nggak mau melawan bos, walaupun dia benar-benar bersalah saat bekerja sama dengan pihak kepolisian dan tersangka.”

“Jadi lo benar-benar mau diam saja dengan ketidakadilan ini, Nil?” Ada kekecewaan cukup besar di mata Raisa yang mulai lelah.

“Maafin gue.”

“Baiklah, lo cukup lihat saja. Gue akan membuktikan bahwa memperjuangkan kebenaran dalam pekerjaan kita itu sangat penting dan tidak akan merusak karier, justru akan membangun kejayaan yang bermartabat. Alih-alih membangun kejayaan di atas penderitaan orang lain.”

Bertumpu pada keyakinan kuat, Raisa menelusuri segala sudut di TKP untuk mencari peluang yang bisa dijadikan barang bukti. Namun, tempat kecelakaan yang berada di antara

persawahan dan hamparan rumput yang sepi. Dia tidak bisa menemukan banyak CCTV, kecuali satu-satunya CCTV di lampu penerang jalan yang telah rusak atau sengaja dirusak.

Ini adalah hari kelima sejak Raisa pertama kali menjalankan peran sebagai detektif. Dia berharap bisa menemui seorang pekerja di sawah yang melihat kejadian di hari itu. Namun, sampai hari itu, tidak ada siapa pun. Di tengah rasa haus yang menekan tenggorokan dan panas terik yang menyengat. Dia mendudukkan tubuh di tepi trotoar jalan raya. Rasa putus asa mulai mengusik benak. Sambil mengamati kendaraan yang berlalu-lalang dengan jarang. Pandangannya tiba-tiba jatuh pada kepingan yang tampak seperti bagian dari sebuah mobil. Dari situ, Raisa merasa memiliki semangat lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Hingga hari keenam, senyum puas dapat terbit dari wajah manis dengan air mata haru saat akhirnya dia menemukan saksi kejadian sekaligus anak dari saksi tersebut yang kebetulan melewati jalan tersebut di hari kecelakaan sambil merekam panorama jalan. Tanpa sengaja, video rekaman tersebut berhasil menunjukkan setiap peristiwa yang terjadi sebenarnya. Selain itu, kepingan mobil yang dia temukan memiliki sidik jari yang sama dengan tersangka di dalam video.

“Bu, terima kasih sudah mempercayaiku.”

“Tidak, Nak. Ibu yang sangat berterima kasih. Kamu sudah membuat anak ibu tidak dituduh melakukan kesalahan. Dia pasti sudah tenang di alam sana.”

Di depan gedung persidangan, Raisa memeluk erat Ibu Ratna yang kini mampu kembali tersenyum berkat berita kebenaran yang akhirnya Raisa terbitkan di media sosial secara mandiri.

“Raisa, terima kasih telah mematahkan kebiasaan burukku,” ucap Nila penuh penyesalan. Dia baru saja memutuskan untuk berhenti bekerja kepada bos yang ditetapkan sebagai tersangka beberapa menit yang lalu atas tuntutan bekerja sama sama dalam menyembunyikan pelaku kejahatan. Kemudian diketahui bahwa pelaku utama yang menyebabkan kecelakaan mahasiswa swasta tersebut adalah seorang mantan anggota kepolisian yang terbukti menjadi dalang dalam mengarang kasus, seolah yang terjadi adalah kecelakaan tunggal. Padahal itu adalah kecelakaan karena pelaku mengonsumsi alkohol saat berkendara.

Berkat ambisi yang dilakukan Raisa, kini dia mendapat banyak dukungan dari seluruh masyarakat dunia maya. Hingga dia mulai membuat platform resmi dengan para anggota yang menjunjung tinggi kebenaran dalam membuat berita yang jujur.

“Ketidakadilan tidak selayaknya dibiarkan menang.”

Penulis: Icha Gilang Permata

Advertisements
Sastra

Detik berubah menjadi detak Membawa hangat yang tak…

Sastra

Kau masih terindah Kau datang lalu pergi begitu…

Sastra

“Assalamualaikum warohmatulloh“ Aku menutup sholat dhuha dengan salam…

Sastra

Desa Harum adalah sebuah desa kecil yang terletak…