
Layar ini mendadak mati,
dan namaku telah kau asingkan di balik dinding kaku.
Tak ada bentakan, tak ada sapaan—
hanya hening yang pelan-pelan menumpuk di atas meja.
Aku sadar, tanganku baru saja menggoreskan luka yang salah.
Padahal dulu, aku berjanji tak akan menyenggol bekas memar yang buatmu trauma.
Namun hari ini, aku justru menorehkan garis yang sama.
Sepi ini mendadak pejal dan mengancam. Setiap detik terasa seperti hitungan mundur bom yang tak bisa kumatikan.
Kucari celah di balik jalur yang patah, mengetuk lewat alamat-alamat darurat yang tersisa—
mengejar waktu di antara remuk rasa salahku,
hanya agar satu pesan singkat bisa menembus dindingmu.
bagaimana jika keteledoranku malam itu adalah garis akhir yang tak pernah bisa ku perbaiki?
Kunci semua aksesmu,
asingkan aku sebisamu.
Aku bertahan di sini, mengeja salahku sendiri
—
sampai lebam di dadamu reda, dan kunci pintu itu kau buka kembali






