Berita

Puncak Musim Hujan 2026, Daya Beli Melemah, UMKM Mulai Tertekan

×

Puncak Musim Hujan 2026, Daya Beli Melemah, UMKM Mulai Tertekan

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi: Suara Surabaya

Urupedia.id- Derasnya hujan yang menyelimuti sebagian besar wilayah Indonesia pada Februari 2026 bukan hanya persoalan cuaca.

Di balik peringatan dini yang dirilis (BMKG), terselip cerita lain yakni daya beli masyarakat yang mulai tertahan dan pelaku UMKM yang harus memutar strategi agar tetap bertahan.

BMKG menegaskan Indonesia sedang berada di puncak musim hujan, dipicu oleh Monsun Asia dan fenomena La Niña Lemah.

Bahkan pada periode 13–15 Februari 2026, status siaga hujan lebat hingga sangat lebat diberlakukan di banyak provinsi, termasuk Jawa Timur.

Secara meteorologis, ini situasi yang wajar. Namun secara ekonomi mikro, dampaknya mulai terasa nyata di lapangan.

Dari Langit ke Lapak, Rantai Dampak yang Terlihat

Intensitas hujan yang tinggi membuat mobilitas masyarakat menurun.

Aktivitas keluar rumah—terutama pada sore hingga malam—berkurang signifikan.

Bagi pusat perbelanjaan modern, penurunan ini mungkin masih tertutup oleh belanja online.

Tetapi bagi ekonomi berbasis harian, situasinya berbeda.

Di pasar tradisional, warung kaki lima, hingga lapak kuliner pinggir jalan, hujan lebat berarti satu hal yang terselip yakni pembeli sepi.

Pola ini berulang hampir setiap musim hujan, tetapi pada Februari 2026 frekuensinya lebih terasa karena hujan turun cukup konsisten.

Data BMKG menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori curah hujan menengah hingga tinggi, bahkan beberapa daerah menembus kategori sangat tinggi di atas 500 mm per bulan.

Ketika hujan menjadi ritme harian, maka ritme ekonomi kecil ikut berubah.

Secara makro, belum tentu terjadi penurunan tajam daya beli.

Namun di tingkat mikro, banyak pelaku usaha merasakan gejala “belanja tertunda”.

Masyarakat cenderung membeli seperlunya, mengurangi konsumsi impulsif, menunda belanja non-pokok, lebih memilih tetap di rumah.

Ini bukan semata soal pendapatan, tetapi soal perilaku konsumsi yang dipengaruhi cuaca.

Hujan yang turun terus-menerus menciptakan psikologi kehati-hatian.

Akibatnya, perputaran uang harian—yang menjadi napas UMKM—melambat.

UMKM Offline Paling Rentan

Dampak paling terasa menimpa UMKM yang bergantung pada keramaian fisik. Pedagang gorengan, angkringan, penjual minuman dingin, hingga pelaku fesyen pasar mengaku omzet mudah turun ketika hujan mengguyur sejak sore.

Beberapa pola dampak yang muncul di lapangan yakni, penurunan omzet harian sekitar 10–30 persen saat hujan intens, jam ramai bergeser lebih singkat, yakni risiko barang tidak habis meningkat, yakni biaya perlindungan dagangan bertambah.

Sebaliknya, UMKM yang sudah terhubung dengan platform digital relatif lebih stabil. Layanan pesan antar menjadi bantalan penting ketika mobilitas warga menurun.

Ini menunjukkan kesenjangan ketahanan antara UMKM digital dan non-digital semakin nyata saat cuaca ekstrem.

Menjelang Ramadan, Ada Harapan Pemulihan

Meski Februari basah, BMKG memprediksi kondisi cuaca menjelang Ramadan dan Lebaran Maret 2026 relatif lebih kondusif dengan dominasi hujan ringan hingga sedang.

Bagi pelaku usaha, ini kabar penting. Secara historis, periode Ramadan–Lebaran selalu memicu yakni, lonjakan konsumsi rumah tangga, peningkatan perputaran uang dan kenaikan permintaan produk UMKM.

Jika cuaca benar-benar bersahabat, maka tekanan yang dirasakan UMKM pada puncak musim hujan berpeluang terkompensasi oleh belanja musiman.

Namun momentum ini tidak otomatis menyelamatkan semua pelaku usaha.

Adaptasi atau Tertinggal

Pelajaran paling jelas dari situasi Februari 2026 adalah bahwa cuaca kini menjadi variabel ekonomi yang tidak bisa diabaikan. UMKM yang bertahan bukan selalu yang paling besar modalnya, tetapi yang paling cepat beradaptasi.

Langkah-langkah yang mulai terbukti efektif antara lain yakni mengaktifkan penjualan online dan pesan antar, menyesuaikan jam operasional dengan pola hujan, selanjutnya mengubah jenis produk lebih tahan cuaca dan memanfaatkan momentum Ramadan lebih awal.

Di tengah ketidakpastian cuaca, fleksibilitas menjadi mata uang baru bagi pelaku usaha kecil.

Membaca Ekonomi dari Rintik Hujan

Peringatan cuaca dari BMKG pada Februari 2026 memberi pengingat penting bahwa fenomena atmosfer tidak berhenti di langit.

Ia turun ke jalan, masuk ke pasar, dan terasa di kantong pelaku UMKM.

Hujan mungkin bersifat sementara, tetapi dampaknya pada perputaran ekonomi harian bisa langsung terasa.

Jika curah hujan tinggi terus berulang, tekanan terhadap daya beli mikro dan omzet UMKM berpotensi berlanjut.

Namun harapan belum padam.

Dengan strategi adaptif dan dukungan digitalisasi, banyak UMKM masih punya ruang untuk bertahan—menunggu momentum konsumsi kembali menghangat seiring langit yang perlahan cerah.

Oleh: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements
Index