OpiniPendidikan

Masihkah Sumpah Pemuda Bergema di Telinga Kita?

×

Masihkah Sumpah Pemuda Bergema di Telinga Kita?

Sebarkan artikel ini
Indonesia-Nyayur-Pixabay

Urupedia-Setiap tanggal 28 Oktober, kita mengenang kembali peristiwa bersejarah: Sumpah Pemuda 1928. Tiga butir ikrar yang sederhana, namun revolusioner bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu menjadi fondasi berdirinya Indonesia modern. Namun, sembilan puluh tujuh tahun kemudian, pertanyaan besar muncul: masihkah semangat itu benar-benar hidup di tengah kita?

Sumpah Pemuda bukan sekadar simbol sejarah yang diulang setiap tahun. Ia adalah momentum kesadaran kolektif yang menyatukan berbagai golongan muda dari Sabang hingga Merauke. Mereka berbeda bahasa, daerah, dan latar belakang, tetapi sepakat bahwa cita-cita kemerdekaan hanya bisa dicapai melalui persatuan. Semangat itulah yang menjadi napas perjuangan generasi awal bangsa ini.

Kini, kita hidup di masa yang sangat berbeda. Dunia digital telah mengubah cara kita berinteraksi, berpikir, bahkan mencintai tanah air. Media sosial memungkinkan siapa pun berbicara lantang, tetapi juga membuka ruang bagi perpecahan dan kebencian. Di tengah derasnya arus informasi, kita sering kehilangan arah: mana yang benar, mana yang hanya sensasi. Semangat kebangsaan perlahan bergeser menjadi semangat “viral”, yang sering kali hanya bertahan sehari di linimasa.

Ironisnya, di tengah kemudahan komunikasi, kita justru semakin jauh satu sama lain. Suku, agama, dan pandangan politik kembali dijadikan tembok pemisah, bukan jembatan pemersatu. Padahal, para pemuda tahun 1928 justru menembus sekat-sekat itu. Mereka tidak hanya mengikrarkan sumpah, tetapi juga menolak logika perpecahan yang diwariskan kolonialisme. Mereka bersatu bukan karena disuruh, melainkan karena sadar: tanpa persatuan, tidak akan ada kemerdekaan.

Kini, Sumpah Pemuda memang masih diperingati, tetapi apakah maknanya benar-benar kita hayati? Apakah kita, para pewarisnya, masih memiliki kesadaran bahwa bangsa ini berdiri di atas semangat kebersamaan, bukan kepentingan pribadi? Banyak dari kita hafal bunyi sumpah itu, namun lupa memaknai esensinya dalam kehidupan sehari-hari.

Pemuda masa kini sering disebut sebagai “generasi kreatif”, “generasi digital”, atau “generasi Z”. Label itu memang menggambarkan semangat inovasi, tetapi juga bisa menipu jika kehilangan arah kebangsaan. Kreativitas tanpa nilai kebersamaan akan berubah menjadi euforia sesaat.

Kita bangga membuat konten, berbisnis daring, atau berkarya di media sosial tetapi seberapa banyak dari itu yang benar-benar memberi manfaat untuk masyarakat sekitar? Apakah karya kita ikut menumbuhkan kesadaran nasional, atau sekadar menambah hiruk-pikuk dunia maya?

Sumpah Pemuda seharusnya menjadi pengingat bahwa cinta tanah air tidak hanya diukur dari ucapan, melainkan dari tindakan nyata. Di berbagai pelosok negeri, banyak anak muda yang tidak banyak bicara, tetapi bekerja dalam senyap: mengajar di desa, mengembangkan aplikasi pendidikan, menghidupkan ekonomi lokal, hingga menjaga lingkungan dari kerusakan. Mereka tidak viral, namun merekalah pewaris sejati semangat 1928.

Tantangan generasi sekarang bukan lagi penjajahan fisik, tetapi penjajahan mental: kemalasan berpikir, egoisme digital, dan kehilangan empati. Banyak yang cerdas secara teknologi, tetapi tumpul dalam memahami makna persatuan. Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda, yang bukan hanya sekedar slogan, melainkan dengan tindakan kecil yang konsisten.

Kita tidak perlu menjadi tokoh besar untuk meneruskan semangat itu. Mulailah dari hal sederhana: menghargai perbedaan pendapat di ruang digital, menolak hoaks yang memecah belah, membeli produk lokal, dan ikut terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar. Dari sana, semangat Sumpah Pemuda hidup kembali bukan sebagai teks sejarah, tetapi sebagai kebiasaan yang menumbuhkan empati dan solidaritas.

Bersatu bukan berarti harus sama. Bersatu berarti mau mendengar, menghargai, dan bekerja bersama meski berbeda pandangan. Itulah inti dari Sumpah Pemuda: kesediaan untuk mengesampingkan ego demi tujuan bersama. Dalam konteks hari ini, semangat itu bisa diwujudkan dengan menghargai keberagaman, menolak ujaran kebencian, dan terus berkontribusi bagi bangsa, sekecil apa pun peran kita.

Mari kita jujur, semangat Sumpah Pemuda tidak akan pernah punah asalkan kita mau terus menyalakannya. Ia bukan hanya milik sejarah, tetapi juga tanggung jawab moral setiap generasi yang lahir setelah 1928 termasuk kita hari ini. Tugas kita bukan sekadar menghafal tiga butir sumpah itu, melainkan menjadikannya arah dalam berpikir, berbuat, dan bermimpi untuk Indonesia yang lebih baik.

Sumpah Pemuda bukanlah cerita masa lalu. Ia adalah janji yang terus menuntut pembuktian. Maka, jika ditanya apakah semangatnya masih bergema di telinga kita, jawabannya ada pada diri masing-masing: apakah kita masih mau bersatu, atau justru sibuk membenarkan diri sendiri?

Penulis: Raihan Devi Mahasiswi Prodi Bahasa dan sastra Arab Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Editor: Al Fatih

Advertisements