Esai

Ketika Upaya Pemerintah Meningkatkan Literasi Terasa Setengah Hati

×

Ketika Upaya Pemerintah Meningkatkan Literasi Terasa Setengah Hati

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi: Mohammad Irfan

Urupedia.id- Sore itu, tanggal 25 Januari 2026. Sambil menikmati Gado-gado dan es tape yang disuguhkan oleh seorang kawan—saya menyalakan tablet dan langsung membuka aplikasi iPusnas.

Kemudian saya mengisi username dan password untuk log in ke iPusnas. Seperti biasa, pada tampilan awal disuguhkan dengan foto-foto pejabat tinggi negara; presiden dan wakil presiden serta beberapa pejabat terkait.

Pada hari itu tidak seperti hari-hari biasanya—sejak pagi hari saya bolak-baik membuka aplikasi iPusnas yang dijanjikan akan pulih pada hari itu juga seperti yang diumumkan pada unggahan dari akun media sosial Instagram milik Perpusnas seminggu sebelumnya.

Tentu ketika melihat pengumuman tersebut saya sangat antusias menunggu dan tidak sabar ingin membaca kembali koleksi-koleksi yang tersedia di iPusnas.

Namun, hingga siang hari perpustakaan digital itu belum pula dapat digunakan.

Banyak pengguna melakukan protes di kolom komentar pada unggahan tersebut—menagih janji yang dilontarkan dari unggahan yang dipublikasikan beberapa hari sebelumnya.

Seperti diketahui, platform perpustakaan digital besutan Perpustakaan Nasional yang diluncurkan pertama kali pada pertengahan tahun 2016 yang hingga saat ini mencatat sebanyak 1 juta lebih unduhan di Google Playstore—melakukan maintenance sejak diumumkan pada 4 Januari awal tahun ini.

Dan dijanjikan dapat digunakan kembali pada 8 Januari kemarin dengan alasan menjaga kualitas, keamanan, dan kenyamanan dalam mengakses koleksi digital.

Sayangnya, ketika tanggal yang dijanjikan itu tiba—iPusnas tetap tidak dapat diakses.

Mirisnya, tidak ada pengumuman lanjutan yang dilayangkan. Sehari setelahnya muncul unggahan yang berisi permintaan maaf dan informasi yang mengatakan bahwa perbaikan masih berlanjut yang berfokus pada optimalisasi sistem pencarian dan peminjaman.

Namun, dalam unggahan tersebut tidak dicantumkan waktu selesainya perbaikan.

Angin segarkan pun mulai terasa ketika pengumuman yang diunggah pada 17 Januari menyebutkan bahwa proses perawatan iPusnas berlangsung hingga 25 Januari dan dapat digunakan kembali pada tanggal tersebut.

Namun, hanya beberapa jam berjalan normal, iPusnas kembali bermasalah. Sehari setelahnya mereka mengarahkan pengguna mengunjungi laman setidaknya untuk sementara waktu agar tetap bisa menikmati layanan iPusnas.

Atas kejadian itu banyak pengguna yang kecewa termasuk saya. Karena di dunia teknologi sekarang ini, maintenance merupakan hal biasa terjadi.

Namun, menjadi masalah jika waktu yang dibutuhkan sangat banyak seperti yang terjadi pada iPusnas ini yang memakan waktu hampir satu bulan dengan pelbagai alasan.

Padahal antusias masyarakat terhadap layanan ini cukup tinggi. Hal itu dapat temui ketika mencari dan memilih salah satu karya sastra misalnya Laut Bercerita karya Leila S. Chudori yang selalu laris manis dibaca dan ditunggu pengguna.

Bahkan, antrian mencapai 90 ribu pengguna. Angka yang besar, namun tidak dibarengi dengan ketersediaan salinan (copy) yang hanya berjumlah 500 unit.

Judul novel di atas hanyalah contoh. Banyak karya lain yang juga sangat diminati, seperti karya Marah Rusli, Abdoel Moeis, Mochtar Lubis, hingga Ahmad Tohari.

Lambannya penanganan masalah pada iPusnas mengingatkan kita pada aplikasi-aplikasi buatan pemerintah lainnya misalnya beberapa tahun yang lalu Coretax mendapat hujatan orang-orang karena sering error padahal dana yang digelontorkan tidaklah kecil.

Di tengah kondisi harga buku yang mahal dan masih sulitnya akses ke perpustakaan, iPusnas ibarat oase di tengah padang pasir yang menyelamatkan para pecinta buku menghilangkan dahaga mereka akan buku-buku yang berkualitas tanpa repot-repot mengeluarkan uang dari saku.

Bagi saya, iPusnas bukan hanya penyelamat bagi mereka yang kesulitan akses pada perpustakaan ataupun kesulitan dalam hal finansial untuk membeli buku—proyek ini juga seharusnya mampu menggenjot tingkat literasi di Indonesia dan ini yang paling efisien yang dapat dijangkau oleh semua orang hanya dengan menggunakan ponsel pintar ataupun laptop.

Namun sayangnya, pemerintah seakan-akan setengah hati.

Seperti yang dikutip dari detikNews (14/1)—yang mengabarkan bahwa anggaran untuk Perpustakaan Nasional untuk tahun ini yaitu Rp 377,9 miliar. Anggaran tersebut hanya 52 persen dari tahun sebelumnya.

Padahal tanggung jawab yang diemban oleh Perpustakaan Nasional tidaklah ringan. Misalnya melakukan digitalisasi, perawatan naskah-naskah kuno, dan mengurus perpustakaan-perpustakaan daerah—tentu tidak bisa terealisasikan dengan dana yang minim.

Namun, pemotongan anggaran yang dilakukan pemerintah dengan dalih efisiensi tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menurunkan layanan publik dasar seperti yang dikatakan oleh Bonnie Triyana seorang anggota Komisi X DPR RI pada rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR RI (Media Indonesia, 15/1).

Tentu ini menjadi PR besar bagi Perpustakaan Nasional di samping minimnya anggaran ditambah dengan beban tanggung jawab memberikan layanan publik dasar berupa akses pengetahuan yang lebih terbuka dan mudah diakses oleh semua orang.

Inilah ironi yang kita jumpai di Indonesia sekarang. Ketika pemerintah ambisius meningkatkan asupan gizi lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran yang sangat jor-joran bahkan lebih besar dari anggaran pendidikan dan pertahanan negara, mereka seakan lupa bahwa ada unsur penting lainnya dalam meningkatkan SDM Indonesia yakni tingkat literasi dan kemudahan mendapatkan ilmu pengetahuan.

Oleh: Mohamad Irfan, Alumni UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. S-1 mengambil program studi Ilmu al-Qur`an & Tafsir (lulus 2023) dan S-2 mengambil program Studi Islam konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (lulus 2025). Tertarik pada kajian sejarah dan pemikiran Islam. Beberapa tulisan pendek tentang tema terkait dipublikasikan di Kompasiana dan NU Online Jatim.

Editor: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements