
Urupedia.id- Di Kota Blitar, guru sekolah dasar menghadapi tantangan yang kian kompleks: membentuk karakter anak di tengah derasnya arus digital dan dominasi kecerdasan buatan (AI).
Ketergantungan siswa pada gawai, mesin pencari, hingga aplikasi berbasis AI seperti ChatGPT, perlahan mengubah cara mereka belajar.
Banyak anak kini terbiasa memperoleh jawaban instan tanpa melalui proses berpikir yang memadai.
Dampaknya terasa nyata—kemampuan menghafal, bernalar, dan berpikir kritis menunjukkan gejala kemerosotan.
Situasi ini sering kali diperparah oleh keterlibatan orang tua yang berlebihan.
Demi mengejar nilai sempurna, sebagian orang tua turun tangan langsung mengerjakan tugas anak.
Niat membantu justru berbalik arah: proses belajar autentik tergerus.
Anak kehilangan kesempatan untuk berusaha, gagal, lalu belajar dari kesalahan—tiga hal mendasar dalam pendidikan karakter.
Fenomena “pintar di rumah, kosong di kelas” pun menjadi pemandangan yang semakin jamak.
Di SD Plus Sunan Pandanaran, misalnya, guru mendapati tugas rumah siswa yang tampak rapi, lengkap, bahkan nyaris sempurna.
Namun, ketika ujian berlangsung di kelas, hasilnya jauh dari ekspektasi.
Ketergantungan pada bantuan orang tua dan teknologi membuat anak kurang bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.
Mereka enggan berpikir karena merasa jawaban selalu tersedia dengan sekali sentuh.
Pola belajar yang seharusnya menumbuhkan pemahaman mendalam kini bergeser menjadi praktik salin-tempel dari algoritma.
Kondisi ini tidak hanya mengancam kemampuan akademik, tetapi juga nilai-nilai dasar pendidikan: kejujuran, ketekunan, dan tanggung jawab.
Di titik inilah guru SD berada pada persimpangan yang tidak mudah—tetap menjalankan peran sebagai pendidik karakter di tengah teknologi yang mengambil alih banyak fungsi kognitif manusia.
Meski Kurikulum Merdeka menempatkan guru sebagai pembimbing utama proses belajar, realitas di lapangan menunjukkan bahwa disrupsi digital dan intervensi eksternal kerap menghambat penanaman nilai kemandirian.
Penurunan daya ingat jangka panjang pun menjadi sorotan. Tidak sedikit siswa mampu menghasilkan tulisan yang rapi secara visual, namun kesulitan menjelaskan kembali isi dan maknanya secara lisan.
Belajar berhenti pada hasil, bukan pada proses pemahaman.
Merespons kondisi tersebut, para guru mulai merumuskan langkah-langkah konkret untuk mengembalikan esensi pendidikan.
Penggunaan gawai di kelas dibatasi, lalu digantikan dengan aktivitas yang lebih membumi: diskusi pengalaman pribadi, kerja kelompok tatap muka, hingga proyek sederhana seperti berkebun.
Melalui pendekatan ini, anak diajak belajar secara nyata—berproses, berpikir, dan menerima kesalahan sebagai bagian penting dari pembelajaran.
Upaya tersebut sejalan dengan gagasan John Dewey dalam Experience and Education (1938), yang menegaskan bahwa pendidikan adalah proses rekonstruksi pengalaman sosial dan moral.
Tanpa pengalaman nyata yang membentuk karakter, siswa berisiko tumbuh menjadi pribadi yang rapuh secara etika digital—mudah terpengaruh informasi palsu, rentan menyebarkan hoaks, bahkan terlibat dalam perundungan siber.
Pada akhirnya, peran guru SD tetap tidak tergantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Adaptasi terhadap perkembangan zaman memang mutlak, tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan pijakan utamanya: kemandirian, daya pikir kritis, dan tanggung jawab.
Diperlukan kerja sama yang jujur dan berkelanjutan antara sekolah, orang tua, dan siswa untuk kembali menempatkan proses belajar di atas hasil instan.
Dengan sinergi itulah, guru SD akan terus menjadi pilar utama dalam mencetak generasi emas Indonesia—cerdas secara digital, sekaligus kokoh secara moral.
Oleh:
Nina Agnes Saputri, Silvy Eka Wulandari, Silva Dwi Wulansari, Nurlaila, dan Hanum Wulandari






