Esai

Menulis dan Kebahagiaan yang Berlipat Ganda

×

Menulis dan Kebahagiaan yang Berlipat Ganda

Sebarkan artikel ini
Sumber: Gramedia.id

Urupedia.id- Coba kamu ingat kapan kamu merasa bahagia dan apa yang menyebabkan perasaan itu muncul?

Sesungguhnya, memori kita menyimpan kenangan-kenangan yang membahagiakan, terutama kebahagiaan yang cukup dalam.

Perasaan yang kuat di masa lalu, termasuk rasa sedih dan rasa bahagia, akan tertancap begitu dalam hingga kini.

Maka, coba kita ingat pengalaman yang membahagiakan yang pernah kita alami di masa lalu, misalnya.

Aku mulai dengan bercerita pengalaman-pengalaman yang aku alami; nanti kau bisa menceritakan hal yacng sama.

Aku pernah diajak ayahku ke warung dan aku dibelikan bubur kacang ijo.

Di warung itu, yang datang rata-rata adalah orang tua—kebanyakan teman-teman bapakku.

Tapi tampaknya hanya ia yang mengajak anaknya, aku.

Yang lain jarang mengajak anak-anaknya.

Peristiwa itu tampaknya adalah sedikit sekali dari kejadian masa kecil yang bisa aku ingat.

Salah satunya itu membahagiakan saya.

Juga, saya ingat saya diajak ayah saya ke halaman belakang pada suatu pagi saat matahari baru bersinar dari timur.

Saya oleh ayah disuruh duduk di pinggir tegalan, di samping pagar.

Lalu ia memetikkan saya buah timun muda, dan itulah yang membuat saya senang.

Itulah yang tampaknya membuat saya sangat suka dengan buah ketimun hingga sekarang.

Dari berbagai kejadian di masa kecil, hanya itu—dan hanya sedikit peristiwa lainnya—yang masih bisa saya ingat.

Tidak banyak. Ia menancap di alam bawah sadar saya.

“Adegan” di mana ayah saya memetik timun dan memberikannya kepada saya itu sering kali muncul dalam mimpi-mimpi. Berkali-kali muncul.

Memang dalam tiap diri manusia ada kejadian-kejadian yang sering muncul dalam mimpinya.

Termasuk ada tempat-tempat tertentu yang sering kali hadir di mimpi.

Kejadian yang menimbulkan perasaan kuat pada suatu masa, apalagi masa kanak-kanak, akan tersimpan di alam bawah sadar.

Dan karena mimpi—menurut Sigmund Freud—adalah terbukanya sensor bawah sadar, maka ia bisa muncul dengan pola-pola ingatan dan harapan-harapan yang terbangun sesuai dinamikanya sendiri.

Mimpi tak bisa menghadirkan gambaran sesuai keinginan kita; kadang ia menyuguhkan gambaran yang acak dan melompat-lompat.

Tapi suatu kejadian di masa lalu yang kuat efek perasaannya kadang hadir dengan gambaran yang paling jelas.

Tampaknya, kalau dilihat dari dua kisah di atas, kisah tentang kebahagiaan sering kali muncul bersamaan dengan kebersamaan dan kedekatan.

Seorang anak yang kemudian kurang kasih sayang dari bapak di usia remaja dan mudanya, tetapi masih bisa mengingat sedikit bentuk kedekatan di masa kanak-kanak.

Kenangan kedekatan yang sedikit saja bisa menjadi pengalaman berharga yang masih terkenang.

Kedekatan fisik dan emosional—mungkin itulah yang membuat kebahagiaan lebih dekat dengan cinta, baik eros maupun agape, dibanding dengan kebencian dan agresi.

Eros adalah naluri menyatukan, sedang agresi muncul dari naluri kematian—mematikan dan menghancurkan.

Kebahagiaan berbasis pada kebersamaan dan penyatuan ini tampaknya memang lebih indah.

Misalnya, jatuh hati pada seseorang, menyatakan cinta, lalu diterima dan kemudian menjadi pasangan.

Berkumpul dengan orang-orang yang punya visi, misi, maupun kepentingan yang sama—bahkan juga selera dan hobi yang sama.

Membangun solidaritas dibumbui dengan narasi dan simbol-simbol yang menghasilkan semangat menyala.

Itulah kebahagiaan yang kuat dan indah.

Juga perhatian. Diperhatikan itu membuat kita bahagia.

Seperti ada orang yang bukan hanya hidup di bumi yang sama, tetapi yang hidup bersama kita dengan perhatiannya.

Bukan hanya yang memberi dan mengagumi, tetapi juga yang menasihati, mengingatkan—bahkan yang mengkritik dan memarahi.

Orang hanya bisa marah pada orang lain yang dianggap dekat atau yang punya hubungan.

Tujuannya, salah satunya, adalah agar kita baik, tidak menyimpang, dan tidak tersesat terlalu jauh.

Hal lain yang membuat kita bahagia adalah capaian (achievement).

Ini juga tak kalah kuat dalam memberikan kebahagiaan.

Menang lomba atau kompetisi.

Mendapatkan hasil dari suatu proses memperjuangkan sesuatu.

Merasa “ada” karena apa yang kita perjuangkan ternyata berhasil—apalagi sesuatu yang kita idam-idamkan dalam waktu lama.

Dalam sebuah perlombaan, kalau bisa, jangan menganggap orang lain (kompetitor) sebagai musuh.

Jangan kita merasa menang dan kebahagiaan kita lahir karena melihat orang lain kalah.

Yang kalah pun jangan direndahkan. Yang menang dan yang kalah punya tujuan yang sama, ikut lomba untuk menang.

Tetapi yang kalah bukanlah musuh. Yang menang nantinya bisa kalah, yang kalah pun di perlombaan berikutnya bisa menang.

Semuanya berangkat dari menjadi peserta—sama-sama berjuang sejak mempersiapkan pendaftaran hingga proses perlombaan.

Capaian pribadi memang membahagiakan. Ia membanggakan.

Yang terpenting, ia menandai bahwa kita telah berusaha atas apa yang akhirnya kita capai.

Kadang dimulai dari suatu obsesi. Kadang capaian yang didapat karena obsesi besar bisa membuatmu girang.

Salah satu kisah kebahagiaan yang pernah aku alami dalam konteks itu terjadi pada awal tahun 2008.

Ini adalah kebahagiaan yang pernah aku rasakan—kuat pada waktunya.

Sesaat mirip dengan rasa kegirangan. Rasa bahagia setengah tidak percaya bahwa ternyata kita mendapatkan sesuatu atau mengalami sesuatu.

Bayangkan, aku sudah mencita-citakan sejak lama, terutama sejak masa SMA: ingin jadi penulis.

Dan keinginan itu benar-benar kesampaian.

Wujud nyatanya ada di depan mataku, dalam genggamanku—yang membuatku merasa berarti.

Aku pegang benda-benda itu di tanganku, bukti bahwa karyaku benar-benar lahir.

Anak ideologisku, buku karyaku yang aku lahirkan dari proses “persetubuhan” di alam pikir.

Di beberapa kesempatan aku ceritakan ini dengan mengatakan bahwa meskipun aku belum menikah, aku sudah punya anak—bukan anak biologis, tetapi anak ideologis.

Karya tulis yang dimuat dan diterbitkan oleh pihak lain (media cetak atau penerbit buku).

Aku hanya “bersetubuh” dalam sunyi di alam pikiran; lahirlah ide yang kemudian, atas bantuan pihak-pihak yang menjadikannya karya cetak, membuat karya-karya itu lahir.

Di awal Februari 2008, kalau tak salah tanggal 5, aku mendapatkan paket.

Sebuah kardus ukuran kardus air mineral datang ke tempat kosku.

Setelah aku buka, isinya buku-buku—jumlahnya 40 eksemplar.

Aku hitung dulu sebelum membuka isinya.

Jumlah itu terdiri dari empat jenis buku yang dibedakan oleh warna cover dan ukurannya.

Empat puluh eksemplar itu merupakan contoh (sampel) buku karyaku yang terdiri dari empat judul.

Berarti untuk masing-masing judul, aku mendapatkan bukti terbit sebanyak sepuluh eksemplar.

Pertanyaan yang muncul, apakah buku-buku itu sudah masuk toko-toko buku? Tak sabar pula aku ingin pergi ke toko buku di Jember waktu itu—Gramedia dan Toga Mas.

Tetapi yang memenuhi pikiranku waktu itu adalah bahwa aku benar-benar setengah tak percaya.

“Bener to ini? Ini buku karyaku semua? Kenapa semudah ini? Kok bisa?!” Pertanyaan dalam hati muncul terus selama beberapa menit.

Hari itu aku sering kali memegangi buku-buku itu.

Bahkan kuciumi baunya. Kuraba cover-nya.

Dua buku punya tulisan judul yang menonjol ke luar—kuduga kualitas cover-nya dibuat lebih bagus.

Yang kulakukan seperti menimang-nimang manja karyaku yang dicetak untuk dijual di penjuru tanah air.

Bukti terbitnya sudah ada di tanganku.

Aku sudah lupa menggambarkan secara detail bagaimana girangnya perasaanku.

Yang jelas seperti masih tak percaya.

Aku tak menduga kalau tulisanku yang kukirim berupa file naskah via email itu diterbitkan semua.

Bahkan aku sempat lupa kalau aku telah mengirimkan naskah-naskah itu beberapa bulan sebelumnya.

Dan akhirnya aku baru ingat, yakni lima hari sebelumnya pihak penerbit mengirim SMS (waktu itu belum ada WA).

Isinya meminta alamat untuk mengirim sampel buku yang sudah terbit.

Aku kira hanya satu naskah yang diterbitkan dengan satu atau dua sampel.

Ternyata dari empat naskah semuanya diterbitkan hampir bersamaan.

Ya, sekali lagi aku seperti tak percaya.

Belakangan aku menyimpulkan bahwa penerbit Yogyakarta itu memang sedang berada pada masa keemasannya, memproduksi banyak judul buku karena pemasaran sedang bagus.

Dua buku yang diterbitkan sebenarnya adalah editan dari catatan-catatan yang kutulis sejak awal kuliah—file yang kusimpan di komputer, tulisan dalam kapasitasku sebagai mahasiswa dan pengurus organisasi.

Tentunya setelah diedit dan distrukturkan.

Singkatnya, itulah kisah kebahagiaan yang begitu melekat.

Kebahagiaan berkarya ternyata bukan hanya karena melahirkan karya, tetapi berlipat ganda karena dengan karya itu aku dipertemukan dengan banyak orang—pembaca, forum diskusi, bedah buku, serta apresiasi yang datang melalui SMS dan kemudian inbox Facebook.

Sepertinya tak sia-sia aku suka membaca dan mencatat hal-hal penting sejak mulai kuliah.

Beruntung aku ngekos bersama mahasiswa senior yang tradisi membacanya kuat—beberapa aktivis pers kampus.

Tak sia-sia aku menulis makalah kuliah yang cukup tebal, sebab file-file itu akhirnya bisa terbukukan.

Hampir semua yang kutulis terasa berarti.

Yang membuatku bahagia, salah satunya, adalah mendapatkan uang dari proses menulis.

Dari honor esai, opini, resensi buku, hingga puisi di media cetak—kemudian meningkat dari buku.

Bahkan aku akhirnya bisa membeli sepeda motor pertamaku.

Singkatnya, itu adalah fase kebahagiaan yang melekat kuat yakni menulis, berkarya, dan bertemu banyak orang.

Maka inti dari cerita ini adalah sederhana:

Bahagia itu karena kebersamaan dan karena punya karya.

Keduanya menegaskan eksistensi kita—menjembatani antara motivasi dan keinginan dalam diri dengan dunia di luar kita, dengan orang lain, tempat kita membangun makna dan harga diri.

Oleh: Nurani Soyomukti

Editor: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements