Mozaik

Tujuh Peristiwa Penting di Bulan Ramadan

×

Tujuh Peristiwa Penting di Bulan Ramadan

Sebarkan artikel ini
Sumber: https://www.um-surabaya.ac.id/article/dosen-fai-um-surabaya-paparkan-persiapan-menyambut-datangnya-bulan-suci-ramadhan

Urupedia.id- Bulan Ramadan kerap dipersempit maknanya hanya sebagai bulan ibadah ritual, yakni puasa, tarawih, dan tilawah.

Padahal, jika dibaca melalui kacamata sejarah, Ramadan justru tampil sebagai bulan yang paling aktif dalam pembentukan arah umat, bangsa, dan peradaban.

Pada bulan inilah wahyu pertama turun, perang penentuan dimenangkan, kota suci dibebaskan, peradaban lintas benua dibuka, bahkan sebuah bangsa modern memproklamasikan kemerdekaannya.

Sejarah Ramadan adalah sejarah kesadaran spiritual yang menjelma menjadi tindakan sosial.

Berikut tujuh peristiwa penting yang menegaskan posisi Ramadan sebagai bulan perubahan besar.

1. Nuzulul Qur’an: Awal Revolusi Peradaban

Peristiwa paling fundamental dalam sejarah Islam—bahkan sejarah manusia—adalah turunnya Al-Qur’an. Allah menegaskan:

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…”
(QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Nuzulul Qur’an bukan sekadar peristiwa teologis, melainkan awal revolusi peradaban.

Masyarakat Arab yang sebelumnya hidup dalam sistem kesukuan yang keras dan timpang diperkenalkan pada nilai tauhid, keadilan, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab etis.

Dari perspektif sejarah, Al-Qur’an tidak hanya membentuk agama, tetapi juga melahirkan tata sosial, sistem hukum, dan tradisi intelektual yang kelak memengaruhi dunia selama berabad-abad.

2. Lailatul Qadr: Malam yang Mengubah Sejarah

Al-Qur’an menyebut Lailatul Qadr sebagai malam yang “lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al-Qadr [97]: 3).

Ungkapan ini tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga historis.

Dalam perspektif peradaban, Lailatul Qadr mengajarkan bahwa satu momen kesadaran dapat melampaui rentang waktu yang panjang.

Perubahan besar tidak selalu lahir dari keramaian, tetapi justru dari keheningan batin dan kejernihan nurani.

Di sinilah fondasi penting peradaban Islam yakni kekuatan ruhani yang mendahului kekuatan politik.

3. Perang Badar: Keteguhan di Tengah Ketimpangan

Pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriah, kaum Muslimin yang berjumlah sekitar 313 orang menghadapi pasukan Quraisy yang hampir tiga kali lebih besar.

Secara militer, peluang kemenangan tampak sangat kecil.

Namun sejarah mencatat bahwa Perang Badar dimenangkan kaum Muslimin.

Al-Qur’an menyebutnya sebagai pertolongan Allah (QS. Al-Anfal [8]: 9–12), sementara para sejarawan melihat faktor kepemimpinan Nabi, disiplin pasukan, serta kejelasan visi sebagai penentu.

Badar menegaskan bahwa Ramadan bukan bulan yang melemahkan umat, melainkan bulan penguatan moral dan keteguhan prinsip.

4. Fathu Makkah: Kemenangan yang Memanusiakan

Pada 20 Ramadan tahun 8 Hijriah, Rasulullah SAW memasuki Makkah sebagai pemenang. Namun yang terjadi bukan pembalasan, melainkan pengampunan massal.

“Idhhabu fa antumuth thulaqā’”
Pergilah, kalian semua bebas.

Dalam sejarah penaklukan dunia, Fathu Makkah merupakan peristiwa langka yakni kemenangan politik yang dimaknai sebagai rekonsiliasi moral.

Ramadan kembali tampil sebagai bulan yang memuliakan kemanusiaan, bukan sekadar kemenangan fisik.

5. Wafatnya Sayyidah Khadijah: Duka di Tengah Perjuangan

Ramadan juga menjadi saksi duka mendalam Rasulullah SAW, terutama wafatnya Sayyidah Khadijah RA—istri, sahabat, sekaligus penopang utama dakwah pada fase paling sunyi dan berat.

Sayyidah Khadijah wafat pada 11 Ramadan tahun ke-10 kenabian, sekitar tiga tahun sebelum hijrah ke Yatsrib (Madinah), dalam usia 65 tahun, ketika Rasulullah berusia sekitar 50 tahun.

Peristiwa ini mengingatkan bahwa Ramadan tidak selalu identik dengan kemenangan.

Ia juga mengajarkan ketabahan menghadapi kehilangan tanpa menghentikan perjuangan.

Sejarah Islam dibangun oleh manusia-manusia yang pernah menangis dan terluka, tetapi tetap setia pada misi kemanusiaan.

6. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia: Spirit Ramadan dalam Kesadaran Bangsa

Fakta sejarah menunjukkan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 Hijriah.

Bagi banyak sejarawan Muslim, ini bukan sekadar kebetulan kalender.

Spirit Ramadan—pengendalian diri, keberanian moral, dan pengorbanan—hidup dalam jiwa para pendiri bangsa, yang banyak di antaranya berasal dari tradisi santri, ulama, dan komunitas Muslim taat.

Kemerdekaan tidak lahir semata dari kekuatan politik, tetapi juga dari kesadaran etis dan spiritual.

7. Penaklukan Andalusia: Melampaui Kemustahilan

Pada 28 Ramadan 92 Hijriah (19 Juli 711 M), Thariq bin Ziyad memimpin pasukan Muslim menyeberangi Selat Gibraltar dan memulai penaklukan Andalusia.

Dalam riwayat populer disebutkan bahwa Thariq membakar kapal-kapalnya agar pasukan tidak mundur.

Dengan sekitar 7.000 pasukan, kaum Muslim berhasil mengalahkan pasukan Visigoth di bawah Raja Roderick yang jauh lebih besar.

Peristiwa ini bukan hanya kemenangan militer, tetapi juga awal lahirnya peradaban Andalusia yang kelak menjadi jembatan ilmu antara dunia Islam dan Barat—melahirkan ilmuwan, filsuf, dokter, dan arsitek yang pengaruhnya terasa hingga kini.

Ramadan sebagai Bulan Kesadaran Sejarah

Tujuh peristiwa ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan bulan pasif, melainkan bulan yang sangat aktif dalam lintasan sejarah.

Ia mempertemukan iman dengan akal, ibadah dengan keberanian, serta spiritualitas dengan tanggung jawab sosial.

Memahami Ramadan tanpa perspektif sejarah berisiko melahirkan kesalehan yang sempit.

Sebaliknya, membaca sejarah Ramadan mengajak kita menjadikan ibadah sebagai energi perubahan—baik bagi diri sendiri, masyarakat, maupun peradaban.

Oleh: M. Afin Masrija, lulusan S2 HTN dan S1 Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alumni PP Miftahul Falah Kediri dan Wahid Hasyim Yogyakarta. Guru dan pembina jurnalistik di MAN 2 Kota Kediri.

Editor: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements
Index