
Urupedia.id- Banyak orang mengira kebahagiaan adalah keadaan yang tenang, mapan, dan tanpa masalah.
Padahal, hidup jarang sekali berjalan lurus. Ada hari-hari manis, ada hari-hari pahit.
Ada keberhasilan, ada pula kegagalan.
Dari sini kita belajar bahwa kebahagiaan bukanlah tempat untuk berhenti, melainkan cara untuk berjalan.
Filsuf Yunani Aristoteles pernah mengatakan bahwa kebahagiaan bukan soal senang sesaat, tetapi soal hidup yang dijalani dengan baik.
Orang disebut bahagia bukan karena hidupnya mudah, melainkan karena ia tetap berusaha melakukan yang benar.
Pandangan ini dekat dengan ajaran Islam yang menekankan ikhtiar—usaha sungguh-sungguh—sebagai inti kehidupan manusia.
Allah tidak menilai manusia dari hasil akhirnya saja, tetapi dari keseriusan usahanya.
Dalam Islam, hidup adalah ladang amal. Setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki nilai.
Bahkan ketika usaha itu tidak menghasilkan apa-apa di mata manusia, ia tetap bermakna di hadapan Tuhan.
Karena itu, kegagalan tidak selalu berarti kalah.
Bisa jadi ia hanyalah bagian dari proses pembentukan diri.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang ia usahakan, bukan apa yang ia pamerkan.
Filsuf modern Albert Camus menggambarkan hidup seperti kisah Sisifus—seseorang yang harus mendorong batu(hasrat) ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya jatuh kembali.
Camus melihat ini sebagai hidup yang absurd.
Namun Islam memberi sudut pandang berbeda, tindakan yang mendorong batu(hasrat) itu tidak sia-sia jika diniatkan sebagai kebaikan.
Selama ada niat dan keikhlasan, usaha yang berulang justru menjadi ibadah.
Jean-Paul Sartre berkata bahwa manusia bebas dan harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Islam menerima kebebasan itu, tetapi tidak membiarkannya kosong.
Kebebasan dalam Islam diarahkan oleh nilai, oleh petunjuk, dan oleh kesadaran bahwa hidup ini tidak sendirian.
Ada Tuhan yang melihat, menilai, dan memberi makna.
Pada akhirnya, kebahagiaan dalam Islam bukan berarti hidup tanpa luka, melainkan hati yang tetap tenang di tengah luka.
Mengingat Allah membuat manusia kuat untuk terus melangkah, meski jalannya berat.
Kita mungkin seperti Sisifus yang terus mendorong batu, tetapi kita tahu ke mana arah hidup ini dan untuk siapa usaha itu dilakukan. Bahagia bukan soal dipuji atau diakui.
Bahagia adalah ketika kita tetap berusaha, tetap berjalan, dan tetap percaya bahwa tidak ada satu pun usaha yang benar-benar sia-sia.
Oleh: Krisna Wahyu Yanuarizki











