EsaiOpini

Tak Sekadar Pendakian Bersama

×

Tak Sekadar Pendakian Bersama

Sebarkan artikel ini

Belakangan ini, mendaki gunung bersama pasangan atau orang terdekat memang jadi pemandangan yang semakin biasa.

Gunung memang punya suasana yang berbeda. Dinginnya udara, suara angin, aroma tanah basah, dan perjuangan menuju puncak sering membuat hubungan terasa lebih dekat.

Tapi sebenarnya, mendaki bersama pasangan bukan cuma soal romantis-romantisan di atas awan. Ada hal yang lebih penting untuk dipahami para pendaki, gunung tetaplah ruang bersama yang harus dijaga adab dan etikanya.

Romantis itu boleh. Mesra juga bukan masalah. Tapi tetap harus tahu batas. Kalau ingin berfoto bersama, bercanda, atau menikmati momen berdua, lakukan sewajarnya.

Jangan sampai gunung berubah seperti tempat pribadi yang membuat orang lain merasa risih.

Sebab pendaki yang baik bukan cuma yang kuat sampai summit, tapi juga yang paham etika selama perjalanan.

Dan satu hal yang menarik adalah kadang cinta yang tumbuh di gunung terasa lebih dalam. Karena kamu tidak hanya melihat pasanganmu saat rapi dan wangi, tapi juga saat dia ngos-ngosan, berkeringat, atau bahkan nangis karena kelelahan.

Dan justru di situ hubungan diuji.

Apakah masih saling menguatkan? Atau malah saling menyalahkan?

Karena hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling cepat sampai puncak, tapi siapa yang tetap memilih berjalan bersama meski langkah mulai melambat.

Kadang cinta di gunung hadir lewat hal sederhana, menawarkan air minum, membantu memasang tenda, atau berkata, “Kalau capek istirahat dulu aja, nggak usah dipaksa.”

Karena gunung bukan tempat untuk meninggalkan jejak ego, melainkan tempat belajar tentang menghargai kehidupan.

Kalau setelah melihat semua lelah, dingin, dan perjuangan itu kamu masih nyaman berjalan bersamanya, mungkin memang dia bukan cuma partner menuju puncak gunung. Tapi juga seseorang yang pantas diajak menuju puncak pelaminan.

Akhir kata, kemesraan pendaki itu bukan masalah. Yang penting, tetap jaga adab, jaga alam, dan jaga hati. 

Penulis: David Yogi Prastiawan

Advertisements