Berita

Menjaga “Roh” Kemanusiaan di Tengah Kepungan Algoritma

×

Menjaga “Roh” Kemanusiaan di Tengah Kepungan Algoritma

Sebarkan artikel ini

Samarinda, 7 Mei 2026 — Perkembangan teknologi yang pesat membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan dan literasi.

Kini, berbagai informasi dapat diakses dengan cepat hanya dalam hitungan detik. Namun di balik kemudahan itu, muncul kekhawatiran tentang menurunnya kualitas pemikiran manusia.

Agra Liz Tantri, dosen Sastra Inggris Universitas Mulawarman, melihat fenomena ini sebagai tantangan serius. Ia menilai bahwa masyarakat mulai terlalu bergantung pada teknologi, termasuk dalam hal berpikir dan menulis.

“Kita sedang menghadapi situasi di mana kemampuan berpikir dan merasa perlahan diserahkan kepada mesin,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Menurut Agra, kehadiran kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan bahasa. Padahal, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan jiwa manusia.

“Dalam sastra, setiap kata memiliki makna, emosi, dan pengalaman. Itu tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh algoritma,” jelasnya.

Ia juga menyoroti fenomena banyaknya teks yang diproduksi saat ini. Meski jumlahnya meningkat, kualitas pemahaman justru tidak selalu sejalan.

“Kita menulis lebih banyak, tapi belum tentu memahami lebih dalam. Banyak tulisan terasa rapi, tapi kosong,” katanya.

Agra menyebut kondisi ini sebagai krisis kedalaman. Masyarakat cenderung terbiasa dengan informasi singkat dan cepat, sehingga sulit untuk melakukan refleksi mendalam.

“Budaya membaca panjang dan berpikir perlahan mulai tergeser oleh kebiasaan scrolling,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini berdampak pada cara masyarakat memahami informasi. Tanpa pemikiran kritis, masyarakat mudah terpengaruh oleh hoaks dan polarisasi.

“Kita menjadi reaktif, bukan reflektif,” tambahnya.

Meski demikian, Agra tidak menolak teknologi. Ia menilai bahwa yang perlu dilakukan adalah menetapkan batas yang jelas.

“Teknologi adalah alat. Tapi ada hal yang tidak boleh digantikan, seperti empati, nurani, dan imajinasi,” tegasnya.

Dalam konteks ini, pendidikan sastra dan humaniora memiliki peran penting. Sastra mengajarkan kompleksitas manusia, sesuatu yang tidak bisa disederhanakan seperti logika mesin.

“Melalui sastra, kita belajar bahwa hidup tidak selalu hitam putih,” jelasnya.

Agra juga mendorong generasi muda untuk kembali menulis dengan jujur. Ia menilai bahwa keaslian lebih penting daripada kesempurnaan yang dibuat oleh mesin.

“Lebih baik tulisan sederhana tapi jujur, daripada sempurna tapi kosong,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk membangun budaya diskusi yang sehat. Bukan sekadar berdebat, tetapi saling memahami.

“Kita perlu ruang untuk berpikir bersama, bukan hanya saling menyerang,” katanya.

Di akhir, Agra menegaskan bahwa masa depan tidak hanya membutuhkan kecanggihan teknologi. Lebih dari itu, dibutuhkan manusia yang memiliki nilai kemanusiaan yang kuat.

“Peradaban tidak diukur dari mesin, tapi dari nilai yang dijunjung,” pungkasnya

Oleh: Agra Liz Tantri, Dosen Sastra Inggris Universitas Mulawarman

Editor: David Yogi Prastiawan

Advertisements