
Urupedia.id- Optimisme dalam politik sering kali dipandang sebagai komoditas murah. Namun ketika tokoh senior seperti Ridwan Hisjam mengumandangkan bahwa Partai Golkar “solid bergerak dan optimis menang pada Pemilu 2029”, pernyataan tersebut berhenti menjadi sekadar jargon.
Ia berubah menjadi sebuah klaim kekuasaan yang menuntut pengujian kritis.
Di tengah peta politik Indonesia yang cair, pertanyaannya menjadi relevan, apakah ini strategi jangka panjang yang brilian, atau justru bentuk overconfidence yang berbahaya?
Ridwan Hisjam menekankan satu kata kunci, solid.
Dalam sejarah politik Indonesia, Golkar memang dikenal sebagai “partai teknokrat” dengan mesin organisasi yang relatif rapi dan disiplin.
Namun publik perlu bertanya lebih jauh: soliditas seperti apa yang sebenarnya sedang dibangun?
Ada perbedaan mendasar antara soliditas yang lahir dari kesamaan gagasan dengan soliditas yang dipertahankan oleh disiplin hierarki.
Golkar sering tampak stabil di permukaan, tetapi stabilitas tersebut kerap bersifat elitis dan administratif.
Jika soliditas hanya hidup di ruang-ruang rapat elite di Jakarta tanpa resonansi nyata di akar rumput, maka yang sedang dibangun bukanlah kekuatan politik, melainkan sebuah menara gading kekuasaan.
Tanpa narasi ideologis yang kuat, partai sebesar Golkar berisiko menjadi sekadar kendaraan bagi kepentingan jangka pendek para elite.
Ia tidak lagi berfungsi sebagai wadah aspirasi publik, melainkan sebagai infrastruktur kekuasaan yang bekerja secara teknokratis namun kehilangan ruh politiknya.
Optimisme Ridwan Hisjam menuju 2029 juga akan berhadapan dengan realitas demografis yang tidak sederhana.
Pemilu mendatang akan didominasi oleh Generasi Z dan Generasi Alpha, kelompok pemilih yang tidak memiliki ikatan emosional dengan kejayaan masa lalu Golkar.
Bagi generasi muda, pengalaman politik masa lalu sering kali diterjemahkan sebagai simbol status quo.
Sementara Golkar menjual stabilitas, generasi muda menuntut perubahan yang lebih radikal—terutama pada isu ketimpangan ekonomi, krisis iklim, dan etika kekuasaan.
Jika Golkar hanya menjual memori kejayaan masa lalu tanpa menawarkan visi masa depan yang meyakinkan, maka mereka tidak sedang mempersiapkan kemenangan.
Mereka justru sedang merayakan senjakala politiknya sendiri.
Golkar harus bertransformasi dari sekadar “partai pemerintah” menjadi “partai solusi”.
Soliditas mesin partai tidak akan berarti banyak jika gagal menembus ruang diskusi kritis anak muda dan ekosistem digital yang kini menjadi arena utama pembentukan opini publik.
Bahaya Narsisme Politik dan Overconfidence
Pernyataan kemenangan yang dikumandangkan lima tahun sebelum pemungutan suara bukan sekadar optimisme.
Ia adalah sebuah pertaruhan psikologis yang berisiko.
Sejarah politik Indonesia telah berkali-kali menunjukkan bahwa panggung kekuasaan adalah kuburan bagi partai-partai besar yang pernah merasa terlalu kuat untuk tumbang.
Ketika narsisme politik mulai merayap ke dalam ruang-ruang rapat elite, kekuasaan sering dipandang sebagai takdir yang pasti—bukan lagi amanah yang harus diperjuangkan setiap hari.
Bahaya terbesar dari rasa percaya diri yang berlebihan adalah terciptanya anestesi politik bagi militansi kader di tingkat bawah.
Ketika narasi kemenangan mutlak terus didengungkan dari pusat, sinyal yang diterima di akar rumput sering kali justru menjadi undangan untuk bersantai.
Risiko sistemiknya jelas, kader menjadi pasif, terjebak dalam euforia semu, dan merasa tidak lagi perlu mengetuk pintu rumah rakyat karena kemenangan dianggap sudah berada dalam genggaman.
Situasi ini menciptakan kepuasan partai yang mematikan.
Mesin organisasi mungkin terlihat solid di permukaan, tetapi semangat militansi di dalamnya perlahan mengalami pengeroposan.
Lebih jauh lagi, narsisme politik sering kali membungkam apa yang bisa disebut sebagai “detektor realitas” organisasi.
Dalam lingkungan yang terlalu percaya diri, kritik internal kerap dianggap sebagai gangguan—bahkan pengkhianatan terhadap optimisme kolektif.
Akibatnya, partai terjebak dalam bilik gema politik, di mana yang terdengar hanyalah laporan-laporan menyenangkan bagi telinga elite.
Sementara itu, kegelisahan rakyat yang nyata di luar sana gagal terdeteksi.
Tanpa kerendahan hati politik untuk mengakui kelemahan, Golkar berisiko menjadi buta terhadap dinamika global yang volatil—mulai dari fluktuasi ekonomi yang memukul daya beli hingga pergeseran geopolitik yang mampu mengubah preferensi pemilih dalam waktu singkat.
Optimisme Ridwan Hisjam, jika tidak dibarengi dengan audit strategi yang jujur dan brutal, berpotensi berubah menjadi delusi politik yang menjauhkan partai dari denyut nadi konstituennya.
Pemilih hari ini—terutama generasi muda yang cenderung sinis terhadap kemapanan—memiliki sensitivitas tinggi terhadap keangkuhan politik.
Jika Golkar hanya sibuk memuaskan ego internal melalui jargon kemenangan tanpa benar-benar menyentuh realitas kehidupan rakyat, maka mereka sebenarnya sedang membangun panggung bagi kejatuhan mereka sendiri.
Politik Tanpa Gimik, Kekuatan atau Kelemahan?
Pendekatan teknokratis dan gaya politik minim gimik yang selama ini menjadi identitas Golkar merupakan pedang bermata dua dalam lanskap politik modern.
Di satu sisi, pendekatan ini mencerminkan kedewasaan institusional yang lebih mengutamakan substansi kebijakan daripada populisme dangkal.
Namun di sisi lain, dalam era “politik tontonan” (spectacle politics), di mana algoritma media sosial lebih memihak narasi emosional daripada tabel data, pendekatan yang terlalu kaku bisa menjadi bumerang.
Publik hari ini tidak cukup hanya disuguhi angka pertumbuhan ekonomi atau klaim stabilitas makro.
Mereka membutuhkan simbol yang merepresentasikan kegelisahan mereka, narasi yang menyentuh empati, serta harapan yang dapat mereka bayangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika optimisme menuju 2029 gagal diterjemahkan ke dalam bahasa rakyat kelas menengah ke bawah, maka seluruh kecanggihan teknokratis itu akan terasa dingin dan berjarak di telinga pemilih.
Persimpangan jalan ini menuntut Golkar untuk tidak sekadar menjadi partai mapan yang nyaman dalam stabilitasnya.
Partai ini harus berani merebut kembali imajinasi publik melalui otokritik yang jujur dan pembaruan yang nyata.
Untuk memenangkan hati pemilih 2029—terutama generasi muda—Golkar tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional seperti memadati ruang publik dengan baliho atau sekadar memamerkan barisan kader berseragam kuning.
Solusi fundamentalnya adalah mengawinkan mesin organisasi yang rapi dengan keberpihakan publik yang autentik.
Golkar perlu mengubah data menjadi cerita manusiawi, menjadikan statistik sebagai solusi konkret bagi pengangguran, ketimpangan ekonomi, dan kecemasan masa depan generasi muda.
Partai ini juga perlu memberi ruang yang lebih luas bagi kader muda untuk mendefinisikan ulang wajah Golkar sesuai dengan bahasa zamannya.
Pada akhirnya, kemenangan politik bukan hanya soal seberapa solid barisan di bawah komando, tetapi seberapa berani sebuah partai keluar dari tembok kekuasaan untuk mendengar suara-suara yang selama ini terabaikan.
Jika Golkar mampu menyuntikkan jiwa baru yang lebih inklusif dan progresif ke dalam kerangka teknokratisnya, maka optimisme Ridwan Hisjam mungkin akan menemukan landasan pacu yang nyata.
Namun jika partai ini tetap terjebak dalam narsisme struktural dan menganggap soliditas sebagai akhir dari perjuangan, sejarah mungkin akan kembali mencatat satu pelajaran lama, partai besar tidak runtuh karena serangan lawan, tetapi karena kehilangan jiwa dan gagal menangkap getaran zaman.
Soliditas tanpa perubahan adalah stagnasi.
Optimisme tanpa evaluasi adalah delusi.
Jika Golkar mampu mengawinkan kekuatan organisasinya dengan keberpihakan publik yang tulus, maka nubuat kemenangan 2029 mungkin akan menjadi kenyataan.
Namun jika tidak, sejarah akan kembali mengingatkan, partai besar tidak hancur karena serangan dari luar—mereka roboh karena kehilangan jiwanya sendiri.
Oleh Moh. Habibi Syafi’iuddin
Editor: Krisna Wahyu Yanuar






