
Gugatan Terhadap Nalar Yang Saklek
Urupedia.id- Pendidikan yang ideal tidak sekadar mencetak lulusan yang siap kerja, tetapi melahirkan sosok yang mampu mengintegrasikan kearifan lokal dengan tantangan global demi menjaga jati diri bangsa.
Sekolah dan kampus harus bertransformasi menjadi taman kreativitas yang membebaskan daya kritis, sehingga setiap manusia tidak hanya menjadi penikmat ilmu melainkan pencipta nilai-nilai baru yang membawa kemaslahatan bagi sesama.
Kehadiran filsafat pendidikan sebagai instrumen intelektual menjadi krusial di tengah tren pendidikan modern yang cenderung terjebak dalam formalitas administratif dan standarisasi teknokratis. Sistem yang ada saat ini acap kali lebih memprioritaskan capaian angka-angka statistik, efisiensi operasional, dan pemenuhan kebutuhan pasar tenaga kerja. Hal ini akan cenderung mengesampingkan aspek spiritualitas yang merupakan esensi terdalam dari kemanusiaan.
Pendangkalan sistem pendidikan menjadi sekadar ‘pabrik’ penghasil tenaga kerja telah menciptakan krisis eksistensial yang sistematis dalam masyarakat modern.
Ketika fokus utama lembaga pendidikan hanya tertuju pada efisiensi teknis dan kesiapan kompetensi industri, proses belajar-mengajar kehilangan daya magisnya sebagai perjalanan penemuan jati diri.
Manusia tidak lagi dilihat sebagai subjek yang memiliki kehendak bebas, melainkan objek statistik yang harus memenuhi standar pasar.
Akibatnya, muncul fenomena kekeringan batiniah di mana individu mungkin memiliki keahlian tinggi dan jabatan mentereng, namun merasa hampa karena tidak memiliki kedalaman spiritual maupun pemahaman tentang makna hidup yang lebih luas.
Filsafat pendidikan hadir sebagai antitesis terhadap logika mekanistik ini dengan menawarkan cara pandang yang lebih humanis dan holistik. Gugatan filsafat terhadap praktik pendidikan yang mereduksi manusia menjadi “sekrup mesin” bertujuan untuk membongkar struktur kurikulum yang hanya berorientasi pada hasil material.
Filsafat mengingatkan kita bahwa setiap individu membawa potensi unik. Dengan mengisi “ruang kosong” tersebut, pendidikan diarahkan kembali untuk menyentuh aspek-aspek afektif, moral, dan estetika yang selama ini terpinggirkan oleh dominasi nalar teknokratis.
Melampaui Kurikulum, Memerdekakan Jiwa
Melalui upaya membedah kembali nilai-nilai fundamental, kita diajak untuk memandang melampaui kurikulum formal dan masuk ke dalam ranah pemuliaan martabat manusia secara utuh.
Pengembalian orientasi pendidikan ke jalur yang benar berarti menempatkan pengasahan batiniah sebagai poros utama yang menggerakkan kecerdasan intelektual.
Pendidikan tidak boleh berhenti pada penguasaan teknologi atau logika semata, melainkan harus mampu menyentuh sisi terdalam manusia agar ia memiliki integritas, empati, dan kesadaran etis.
Dengan memahami kembali hakikat diri sebagai makhluk yang memiliki dimensi material sekaligus spiritual, setiap proses pembelajaran akan bertransformasi dari sekadar rutinitas kelas menjadi sebuah perjalanan spiritual yang memerdekakan.
Upaya kolektif untuk mengembalikan pendidikan pada khittahnya memerlukan sinergi mendalam antara pendidik, orang tua, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas agar tidak terjebak dalam target administratif semata.
Kesadaran kolektif ini menjadi krusial karena tantangan zaman cenderung menggiring manusia untuk menjadi individualistik dan kompetitif demi pencapaian material.
Dengan menyatukan visi bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia secara total, kita sedang membangun benteng pertahanan moral yang kokoh.
Hal ini memastikan bahwa setiap kebijakan kurikulum dan metode pembelajaran yang lahir di masa depan selalu bertujuan untuk memelihara martabat manusia, bukan justru mengikisnya demi efisiensi pasar.
Keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kepekaan nurani bukanlah sekadar pilihan ideal, melainkan keharusan mendesak di tengah peradaban yang kian teknokratis.
Ketika sistem pendidikan berhasil menyatukan kedua aspek ini, hasil yang dicapai adalah lahirnya “intelektual organik” yang memiliki akar moral yang kuat. Individu yang hanya unggul secara kognitif sering kali terjebak dalam logika yang menghalalkan segala cara demi mencapai efisiensi atau kekuasaan, sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki justru berpotensi menjadi senjata untuk mengeksploitasi sesama.
Sebaliknya, kemurnian niat tanpa kapasitas berpikir kritis akan membuat individu mudah terombang-ambing dan tidak mampu memberikan solusi nyata atas persoalan sistemik.
Generasi yang dicita-citakan memandang ilmu pengetahuan dan teknologi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk memanusiakan manusia.
Di tangan mereka, inovasi teknologi tidak lagi digunakan untuk memperlebar jurang kesenjangan, namun untuk menciptakan akses keadilan dan memecahkan krisis kemanusiaan.
Mereka memiliki kemampuan untuk melakukan refleksi kritis terhadap setiap tindakan, sehingga setiap penemuan atau kebijakan yang dihasilkan selalu dipandu oleh prinsip etika.
Kecakapan teknis yang dimiliki selalu dibarengi dengan pertanyaan fundamental tentang tanggung jawab sosial, memastikan bahwa kemajuan yang diraih tidak mengorbankan martabat individu atau kelestarian lingkungan demi ambisi sesaat.
Akhirnya, generasi nantinya adalah arsitek peradaban yang bekerja atas dasar semangat kemaslahatan publik.
Mereka menyadari bahwa kebermaknaan hidup tidak diukur dari akumulasi materi atau pengakuan jabatan, melainkan dari sejauh mana kehadiran mereka mampu memberikan dampak positif bagi orang lain.
Dengan menjadikan kebijaksanaan sebagai kompas dalam setiap langkah, mereka akan mengukir sejarah yang tidak lagi didominasi oleh keserakahan, melainkan oleh kolaborasi dan empati, sehingga pendidikan benar-benar mewujudkan janjinya untuk membangun dunia yang lebih adil dan beradab.
Oleh: Mochamad Chazienul Ulum, Dosen Universitas Brawijaya
Editor: Krisna Wahyu Yanuar






