
Urupedia.id- Awal 2026, TheoTown—sebuah game simulasi kota bergaya pixel art—tiba-tiba diserbu pemain dari Indonesia.
Lonjakan itu bahkan membuat server pengembang asal Jerman kewalahan. Fenomena ini tampak sepele: game lama, spesifikasi ringan, grafis sederhana.
Namun justru di sanalah letak kejanggalannya. Sebuah kota virtual yang terlalu ramai seolah menandakan ada sesuatu di luar sana yang ingin diucapkan, tetapi tak menemukan ruangnya.
Bermain Jadi Pemerintah, Bercanda dengan Kekuasaan
Di tangan netizen Indonesia, TheoTown berubah menjadi panggung satir.
Pemain berperan sebagai walikota—menaikkan pajak secara ekstrem, menggusur permukiman demi industri, atau membangun gedung mewah di tengah kemiskinan.
Semua tampak seperti lelucon, tetapi kebijakan-kebijakan itu terasa akrab.
Humor menjadi selubung tipis bagi kritik terhadap logika kekuasaan yang sering kali terasa jauh dari rakyat.
Warga Virtual yang Lebih Jujur
Ketika kebahagiaan warga menurun, kota digital bereaksi.
Demonstrasi, kerusuhan, hingga pembakaran gedung muncul di layar.
Adegan-adegan ini kemudian dipotong, diberi caption, dan disebarkan di media sosial dengan rujukan pada kondisi Indonesia.
Warga pixel itu menjadi simbol warga nyata: ketika tak didengar, mereka bersuara dengan cara apa pun yang tersisa.
Indonesia dalam Bentuk Plugin
Komunitas Indonesia tidak berhenti pada kritik simbolik. Mereka menambahkan elemen lokal, bus TransJakarta, bangunan ikonik, hingga sistem transportasi khas.
Kota virtual dibuat semakin “Indonesia”, lengkap dengan segala problem strukturalnya.
Di sini, TheoTown bukan lagi game asing, melainkan miniatur negeri—tempat eksperimen kebijakan dilakukan tanpa konsekuensi nyata, tetapi dengan makna yang terasa nyata.
Spesifikasi Rendah, Pesan Tinggi
TheoTown bisa berjalan di hampir semua perangkat. Barangkali itulah metafor yang tepat: kritik tidak selalu membutuhkan medium megah.
Dari game ringan berukuran ratusan megabyte, lahir percakapan politik yang lebih hidup dibanding banyak forum resmi.
Kesederhanaan justru membuat pesannya mudah menyebar.
Ketika Kritik Mencari Jalan Memutar
Viralnya TheoTown bukan semata tren digital. Ia adalah tanda.
Ketika kritik harus disampaikan lewat kota pixel dan warga virtual, mungkin ada yang tidak beres dengan ruang dialog di dunia nyata.
Game ini memang fiktif, tetapi kegelisahan yang diwakilinya nyata.
Kota Virtual, Peringatan Nyata
TheoTown mungkin hanya permainan.
Namun di balik grafis kotaknya, ia menyimpan peringatan halus, jika kebijakan selalu berdampak, kebahagiaan warga tidak bisa diabaikan, dan jika suara tak mendapat ruang, ia akan mencari medium lain—bahkan jika itu hanya sebuah kota kecil di layar ponsel.
Oleh: Krisna Wahyu Yanuar








