Berita

Festival Konferensi Asia-Afrika 2026 Hidupkan Spirit Bandung untuk Generasi Muda

×

Festival Konferensi Asia-Afrika 2026 Hidupkan Spirit Bandung untuk Generasi Muda

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) kembali digaungkan melalui Festival dan Pameran Konferensi Asia-Afrika 2026 yang digelar di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi lintas negara yang mengangkat isu diplomasi, sejarah, pendidikan, kebudayaan, ekonomi kreatif, hingga inovasi perkotaan sebagai upaya menerjemahkan Spirit Bandung ke dalam tantangan abad ke-21.

Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K)., Rektor Unika Atma Jaya

Festival mengusung tema “Reimajinasi Konferensi Asia-Afrika untuk Generasi Muda dan Jakarta Kota Global: Solidaritas, Multidiplomasi, dan Multinarasi Sejarah Dunia.”

Acara diselenggarakan oleh Perluni Unika Atma Jaya, Iluni Fakultas Hukum Unika Atma Jaya, Forum Silaturahmi Anak Bangsa, Youth for Global Solidarity, Tinta Narrativa, dan Aspirasi Jakarta, dengan dukungan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Pembukaan diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya, Mars Asia-Afrika Bersatu, dan Mars Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya sebagai simbol semangat kebangsaan dan persahabatan antarbangsa.

Duta Besar Ethiopia untuk Indonesia, Fekadu Beyene Aleka, menegaskan generasi muda menjadi aktor utama dalam menentukan masa depan dunia.

Menurutnya, kolaborasi antarnegara tidak cukup dilakukan melalui hubungan diplomatik pemerintah, tetapi juga harus diperkuat lewat kerja sama akademik, riset, pertanian, manufaktur, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu, Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdal Fatah, mengingatkan bahwa perjuangan bangsa-bangsa Asia-Afrika masih berlangsung.

Ia mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina serta menilai semangat solidaritas KAA tetap relevan untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

Perspektif budaya disampaikan Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Iran, Yahya Giri. Ia menyebut diplomasi masa kini tidak hanya dibangun melalui politik, tetapi juga sastra, film, media digital, hingga kecerdasan buatan.

Generasi muda didorong menciptakan narasi baru yang menghidupkan kembali Spirit Bandung melalui karya kreatif.

Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Yuda Turana, menekankan perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kolaborasi internasional.

Hal senada disampaikan Ketua PERLUNI Unika Atma Jaya, Ivor Pasaribu, yang menilai jejaring alumni penting dalam memperkuat kontribusi pendidikan tinggi terhadap pembangunan nasional dan hubungan internasional.

Ketua Ikatan Alumni Fakultas Hukum Unika Atma Jaya, Arthur Sanger, mengatakan keberagaman merupakan fondasi solidaritas sebagaimana diwariskan KAA 1955.

Ia mengajak seluruh peserta menjadikan festival sebagai ruang lahirnya kolaborasi baru melalui semangat “Bersama Bergerak Konkret Berdampak.”

Founder Aspirasi Jakarta, Budhi Haryadi, menambahkan generasi muda memiliki tanggung jawab melanjutkan warisan Konferensi Asia-Afrika melalui pendekatan multidiplomasi yang menghubungkan sejarah, pendidikan, kebudayaan, inovasi, dan ekonomi kreatif dalam mendukung Jakarta sebagai kota global.

Festival juga menghadirkan tiga forum utama, yakni diskusi ekonomi kreatif, talkshow sejarah mengenai diplomasi Soekarno dalam Konferensi Asia-Afrika, serta forum kerja sama pendidikan bertema Sister City Jakarta-Moskow yang membahas penguatan diplomasi kota melalui pendidikan, riset, dan pertukaran mahasiswa.

Selain diskusi, pengunjung disuguhi pameran sejarah, arsip diplomasi, fotografi, sastra, seni, dan instalasi tematik yang menampilkan perjalanan Konferensi Asia-Afrika sejak 1955 hingga relevansinya bagi dunia saat ini.

Melalui festival tersebut, penyelenggara berharap Spirit Bandung tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi terus hidup sebagai inspirasi memperkuat solidaritas antarbangsa, mendorong inovasi, serta membentuk generasi muda yang berpandangan global dengan tetap berlandaskan nilai kemanusiaan.

Advertisements