
Urupedia-Di negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, seharusnya pendidikan jadi kekuatan utama. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya, banyak anak cerdas tak pernah dapat kesempatan berkembang karena sistem yang tidak berpihak. Kita sering mendengar bahwa pendidikan merupakan kunci masa depan. Namun pada kenyataannya, sistem pendidikan di Indonesia justru sering menjadi bahan kritik. Bukan hanya dari masyarakat sendiri, tetapi juga dari dunia internasional.
Ada beberapa laporan global bahkan menempatkan pendidikan Indonesia di posisi yang cukup menyedihkan. Sebagai generasi muda, hal ini sebenarnya bukan untuk bikin kita minder. Sebaliknya, ini harus menjadi alarm bahwa ada yang harus diperbaiki dan harus segera dilakukan.
Realita Kemampuan Pelajar
Setiap beberapa tahun, ada yang namanya tes PISA (Programme for International Student Assessment). Tes ini mengukur kemampuan pelajar usia 15 tahun di bidang membaca, matematika, dan sains. Bagaimana hasilnya? Pada tahun 2022, Indonesia mendapatkan skor terendah dengan 369 poin dan menempati peringkat ke-68 dari 81 negara.
Mirisnya, banyak negara berkembang lainnya bahkan sudah melampaui kita. Ini jelas bukan soal murid kita bodoh, tapi sistem pendidikan kita yang belum optimal. Terutama dalam mengasah pemahaman, bukan sekadar hafalan.
Nilai Jadi Segalanya, Pemahaman Belakangan
Siapa sih yang tidak pernah stress gara-gara ujian? Sistem pendidikan kita masih terlalu berfokus pada angka. Berapa nilai ujianmu? Peringkat kelas berapa? Bisa masuk sekolah favorit atau tidak?
Mentalitas ini membuat siswa belajar demi nilai, bukan pemahaman. Padahal, negara-negara maju sudah mulai meninggalkan sistem seperti itu. Mereka lebih fokus ke critical thinking, diskusi terbuka, eksplorasi ide, dan belajar kolaboratif. Sementara kita masih sering mendengar kalimat: “Hafalin aja dulu.”
Guru Sudah Berjuang, Tapi Banyak yang Dibiarkan Sendiri
Kita semua tahu, banyak guru di Indonesia yang luar biasa, memiliki dedikasi yang tinggi, dan semangat yang tulus. Tapi sayangnya, mereka tidak selalu punya fasilitas yang cukup, pelatihan yang memadai, atau bahkan gaji yang layak. Terutama mereka yang mengajar di daerah terpencil.
Bayangkan, di era digital seperti sekarang, masih banyak guru dan siswa yang kesulitan akses internet, buku, bahkan meja belajar. Jadi, wajar kalau pendidikan terasa tidak adil, yang di kota bisa maju, yang di desa tertinggal jauh.
Kurikulum Gonta-Ganti, Anak Jadi Korban Eksperimen
Masalah lain yang membuat dunia luar geleng-geleng kepala adalah seringnya kurikulum kita berubah. Hampir setiap menteri pendidikan punya versi kurikulum sendiri. Akibatnya? Guru dan siswa bingung adaptasi, dan pembelajaran jadi tidak konsisten. Pendidikan itu butuh arah yang jelas dan jangka panjang. Bukan eksperimen dadakan yang menjadikan anak sekolah seperti kelinci percobaan dari kebijakan yang belum matang.
Jadi, Apa Solusinya?
Tidak ada solusi instan, namun kita bisa mulai dari hal-hal sederhana. Pertama, buat sistem belajar yang manusiawi yang tidak hanya mengejar nilai, tapi juga memperhatikan proses dan kenyamanan belajar. Kedua, ajarkan anak berpikir, bukan hanya menghafal. Ketiga, dukung guru dengan fasilitas dan pelatihan. Keempat, jangan remehkan pendidikan vokasi atau alternatif non-akademik. Dan yang terpenting yaitu, buat kebijakan yang konsisten, bukan hanya tren sesaat.
Karena sejatinya, kualitas pendidikan bukan hanya tentang nilai rapor. Tapi tentang bagaimana kita mencetak manusia yang siap hidup di dunia nyata. Yang mampu berpikir kritis, berinovasi, dan beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.
Pendidikan yang ideal bukanlah yang hanya mencetak lulusan yang memiliki gelar, tetapi yang melahirkan generasi yang mampu berkontribusi dan menyelesaikan masalah di Masyarakat. Bukan hanya yang pintar menjawab soal, tetapi juga yang peduli terhadap lingkungan, toleran terhadap perbedaan, dan juga mempunyai semangat untuk memimpin di masa depan.
Jadi, kalau selama ini kamu merasa pendidikan di Indonesia kadang tidak relevan, kamu tidak sendirian. Dunia pun melihat hal yang sama. Tapi daripada kamu pesimis, yuk jadikan ini momentum untuk berubah pelan-pelan, tapi pasti. Karena masa depan kita ditentukan dari hari ini juga.
Penulis: Nazwa Azzahra, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tinggal di daerah Jakarta Selatan. Instagram: @nazwazzah.
Editor: Al Fatih











