Sastra

Berkelana

×

Berkelana

Sebarkan artikel ini

Malam itu suasana terasa sangat dingin. Bunyi jangkrik, tokek, dan nyamuk bersahut-sahutan, beriringan seperti nyanyian yang menenangkan. Desa Panjerejo tenggelam dalam sunyi. Para penduduknya telah terlelap tanpa suara. Aku membaca buku di kamar, sebuah kisah tentang peri baik hati yang menemani seorang perempuan yang selalu merasa sendiri di dunianya. Pada malam itu, aku berharap memiliki seorang teman seperti peri dalam cerita tersebut.

***

Pagi itu matahari tidak seperti biasanya. Kabut tebal menutupi cahaya yang setia menyinari bumi. Aku beranjak dari tempat tidur, membuka jendela, dan menatap sinar matahari yang tertahan kabut.

“Alea, bangun,” ucap Ibu dari luar kamar.

“Iya, Bu,” jawabku.

Aku segera mencuci muka, menggosok gigi, dan mandi. Setelah itu, aku sarapan dengan makanan yang telah disiapkan ibu. Usai sarapan, aku berpamitan kepada ayah dan ibu sebelum berangkat ke sekolah.

Di sepanjang jalan menuju sekolah, dinginnya pagi yang diselimuti kabut terasa menusuk kulit. Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju kelas, menaruh tas, lalu duduk menunggu bel berbunyi sebagai tanda dimulainya pelajaran pertama.

Aku duduk sebangku dengan Zahra. Ia adalah temanku yang cantik, ceria, dan menggemaskan. Zahra selalu perhatian kepadaku dan sering mengajakku berbincang, berbeda denganku yang cenderung pendiam.

“Eh, nanti ayo kita ke kantin,” ucap Zahra.

“Ayo. Kita beli apa nanti?” Tanyaku.

“Kalau kamu, enaknya apa?”

“Hmm, apa ya?”

“Atau kita makan bakso dan minum es teh saja?”

“Hem, boleh. Ayo.”

Saat jam istirahat tiba, kami menuju kantin Bu Ani. Kami memesan bakso dan es teh, lalu mencari tempat duduk di dekat pohon mangga. Namun, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang ganjil.

“Zahra, kayaknya ada yang kurang. Kamu merasa tidak?” Tanyaku.

“Apa ya?” Balasnya.

Kami memperhatikan meja, lalu Zahra tersadar.

“Eh, di meja kita tidak ada saus dan kecap,” katanya.

“Oh iya. Kalau begitu aku ambilkan di tempat Bu Ani,” jawabku.

“Jangan, biar aku saja,” kata Zahra cepat.

“Tidak apa-apa, aku saja.”

“Tidak usah, Alea. Aku saja.”

Zahra pun bergegas ke kantin. Saat ia meninggalkanku sendirian, perasaan sepi tiba-tiba menyelinap. Aku memandang sekeliling. Sambil menunggu Zahra, aku melihat 0rang-orang berbincang dan berlarian kesana kemari dan ternyata ada seorang perempuan yang mengamatiku dari pojok kelas.

Tak lama kemudian, Zahra datang membawa saus kecap bersama bu Ani yang membawa bakso. Lalu kami menikmati bakso dan es teh tadi, tak terasa jam istirahat telah usai, kami bergegas menuju ke kelas.

***

Keesokan harinya aku masuk sekolah seperti biasanya tetapi Zahra tidak masuk sekolah, entah kenapa? Ketika Zahra tidak masuk aku merasa kesepian duduk dibangku kelas sendiri, ke kantin juga sendiri, duniaku merasa sepi ketika tidak ada Zahra.

Bel pulang berbunyi dengan nyaring, teman-teman beramai-ramai keluar menuju gerbang sekolah. Aku berjalan sendirian. Namun aku merasa ada seseorang mengikutiku. Saat kutolehkan kepala, aku melihat perempuan yang sama seperti di kantin kemarin. Aku langsung berlari sekencang mungkin hingga tiba di gerbang sekolah. Ketika kutengok ke belakang, perempuan itu sudah menghilang.

Kemudian aku berjalan ke rumah Zahra, di sepanjang jalan aku melihat pohon-pohon yang rindang, sesampainya di rumah Zahra aku melihat rumah Zahra terlihat sepi, lalu aku menekan bel rumah Zahra beberapa kali. Namun, tetap tidak ada respon, Aku melihat rumah Zahra yang sepi, rumah tua bercat coklat menghadap ke utara yang ada di Jalan Setunggal nomor 26.

***

Keesokan harinya Zahra masih belum masuk sekolah. Aku kembali mengecek rumahnya. Namun tiba-tiba, perempuan itu muncul lagi dan mengikutiku. Saat kutoleh, ia berlari. Aku mengejarnya sambil berteriak, “Hei, tunggu aku!”

Sesampainya di Terowongan Kleben, perempuan itu menghilang. Kemudian aku menyalakan ponselku untuk mengaktifkan senter di terowongan yang gelap, sunyi, dan menakutkan. Namun tiba-tiba aku menemukan sebuah batu berwarna hijau berkilauan, lalu aku mengusap batu itu.

Tiba-tiba aku masuk ke dalam batu itu. Melintasi sebuah ruang berwarna-warni, seperti kupu-kupu juga bukan, seperti pelangi juga bukan, lalu aku melihat cahaya berwarna putih yang terang, aku melihat taman bunga yang indah.

Aku linglung dan berjalan menyusuri taman itu. Di sana aku bertemu perempuan berambut pendek dan berkulit kuning langsat. Ia adalah sosok yang selama ini mengikutiku.

“Hei, jangan lari. Tunggu aku,” seruku.

Kupu-kupu beterbangan saat aku berlari mengejarnya. Aku terjatuh dan melihat perempuan itu masuk ke sebuah pintu tembus pandang. Saat tanganku menyentuhnya, tanganku seolah menghilang. Aku pun memutuskan melewati pintu itu dan memasuki tempat yang terasa mencekam.

Di situ, ada perempuan berambut pendek yang menungguku, Dia menyapaku.

“Hai, Alea. Aku tahu kamu sedang mencari temanmu,” katanya.

“Kamu siapa?” tanyaku bingung.

“Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Yang penting, aku tahu siapa kamu.”

“Kamu siapa dulu?”

“Aku yang akan membantumu mencari temanmu”

“Kamu siapa, Ayo kenalan?”

“Nama aku,Vina”

Lalu kita berkenalan, Vina mengajak aku menemukan Zahra.

“Hati-hati, di sini banyak jebakan,” ujar Vina. Dan benar saja, duri-duri tajam menggantung di atas. Aku menunduk, jantungku berdebar kencang.

“Ikuti perintahku,” kata Vina.

Kemudian kami mencari Ratu peri. Di sana ada seorang penjaga pintu, mereka bertanya sambil mengeluarkan sebuah senjata seperti tombak berkilauan, “ada urusan apa kalian kemari?” 

Kami berdua gugup karena ternyata ratu peri itu dijaga ketat oleh penjaga yang berbadan besar, lalu kami menjawab “kami ingin menemui Ratu peri” setelah melewati pertanyaan panjang akhirnya kami diperbolehkan menemui Ratu peri.

Para penjaga mengantarkan kami menuju ke ruangan Ratu peri, ruangan Ratu peri sangat ramah. Di sana berdirilah Ratu peri bersama ajudannya. Alea tiba-tiba maju menghampiri Ratu peri.

“Ratu peri mohon maaf, Zahra apa ada di sini”

Kemudian ratu peri menghampiri Alea tepat di depan wajahnya “kamu mencari temanmu?”

“Iya ratu”

“Kamu bersama dengan Vina?”

“Iya ratu, saya di sini” jawab Vina

“Baiklah, Zahra saat ini sedang dikurung untuk dijadikan santapan bangsa kaum troll, Zahra juga sama dengan kami”

“Hah” aku terkejut

“Iya Alea, kondisinya memang seperti itu. Vina-Alea sebelum kalian menyelamatkan temanmu pakailah 2 cincin ini. Kamu nanti akan diantar penjaga sebelum memasuki hutan Alanka, kamu akan melewati sebuah rawa di situ, kamu akan memakai perahu, kamu akan dipandu oleh penjaga kami, Vina juga sudah tahu”

“Baik Ratu, Terima kasih”

Kami berangkat menuju tempat itu, selama di perahu aku memandang kanan kiriku yang dipenuhi oleh pohon-pohon yang rindang. Aku bertanya kepada penjaga

“apa masih jauh untuk kita bertemu Zahra”

“Udah jangan banyak tanya” jawab penjaga

Setelah sekitar sepuluh menit di atas perahu, akhirnya kami sampai di tempat pertemuan dengan Zahra. Namun, menyelamatkan Zahra ternyata tidak semudah yang kami bayangkan.

Kami memasuki Hutan Alanka, sebuah tempat yang dipenuhi hewan-hewan liar dan pepohonan raksasa yang menjulang tinggi. Kami menyusuri jalan setapak, sambil terus mencari keberadaan Zahra. Cincin pemberian Ratu Peri masih kugenggam erat, seolah memberiku kekuatan dan harapan.

Tak lama kemudian, tiba-tiba Zahra muncul dari balik semak-semak dan menghampiri kami. Aku terkejut, aku langsung memeluknya erat.

Zahra menatapku dengan wajah cemas, lalu berkata, “Tolooong… selamatkan aku, sebelum aku dijadikan santapan kaum troll.”

Tanpa membuang waktu, aku segera mengajak Vina dan para penjaga untuk pergi secepatnya.

Namun, belum sempat kami melangkah jauh, seekor monster troll besar telah berdiri menghadang di depan kami. Zahra bersembunyi di balik punggungku, gemetar ketakutan.

Aku menatap Vina, lalu para penjaga. “Kita tidak bisa melawan semua troll secara langsung. Tapi kita juga tidak bisa bersembunyi selamanya. Kita harus menemukan jalan keluar dari hutan ini.”

Salah satu penjaga, bilang “Ada jalur rahasia. Itu jalur kuno yang dulu dipakai para Peri. Tapi berbahaya. Jalurnya sempit, dan jika salah langkah, bisa jatuh ke jurang.”

Jalur itu sempit, hanya cukup untuk berjalan satu per satu. Di bawah kami, jurang. Di kejauhan, terdengar suara para troll yang mulai bergerak mencari.

Saat kami hampir mencapai ujung jalur, seekor troll raksasa lebih besar dari yang sebelumnya muncul di atas tebing. Dia melompat ke tengah jalur, memblokir jalan keluar kami.

“Aku tidak akan membiarkan kalian lolos!” raungnya, suaranya bergema di seluruh lembah.

Aku maju perlahan, lalu mengangkat cincin pemberian Ratu Peri.

Cincin itu bersinar melindungi kami, yang membuat troll jatuh ke jurang

***

Zahra berdiri di tepi perahu, memandang air danau dengan mata yang menerawang. pikirannya masih dipenuhi bayangan tentang kaum troll

“Ayo naik,” kataku

Satu per satu kami menaiki perahu. Vina duduk di depan memegang dayung, aku duduk di samping Zahra dan belakang kami para penjaga-penjaga

Perahu mulai berjalan, mendekat ke arah tempat Ratu peri tinggal. Yang menandakan badai ini akan berakhir, Kami sampai dan para penjaga meminta kami untuk segera turun dari perahu

“Kita berhasil menyelamatkan Zahra” kataku

Zahra mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada kami

Para penjaga menundukkan kepala, memberi penghormatan kepada Zahra dan kami

Kami tahu, meskipun sudah menyelamatkan Zahra, kehidupan di negeri para Perii akan mulai membaik. dan kami pun bisa hidup dalam damai.

Tapi jauh di dalam hati, kami juga tahu…

Jika kegelapan datang lagi, kami akan siap.

Oleh: Inez Alea Pearvita Widayat

Editor: Al Fatih

Advertisements
Sandiwara_Canva_Al Fatih
Sastra

Urupedia-Aku tak ingin mencintaimu seperti cintanya Prabowo kepada…

Sastra

Semilir angin menerjang rambutkuMengiringi langkah kakiku menuju taman…