
Urupedia.id- Arus informasi yang bergerak begitu cepat di era digital kerap melahirkan berbagai tren yang datang dan pergi.
Namun, di tengah dinamika tersebut, muncul sebuah gerakan yang tidak berhenti sebagai sensasi sesaat, melainkan berkembang menjadi bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan.
Generasi Z (Gen Z)—yakni mereka yang lahir pada pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an—tumbuh dalam ekosistem digital yang membentuk cara pandang serta respons mereka terhadap isu-isu global (Dimock, 2019).
Kedekatan dengan teknologi sejak usia dini membuat generasi ini lebih mudah mengakses, memahami, dan mendiskusikan persoalan seperti krisis iklim, kerusakan lingkungan, serta polusi plastik yang kian mengkhawatirkan.
Sebagai generasi yang besar bersama internet dan media sosial, Gen Z memiliki akses luas terhadap informasi, termasuk pengetahuan mengenai perubahan iklim.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen anggota Gen Z memandang perubahan iklim sebagai persoalan serius yang menuntut tindakan segera (Bergs, 2021).
Riset dari Pew Research Center juga menegaskan bahwa tingkat kesadaran Gen Z terhadap krisis iklim lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya (Dimock, 2019).
Kesadaran tersebut menjadikan Gen Z sebagai kelompok yang responsif terhadap isu ekologis.
Melalui koneksi digital yang mereka miliki, mereka mampu mengakses data lingkungan, membagikan kampanye hijau, serta membangun komunitas global yang mendukung aksi nyata.
Dengan demikian, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai ruang hiburan, tetapi juga sebagai sarana advokasi dan edukasi lingkungan.
Sebagai generasi yang memahami konsekuensi dari pilihan konsumsi, banyak anggota Gen Z mulai mengadopsi gaya hidup berkelanjutan.
Mereka memilih menjadi green consumer, yakni konsumen yang mempertimbangkan dampak ekologis dari barang dan jasa yang dibeli.
Misalnya, mereka cenderung memilih produk berlabel ramah lingkungan, mengurangi konsumsi fast fashion, serta beralih ke transportasi rendah emisi atau produk lokal dengan jejak karbon lebih kecil.
Selain itu, sebagian dari mereka aktif mengampanyekan gaya hidup minim sampah (zero waste) serta mendukung kebijakan lingkungan melalui petisi daring maupun partisipasi dalam forum publik.
Riset First Insight (2023) menunjukkan bahwa 62 persen konsumen Gen Z bersedia membayar lebih untuk produk yang ramah lingkungan atau diproduksi secara etis.
Temuan ini memperlihatkan bahwa pola konsumsi mereka tidak semata didorong oleh selera, melainkan juga oleh kesadaran moral dan kepedulian sosial.
Mereka cenderung mendukung merek yang menerapkan prinsip sustainable production, yaitu proses produksi yang memperhatikan dampak lingkungan sejak tahap bahan baku hingga distribusi.
Sebaliknya, produk dengan jejak karbon tinggi cenderung mereka hindari karena dinilai berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca dan pemanasan global.
Peran Gen Z juga tampak dalam dunia kewirausahaan.
Tidak sedikit anak muda yang merintis usaha kecil dan menengah dengan fokus pada produk ramah lingkungan.
Sebagian mengembangkan bisnis daur ulang pakaian berbahan bekas, sementara yang lain memproduksi makanan organik lokal dengan kemasan yang lebih sederhana dan minim plastik.
Dengan demikian, mereka tidak hanya mendorong perubahan pola konsumsi, tetapi juga turut menggeser praktik pasar ke arah yang lebih berkelanjutan.
Selain melalui pola konsumsi dan kewirausahaan, keterlibatan Gen Z terlihat jelas dalam kampanye dan aksi kolektif yang menuntut tanggung jawab para pemimpin dunia terhadap krisis iklim.
Tokoh muda seperti menjadi representasi kuat semangat generasi ini.
Melalui konsistensi dan keberaniannya, ia berhasil meningkatkan kesadaran global mengenai urgensi persoalan lingkungan (Thunberg, 2019).
Gerakan yang ia inisiasi kemudian berkembang menjadi wadah internasional bagi jutaan pelajar dan mahasiswa untuk menuntut kebijakan iklim yang adil dan berkelanjutan (UNEP, 2022).
Setiap pekan, para peserta melakukan aksi mogok sekolah secara damai sebagai bentuk protes terhadap lambannya respons pemerintah dalam menghadapi krisis lingkungan.
Gerakan tersebut tidak hanya berkembang di negara Barat, tetapi juga menyebar ke berbagai kawasan, termasuk Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Kreativitas serta literasi digital yang menjadi ciri khas Gen Z juga dimanfaatkan untuk merancang inovasi berbasis teknologi hijau.
Sejumlah anak muda di India, misalnya, mengembangkan aplikasi Carbon Watch yang memungkinkan pengguna memantau dan mengurangi jejak karbon secara waktu nyata melalui ponsel pintar (Guardian, 2021).
Inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi alat pemberdayaan sekaligus sarana perubahan perilaku.
Selain itu, kontribusi mereka juga tampak dalam pengembangan pertanian berkelanjutan berbasis Internet of Things.
Melalui sistem pemantauan kelembapan tanah, pengaturan irigasi otomatis, serta efisiensi pemupukan, produktivitas dapat meningkat tanpa memperbesar dampak lingkungan (FAO, 2021).
Dengan kata lain, pendekatan berbasis teknologi mampu menjawab tantangan krisis pangan sekaligus menjaga kelestarian alam.
Walaupun memiliki potensi besar, Gen Z tetap menghadapi berbagai hambatan.
Keterbatasan akses pendidikan lingkungan yang komprehensif, minimnya ruang partisipasi dalam proses pengambilan kebijakan, serta kuatnya budaya konsumerisme menjadi tantangan tersendiri.
Selain itu, sebagian besar keputusan strategis masih berada di tangan generasi yang lebih tua sehingga aspirasi anak muda belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan publik.
Oleh sebab itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil untuk mendukung inisiatif yang digagas generasi muda.
Integrasi kurikulum hijau, penyediaan pendanaan bagi inovasi ramah lingkungan, serta pelibatan pemuda dalam forum nasional maupun internasional dapat menjadi langkah konkret (UNDP, 2023).
Pada akhirnya, Generasi Z menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar tren digital yang cepat berlalu.
Kesadaran ekologis, keberanian bersuara, serta kemampuan memanfaatkan teknologi menjadikan mereka aktor penting dalam mendorong perubahan.
Dengan dukungan yang tepat dan ruang partisipasi yang lebih luas, Gen Z berpotensi menjadi agen transformasi menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Daftar Referensi
- Bergs, S. (2021). Why Gen Z is more worried about climate than anyone else. BBC Future. https://www.bbc.com/future/article/20211101-why-gen-z-is-more-worried-about-climate-than-anyone-else
- Dimock, M. (2019). Defining generations: Where Millennials end and Generation Z begins. Pew Research Center. https://www.pewresearch.org/short-reads/2019/01/17/where-millennials-end-and-generation-z-begins/
- FAO. (2021). Digital agriculture: Farmers in the driver’s seat. Food and Agriculture Organization of the United Nations. https://www.fao.org
- First Insight. (2023). The State of Consumer Spending: Gen Z Shoppers Demand Sustainable Retail.
- Guardian. (2021). The world is watching: Greta Thunberg rallies school strikers around the globe. https://www.theguardian.com/environment/2021/sep/24/greta-thunberg-school-strike-climate-crisis
- Thunberg, G. (2019). No One Is Too Small to Make a Difference. Penguin Books.
- UNDP. (2023). Youth Empowerment for Climate Action. United Nations Development Programme.
- UNEP. (2022). Youth Climate Activism: Young People Making a Difference. United Nations Environment Programme. https://www.unep.org/resources
Oleh: Azzahra Zahra, Program Studi Pendidikan Agama Islam
Fakultas Tarbiyah, Universitas Raden Mas Said Surakarta, Indonesia
Email: zazzahra842@gmail.com
No. HP/WhatsApp: 0895323931060
Editor: David Yogi Prastiawan






