
TULUNGAGUNG –Urupedia.id- Dalam upaya revitalisasi tradisi intelektual di lingkungan mahasiswa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon ‘Sufi’ Jalaluddin Rumi, Komisariat UIN SATU Tulungagung, sukses menggelar agenda diskusi rutin bertajuk “DIALEKTIKA 2026: Dialog Intelektual Etika dan Logika.”
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (10/04/2026) ini mengangkat tema spesifik “Teologi Rasional Al-Kindi,” sebagai bagian dari seri diskusi edisi Pemikiran Barat dan Teologi Islam.
Acara ini diselenggarakan dengan tujuan mempertemukan diskursus filsafat klasik dengan nalar kritis mahasiswa masa kini.
Sintesis Pemikiran dan Dialektika
Diskusi ini menghadirkan dua pemantik utama yang membawakan peran unik, yakni Sahabat Rahiq Al Bachri sebagai Pembawa Kayu Bakar (Pemateri Diskursus) dan Sahabat Zidan Ainul Khobir sebagai Pembawa Korek (Pemantik).
Metafora ini digunakan untuk menggambarkan proses memantik ide yang memicu api dialektika di dalam forum.
Fokus utama pembahasan berpusat pada pemikiran Al-Kindi, sosok yang dikenal sebagai “Filsuf Bangsa Arab.” Para peserta diajak membedah bagaimana Al-Kindi menyelaraskan antara wahyu (agama) dan akal (filsafat), sebuah konsep teologi rasional yang menjadi pondasi penting bagi peradaban Islam di masa keemasan.
Membicarakan Al-Kindi (801–873 M) memang sangat relevan karena beliau adalah sosok filsuf Arab pertama yang menjembatani jurang antara wahyu agama dan logika filsafat Yunani.
Al-Kindi membagi akal menjadi empat tingkatan untuk menjelaskan bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan.
Bagi Al-Kindi, kebenaran adalah satu. Tidak ada pertentangan antara kebenaran agama (wahyu) dan kebenaran filsafat (rasio).
Beliau pemantik berargumen bahwa mempelajari filsafat hukumnya wajib karena Al-Qur’an sendiri memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya demi memahami ciptaan Tuhan.
Singkatnya, inti dari hasil diskursus konsep teologi Al-Kindi adalah pembelaan iman melalui logika.
Beliau ingin menunjukkan bahwa intelektualitas bukanlah musuh iman, melainkan alat terbaik untuk mengagumi keesaan Tuhan secara lebih mendalam.
Urgensi Nalar Kritis di Era Kontemporer
Ketua PMII Rayon Jalaluddin Rumi, Sahabat Gading, menyatakan bahwa pemilihan tema Al-Kindi bukan tanpa alasan.
Di tengah arus informasi yang disruptif, mahasiswa dituntut memiliki ketajaman logika dan kemapanan etika.
“Dialektika ini adalah ruang untuk menguji gagasan. Kami ingin kader PMII tidak hanya mahir secara organisatoris, tetapi juga memiliki kedalaman filosofis melalui kajian Teologi Islam yang rasional dan metodologis,” ujarnya.
Kegiatan yang dimulai pukul 15.30 hingga 18.00 WIB ini berlangsung secara interaktif di Keraton Rumi.
Peserta yang hadir menunjukkan antusiasme tinggi, terlihat dari bobot pertanyaan yang mengeksplorasi relevansi pemikiran Al-Kindi dalam menjawab tantangan sekularisme dan radikalisme modern.
Komitmen Akademis
Acara ditutup dengan semangat “Dzikir, Fikir, Amal Sholeh,” yang mempertegas identitas PMII sebagai organisasi yang menyeimbangkan spiritualitas, intelektualitas, dan aksi nyata.
Melalui forum-forum seperti Dialektika, PMII Rayon ‘Sufi’ Jalaluddin Rumi berkomitmen untuk terus menjadi episentrum kajian pemikiran di lingkungan UIN SATU Tulungagung.
Oleh: Haryo Kumboyono
Editor: Krisna Wahyu Yanuar







