EsaiNasional

Merajut Eksistensi: Ketika Perempuan Berdiri Sebagai Subjek

×

Merajut Eksistensi: Ketika Perempuan Berdiri Sebagai Subjek

Sebarkan artikel ini

Dekonstruksi Stigma Menuju Subjektivitas: Relevansi "Women Support Women" dalam Pemikiran Simone de Beauvoir

Dewasa ini relasi gender telah memasuki era post feminisme dimana perempuan seharusnya sudah merdeka sepenuhnya dari belenggu budaya patriarki dan perlakuan sosial yang tidak ramah pada hak-hak perempuan.

Masyarakat modern, dengan kemudahan informasi dan pergeseran pola pikir, perlahan mulai berpihak pada hak-hak perempuan tanpa harus memusuhi laki-laki. Keduanya dipandang memiliki hak dan kewajiban setara sebagai manusia seutuhnya. Perempuan yang tadinya hanya dianggap sebagai objek sekarang menjadi subjek, yang semula dianggap “liyan” (the Other) kini mulai dipandang sebagai bagian penting dari kehidupan.

Dalam sudut pandang filsafat eksistensialisme Simone de Beauvoir, kehidupan yang otentik (authentic life)—yakni menjadi diri sendiri yang nyata—hanya akan terwujud jika seseorang bertindak sebagai subjek dalam kehidupannya, bukan sekadar objek.

Bayang-Bayang Budaya dan Hambatan Eksistensial

Namun demikian, adanya perbedaan anatomi dan biologis antara laki-laki dan perempuan yang sudah sangat jelas dan bersifat given (pemberian), terkadang memunculkan perdebatan yang bersumber dari seperangkat konsep budaya yang dibentuk oleh masyarakat. Konsep itu dikenal juga dengan istilah stereotype yang melekat pada perempuan. Diantaranya perempuan sering dinilai terlalu emosional akibat fluktuasi hormon, dianggap kurang logis, sehingga tidak layak menduduki posisi strategis. Padahal, secara substansial, perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang setara.

Jika ditarik ke dalam kearifan lokal Nusantara, istilah “wanita” sebenarnya menyimpan filosofi kepemimpinan yang agung: wani ditata (berani diatur), wani nata (berani mengatur), dan wani ing tata (berani berekspresi dengan bermartabat). Ini membuktikan bahwa kapasitas kepemimpinan dan kemandirian perempuan bukanlah hal baru. Namun, hambatan eksistensial itu tetap nyata, terkungkung oleh norma sosial yang masih bias gender.

Kegelisahan eksistensial ini muncul ketika perempuan terbentur oleh stigma yang mengakar. Inti dari feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir adalah tentang bagaimana perempuan bisa hadir dan hidup untuk menemukan makna secara otentik tanpa terkungkung oleh budaya patriarki dalam aspek ekonomi, politik, dan sosial.

Labirin Modern: Antara Kapitalisme dan Paradoks Pendidikan

Perempuan hari ini masih harus menghadapi labirin tuntutan sosial yang melelahkan. Mulai dari tuntutan penampilan fisik, seorang perempuan seharusnya tampil good looking, cantik, yang standarisasi cantik di dunia modern ini sudah dipelintir oleh nilai-nilai kapitalisme yang brutal. Yang kembali mereduksi eksistensi mereka dari subjek menjadi sekadar objek.

Masyarakat kerap menjadikan penampilan fisik sebagai tolok ukur utama dalam memperlakukan orang lain. Standar kecantikan yang sempit ini membuat perempuan yang dianggap ‘tidak sesuai’ sering kali harus menerima perlakuan diskriminatif di ruang sosial.

Di era modern yang serba cepat ini, perempuan didorong untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Namun, langkah mereka kerap dibayangi oleh paradoks sosial. Ketika seorang perempuan tumbuh menjadi sosok yang vokal, berpendidikan, dan berprestasi, masyarakat dengan mudah melabelinya “terlalu tinggi” untuk dinikahi, seolah pencapaiannya adalah sebuah kesalahan. Ruang gerak mereka di dunia karier pun tak sepenuhnya merdeka; di balik kebebasan yang diberikan, masih tersimpan pagar pembatas berupa ketimpangan dan subordinasi pada posisi-posisi tertentu.

Dalam dinamika sosial dan rumah tangga, perempuan sering kali dipaksa meredupkan potensinya agar harga diri laki-laki sebagai provider tetap tampak dominan. Konstruksi keliru ini mengakar di masyarakat, melahirkan anggapan bahwa perempuan harus selalu berada di bawah subordinasi laki-laki. Padahal, esensi kemanusiaan mengajarkan sebaliknya, perempuan yang baik diciptakan untuk laki-laki yang baik pula, dan ujian kemuliaan seorang laki-laki terletak pada cara ia memuliakan perempuannya.

Di sisi lain, stabilitas mental perempuan kerap direduksi dan dicap sebagai kelemahan akibat fluktuasi hormon semata. Stigma ini tentu keliru besar. Jika ditelaah lebih dalam, perempuan justru memikul beban psikis dan pikiran yang luar biasa berat. Mereka dituntut untuk menjadi support system yang kokoh bagi pasangan, keluarga, dan anak-anaknya.

Solidaritas Mikro: Dari Cermin Kejujuran hingga Jejaring Kolaborasi

Seorang perempuan yang cerdas dan bijaksana tentu akan memposisikan dirinya sebagai kawan, partner, dan penyemangat bagi sesamanya. Ia tidak memandang perempuan lain sebagai saingan, sibuk membandingkan pencapaian, atau meremehkan perjuangan orang lain demi mengunggulkan diri sendiri. Sebaliknya, ketika melihat kekurangan pada sesamanya, ia hadir sebagai cermin yang jernih—bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membantu merefleksikan diri tanpa merusak jati diri mereka. Dengan kerendahan hati, ia mengulurkan tangan untuk merangkul setiap asa, atau sekadar menjadi pendengar setia bagi suara-suara yang kerap diabaikan dunia.

Dalam kaitannya dengan aktualisasi diri, dukungan sesama perempuan berdampak langsung pada stabilitas mental, merangsang daya pikir kreatif-inovatif, serta menumbuhkan energi positif yang masif. Dengan sokongan moral ini, perempuan akan semakin berdaya untuk berekspresi, bersuara, dan bergerak secara otentik sebagai subjek yang merdeka atas kehidupannya sendiri.

Menuju Perubahan Kolektif yang Berkelanjutan

Keberanian perempuan untuk mengaktualisasikan diri bukan sekadar kemenangan pribadi, melainkan pintu pembuka bagi terwujudnya kebaikan kolektif. Ketika beban-beban diskriminatif terangkat oleh kuatnya solidaritas, perempuan dapat melangkah dengan bebas dan penuh tanggung jawab. Hasilnya, syiar kebaikan, dakwah sosial, dan kerja-kerja kemanusiaan akan teroptimalisasi. Langkah mereka yang kian ringan akan menjelma menjadi gelombang perubahan yang membawa maslahat secara berkelanjutan.

Oleh karena itu, sangat perlu adanya aksi berupa dukungan untuk menyelamatkan banyak perempuan yang terhimpit rintangan stereotype sosial yang melingkupinya, bangkit lebih kuat dan mampu mengaktualisasi diri dengan berani dan lantang. Kekuatan dukungan antarperempuan menjadi tanggung jawab yang tidak hanya dipikul pada perempuan itu sendiri, tetapi juga pada manusia di sekitarnya yakni keluarga dan masyarakat secara luas demi membangun peradaban yang berkeadilan.

Aqilatuz Zakiyah, S.Ag, mahasiswa pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta program studi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Tertarik pada kajian terkait isu gender kontemporer dan studi Al-Qur’an. Telah menerbitkan artikel jurnal terindeks Sinta dan terlibat dalam penulisan beberapa buku bunga rampai tafsir Al-Qur’an serta antologi cerpen dan memoar nasional. Nomor WhatsApp (085720265434), Email aqilazakia43@gmail.com, LinkedIn (Aqilatuz Zakiyah).

Advertisements
Index