FeatureNasional

Rekaman Hampir Seabad Kembali Bersuara, Masyarakat Flores Hidupkan Lagi Ingatan Leluhur

×

Rekaman Hampir Seabad Kembali Bersuara, Masyarakat Flores Hidupkan Lagi Ingatan Leluhur

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan NTT

Kupang –Urupedia.id- Suasana ruangan mendadak hening ketika sebuah rekaman lagu tua mulai diperdengarkan.

Suara yang direkam hampir satu abad lalu itu seolah membawa peserta kembali ke masa silam. Tak lama kemudian, beberapa orang saling berpandangan dan tersenyum. Mereka mengenali lagu tersebut.

Bukan hanya bahasanya, mereka juga mengetahui dari daerah mana lagu itu berasal, kapan biasanya dinyanyikan, siapa yang membawakannya, hingga makna budaya yang tersimpan di balik setiap syairnya.

Momen itu menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam Talkshow dan Workshop Pengarsipan “Jejak Bunyi dan Sejarah: Pengalaman Membaca dan Membuat Arsip Musik, Tari, dan Syair di Nusa Tenggara Timur” yang diselenggarakan Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) bersama Universitas Amsterdam dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kupang, 27–28 Juli 2026.

Rekaman yang diperdengarkan merupakan koleksi etnomusikolog Belanda Jaap Kunst yang merekam kehidupan masyarakat Flores pada 1930. Selama puluhan tahun arsip suara tersebut tersimpan di Universitas Amsterdam sebelum akhirnya kembali diperdengarkan kepada masyarakat yang mewarisi tradisi asalnya.

Workshop menghadirkan anggota komunitas Lamaholot di Kupang untuk mendengarkan kembali lagu-lagu yang direkam di Riangkroko, Lewoloba, dan Tengahdai. Menariknya, peserta tidak hanya mampu mengenali bahasa dan asal lagu, tetapi juga menjelaskan konteks sosial dan budaya yang menyertainya.

Diskusi kemudian berkembang ketika film dokumentasi yang direkam pada masa yang sama turut diputar. Berbagai cerita mengenai ritual adat, pembagian tanah, panen, pembangunan rumah, hingga prosesi perkawinan kembali muncul melalui ingatan para peserta. Mereka bahkan mengusulkan nama-nama tokoh di Flores yang dinilai dapat membantu menghubungkan arsip tersebut dengan masyarakat di kampung asalnya.

Di titik inilah arsip tidak lagi sekadar menjadi dokumen sejarah. Ingatan masyarakat melengkapi bagian-bagian yang tidak pernah tercatat ketika rekaman itu dibuat hampir seratus tahun lalu.

Associate Professor bidang Cultural Musicology Universitas Amsterdam sekaligus kurator Koleksi Jaap Kunst, Dr. Barbara Titus, mengatakan bahwa digitalisasi bukanlah tujuan akhir dalam pelestarian arsip budaya.

“Digitalisasi hanyalah langkah pertama. Arsip menjadi hidup ketika kembali bertemu dengan orang-orang yang masih mengenali bahasa, syair, musik, dan tradisi yang melahirkannya,” ujarnya.

Barbara menjelaskan, hasil restorasi rekaman, foto, dan film Jaap Kunst kini dapat diakses publik melalui Jaap Kunst Hoek di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT. Namun menurutnya, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai ketika arsip tersebut benar-benar kembali ke desa-desa tempat rekaman dibuat.

Pendekatan serupa sebelumnya telah dilakukan Barbara di Nias pada 2025 melalui program repatriasi arsip suara dan visual kepada masyarakat yang menjadi pewaris tradisi. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika salinan rekaman suara diserahkan langsung kepada keturunan para pelaku hoho yang direkam hampir seabad lalu.

“Penyerahan file arsip suara ini adalah esensi sejati dari repatriasi, yaitu mengembalikan warisan langsung kepada masyarakat sumber, melampaui batas-batas institusi, dan memberikan akses seluas-luasnya agar masyarakat bisa kembali mendengar suara-suara leluhur mereka yang telah lama terpisah,” kata Barbara.

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT, Prisila Q. Parera, menegaskan bahwa kekayaan budaya NTT yang tersebar di Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, hingga Sabu Raijua merupakan identitas yang harus dijaga bersama.

Menurutnya, arsip memiliki peran penting bukan hanya sebagai penyimpan informasi, tetapi juga sebagai bukti autentik perjalanan sejarah sekaligus sumber pengetahuan bagi generasi mendatang.

“Arsip bukan hanya menyimpan informasi, tetapi juga menjaga identitas suatu masyarakat. Arsip menjadi bukti autentik perjalanan sejarah sekaligus sumber pengetahuan bagi generasi yang akan datang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, banyak pengetahuan budaya lisan berisiko hilang apabila tidak segera didokumentasikan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, komunitas budaya, seniman, media, dan masyarakat menjadi sangat penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.

Pengalaman di Kupang memperlihatkan bahwa sebuah arsip tidak hanya menyimpan suara masa lalu. Ketika diperdengarkan kembali kepada para pewaris tradisi, arsip mampu membangkitkan ingatan kolektif, menghidupkan kembali pengetahuan yang nyaris terlupakan, sekaligus memperkuat identitas budaya yang tetap bertahan melintasi generasi.

Advertisements